Andayani Rhani

Jumat, 27 September 2019

Grand Mercure Harmoni
September 27, 20190 Comments
Jumpa Manis di tema Thursday Travel!

Pada kesempatan ini saya akan membagikan pengalaman sekaligus ulasan saya selama menginap di salah satu hotel bintang yang ada di Jakarta, Grand Mercure Harmoni. 

Bagai mendapat durian runtuh. Agaknya pribahasa itu sangat tepat untuk mewakili perasaan saya pada akhir bulan Februari lalu. Anak SMA ingusan seperti saya ini sangat mustahil rasanya bisa menginap di hotel bintang lima yang biaya sewa permalamnya setara dengan uang saku saya selama setengah tahun. Tapi berkat usaha dan doa dari teman dan juga orang tersayang, nyatanya hal tersebut dapat terwujudkan. Bahkan tanpa mengeluarkan uang sepeserpun alias gratisss!

Selama mengikuti rangkaian acara BINETIFEST yang diselenggarakan oleh Bank Indonesia, saya beserta dua ratus peserta lainnya berkesempatan menginap di hotel yang mengusung tema ontentik ini.

Lokasi
🌟🌟🌟🌟🌟

Beralamat di Jl. Hayam Wuruk membuat hotel ini tergolong berada di wilayah Ring 1. Letaknya sangat strategis, dekat dengan istana kepresidenan, kantor pemerintahan, kedutaan besar, pusat perbelanjaan dan tempat strategis lainnya. 

Jika malas keluar hotel, kita bisa memesan makanan yang disediakan hotel. Namun, jika khawatir dengan harganya yang kurang bersahabat kalian bisa memilih delivery order. Dan jika mau berjalan-jalan sebentar kalian bisa mampir ke Gajah Mada Plaza yang ada di sebrang hotel dengan jembatan layang.

Dengan tempat yang indah dan nyaman, hotel ini mamanjakan para tamunya dari awal menginjakan kaki sampai titik pijakan terakhir akan pergi. Saat pertama kali saya sampai di lobi, kesan ramah dan profesional sudah ditampilkan para staff. Mereka menyapa dan tak pernah absen untuk melemparkan senyum kepada para pengunjung. Meski harus mengantre saat cek in, pengunjung tetap bisa bersantai dengan menikmati suasana khas lobi sambil menempatkan diri di beberapa sofa empuk yang tersedia. Selain itu, selama mengantre para pengunjung juga diberi minum jus jeruk. Hmm.. segar.

Ada 6 buah lift di hotel ini. Jadi, sangat jarang sekali waktu terbuang untuk mengantre. Dari segi ruang, lift di hotel ini cukup luas sehingga bisa menampung banyak orang dan nggak perlu takut  berdesakan apalagi kecopetan. Kata terkahir saya tadi kemungkinan terjadinya 24/7 alias mustahil banget gaez.

Room
🌟🌟🌟🌟

Saat pertama kali membuka pintu, lemari panjang di sisi kanan membuat saya bernafas lega. Akhirnya, saya nggak harus berlama-lama menggendong tas panjang seberat tujuh kilo ini. Sejurus kemudian saya meninggalkan beban yang sedari tadi menempel seperti parasit dan beralih untuk mengeksplor ruangan.

Ternyata saya mendapatkan kamar single bed. Kesan pertama kali yang muncul dalam benak saya saat melihat kamar ini adalah perfect! Saya nggak bisa berkata-kata lagi. Agak berlebihan memang, maklum orang desa, eh. Tetapi memang seperti itu nyatanya. Kamar ini sangat bersih, bahkan setiap sudut yang saya hampiri nyaris tidak ada debu atau kotoran sedikitpun. Tempat tidur tertata dengan rapih. Perpaduan warna coklat, orange dan putih membuat kamar ini bernuansa kalem. Terlebih lagi aroma kamar yang sangat khas membuat saya betah berlama-lama di kamar ini. Rasanya pengen balik ke sana lagi hahahaha.... Bahkan saya punya cita-cita lho ingin membuat kamar impian yang persis seperti kamar ini hahahaha... mulai dah, ngaco.

Memang rasanya nggak salah kalau hotel ini dapat bintang lima.


Next yang akan saya bahas adalah fasilitas kamar mandi yang sangat lengkap. Pengunjung nggak perlu repot-repot membawa perlengkapan mandi karena mulai dari ujung rambut sampai ujung kaki semua peralatan sudah disediakan. Perlengkapan tersebut terdiri dari shamphoo, sabun, conditioner, pelembab kulit, nail kit dan lain-lain. Di sudut kiri cermin juga ada pengering rambut yang bisa digunakan setelah keramas.

Pengunjung juga bisa memilih akan mandi menggunakan air panas, dingin atau sedang. Kloset dan area shower dipisahkan oleh wastafel. Nah, di bagian wastafel ini dilengkapi oleh lampu-lampu yang lightingnya sangat uwu sekali. Ala-ala tumblr dan isntagramable buanget. Cocok buat selfie,  sayaberani jamin setiap cewek pasti bakal betah kalau disuruh selfie di tempat ini hahaha... Kalau kalian lihat fotoku di post ini. Itu adalah satu dari puluhan bukti cekrek kemukhtahiran lightingnya haha, aduh ngapa jadi buka kartu yak.

Nggak jauh berbeda dari hotel lainnya, hotel ini juga dilengkapi dengan :
  • Mini bar paket komplit (kopi, teh, creamer, gula putih, gula merah, dan teman-temannya)
  • Brangkas untuk menyimpan barang-barang berharga. Brangkas ini letaknya ada di bawah mini bar. 
  • Kulkas mini
  • TV LED yang berhadapan langsung dengan ranjang
  • dan AC juga tentunya
Tetapi ada satu hal yang membuat saya sedikit terkejut gaes, eh kayaknya bukan terkejut tapi apa ya, mungkin lebih tepatnya speechless untuk kedua kalinya. Saat dalam metode eksplore, saya nggak sengaja menemukan kitab Suci Al Quran di dalam loker nakas sebelah ranjang. Saya sangat bersyukur sekali karena persiapan yang mendadak dan tentunya terburu-buru membuat saya nggak sempat membawa Al Quran dari rumah.

Setelah merasa cukup mengeksplore, sekarang saatnya Dora istirahat. Saya memilih menghabiskan waktu senja dengan kopi pahit seraya membuang pandang pada pemukiman padat yang memenuhi tanah Jakarta.

Fasilitas
🌟🌟🌟🌟

Hotel ini memiliki 7 ruang pertemuan dengan berbagai ukuran dan kapasitas tempat duduk yang berbeda-beda. Mulai dari 30 hingga 1000 orang. Sangat cocok sekali digunakan untuk pertemuan, seminar, kongres atau acara besar lainnya.


Pilihan jenis kamarpun beragam, ada tipe superior room, deluxe room, dan bussines suite.

Saat ada waktu luang di malam hari, saya beserta rombongan teman-teman dari Semarang melakukan tour ke lantai lima. Menurut saya, di sana adalah jantung dari tempat ini. Terdapat area SPA, fitnes,  kolam renang yang sangat jernih, sekaligus studio band yang siap memanjakan pengunjung.

But NOTED!!!

Untuk kalian yang punya mata sensitif saya himbau untuk tidak berenang di kolam renangnya apalagi tanpa memakai kacamata renang. Sebenarnya saya sendiri sempat kecolongan. Saya pikir air kolam yang sangat jernih itu bisa bersahabat. Tapi kenyataan yang saya dapat setelah renang, penglihatan saya benar-benar buram. Seperti ada kabut yang menghalangi pandangan. Sayapun sampai nggak bisa membaca kalimat-kalimat yang biasanya tertulis di lingkungan sekitar. Setiap huruf yang saya lihat berubah menjadi dua seperti memiliki bayangan. Saya sangat panik saat itu, bahkan setelah saya buat untuk istirahat (tidur) pun masih buram. Setelah saya cek ternyata kaporit yang ada di kolan itu terlalu banyak dari kolam-kolam yang saya biasa gunakan untuk renang. Tapi saya bersyukur, kurang dari 24 jam mata sudah bisa jernih dan kembali normal berkat bantuan tetes mata dari teman sekamar saya. Terimakasih kak widya ^.^

Pelayanan 
🌟🌟🌟🌟

Pengunjung yang tidak membawa banyak baju nggak perlu cemas akan kehabisan baju karena hotel ini menyediakan penjualan baju di lantai satu, sekiat lobi serta terdapat juga jasa laundry gratis setiap harinya untuk para pengunjung dengan syarat satu stel baju saja yang bisa di laundry secara gratis, kemudian kalau baju nambah? ya tentu tambah biaya lagi hehe...

 Di hari selanjutnya, saya berkesempatan untuk bertemu teman-teman dari penjuru negeri dan sarapan satu meja dengan mereka. Setelah janjian dengan salah satu teman, saya meluncur ke lobi untuk mengisi perut. Menu sarapan yang disediakan hotel ini sangat-sangat-sangat banyak, sangatnya pangkat tiga pokoknya. Mulai dari beraneka ragam jenis nasi, salad, hingga sushi semuanya ada dong. Sampai saya tuh kelamaan bukan karena makan tapi binggung mau mulai dari yang mana duluan . Memang saya ini nggak pinter milih guys fufufufu -eh malah curhat.


But my favorito menu adalah nasi kebuli, sushii roll dan daging sapi asapnya. Setiap pagi saya juga nggak pernah absen minum jamu di kala waktu sarapan tiba. Tetapi, dari analisis saya khususon di hari Minggu, ibu-ibu penjual jamunya tidak ada 😭

MEMANG PENGALAMAN TAK TERLUPAKAN. BI THE BEST YAAMPUN CAPSLOKKU JEBOL. SEMOGA TAHUN INI MASIH ADA DAN BISA IKUT EVENT INI LAGI, AAMIIN.

Thank U Bank Indonesia dan Grand Mercure  
I hope, I can visit this place again :) -aamiin

Segitu dulu ulasanku tentang hotel berbintang kali ini ya,  see you on next post guys! ^•^
Reading Time:

Minggu, 15 September 2019

Cerah Seketika dengan Olay Natural White Pinkish Cream
September 15, 20190 Comments
Merhabaa! 
Jumpa lagi di Diary Rhani. 

Berawal dari satu bulan yang lalu saat kehabisan produk day krim. Saya yang sedang belanja mingguan nggak sengaja melihat promo salah satu krim produk ternama. Dengan harga yang super murce sekali (waktu itu 15 ribuan kalau nggak salah) dari harga normal sekitar 20 ribuan, produk ini berhasil menarik perhatian saya. 

Awalnya saya sedikit ragu untuk membeli. Karena saya nggak sengaja dengar kabar burung dari teman kalau sering gonta-ganti skincare itu nggak baik dan bisa bikin wajah rusak. Aww :"( Seketika tangan jadi maju mundur cantik, ragu. Ujung-ujungnya galau, bergelut dengan hati. Antara beli-engga, beli-engga. 

Ehh saya ingat kalau produk Olay itu terkenal bagus. Sebelumnya saya juga pernah pakai serum dan krim malam dari Olay yang memang super mantul sekalee hasilnya. Akhirnya, sayapun memutuskan untuk mencoba. 

So, pada kesempatan kali ini saya akan mereview pengalaman saya selama satu bulan menggunakan produk Olay Natural White Pinkish Cream ini. 


Sebelum melangkah lebih jauh kita kenalan dulu yuk! Karena kata pepatah tak kenal maka tak sayang, eh...

PACKAGING
Rate : 🌟🌟🌟🌟☆

Dari segi packaging produk ini disa dibilang sangat unyu sekali. Warnanya pink-putih. Ukurannya yang mini membuat krim ini mudah dibawa dan nggak memakan banyak tempat penyimpanan. 


Tutupnya berbentuk ulir. Jadi, sedikit nggak friendly kalo digunakan saat genting atau terburu-buru. 

Fyi, krim ini punya 2 jenis kemasan. Ada kemasan gentong yang besar dengan isi 40g dan kemasan travel size isi 20g yang saya beli ini. 

Klaim dan ingredients dari produk ini bisa lihat foto di bawah ini yaa... 


TAKSTUR 
⭐⭐⭐⭐⭐

Krim ini berwarna putih. Namun setelah diaplikasikan akan jadi transparan dan menyatu sama warna kulit.

Teksturnya pas banget, nggak terlalu lengket juga nggak terlalu cair. Krim ini termasuk krim yang mudah banget di blend. Hal yang paling aku suka adalah  nggak bikin wajah aku berminyak dan komedoan. 


FINSIH
Rate : ⭐⭐⭐⭐☆


Finish dari krim ini di kulitku sedikit mate. Nggak bikin berminyak dan nggak bikin kering juga. 

Setelah menggunakan krim ini wajahku terlihat lebih cerah, fresh, dan nggak kusam. Sesuai dengan klaimnya -natural white- krim ini memang bisa memutihkan secara instan bahkan sejak olesan pertama. Meskipun begitu, krim ini nggak bikin wajah kelihatan dempul dengan warna putih abu-abu kok. 

Di covernya ada kandungan uv filternya, tapi sayang nggak dikasih tau berapa besar spfnya. 

Meskipun punya berbagai macam kelebihan, ternyata krim ini belum punya label halal yang jelas. Kandungan alkohol dan parfum mungkin bisa membuat beberapa jenis kulit mengalami reaksi tertentu. Tapi alhamdulillah, meski kulit ini tergolong jenis sensitif nggak terjadi reaksi apa-apa. 

Selain itu, krim ini juga nggak melembabkan. Jadi aku rekomendasiin kalian buat pake mosturaizer dulu sebelum apply. Krim ini juga nggak bisa menyamarkan bekas beruntusan atau noda hitam secara maksimal dan lagi-lagi kalian harus pake fondi atau concelar untuk menutup kekurangan dengan sempurna. 

Terimakasih sudah berkunjung,  see you next post gais! ^•^

Reading Time:

Jumat, 16 Agustus 2019

Arah Langkah
Agustus 16, 20190 Comments

Saat ku arahkan langkah untuk bersua denganmu di utara
Kau justru beralih ke arah tenggara
Kenapa tak berbalik arah saja?
Bukankah itu akan memudahkan kita untuk lebih cepat bertemu?
Catatan putih mengalun lembut dalam fikirku
Aku tak ingin menciptakan catatan gelap terhadap tindakanmu
Tidak, aku percaya bahwa dirimu tak ubahnya seperti langit
Selalu setia kepada mataharinya

Waktu kian bertambah,
Begitu pula dengan langkah
Sejauh jarak yang telah berlalu,
Kau tak pernah menoleh sedikitpun ke arahku

Bahkan saat langkahku terhenti,
Sebab salah satu kaki tertusuk duri
Atau saat diri ini hampir terperosok ke dalam jurang yang curam
Kau tetap acuh dengan langkahmu yang begitu angkuh

Ingin ku berlari
Namun sepasang kaki yang telah berjalan tersendat ini seakan tak pernah mau merestui
Kau selalu ciptakan jarak dimana selalu ada saja tanaman berduri
Sebenarnya apa maksud dari semua ini?
Bahkan untuk bertemu saja,
Kau harus membuatku tersakiti berkali-kali

Langit semakin gelap
Cahaya sang surya mulai meredup di ufuk barat
Saat itu jua, aku mendapatkan semua jawaban
Ternyata selama ini aku salah
Sang langit itu…
Ia tak benar-benar setia kepada mataharinya
Ada suatu waktu dimana ia hanya akan berdua bersama sang rembulan
Dipandu dengan pijaran para bintang
Dan matahari itu,
Ia hanya bisa menerima garis takdir
Sebab sekuat apapun untuk melawan
Langit tak pernah bisa ia miliki seutuhnya
Tak pernah benar-benar ada untuk selalu bersamanya.

7.8.19

 

Reading Time:

Selasa, 13 Agustus 2019

[Review] Kisah Nyata di Balik Novel Bidadari untuk Dewa Karya Asma Nadia
Agustus 13, 20190 Comments

Judul buku                      : Bidadari untuk Dewa
Pengarang                      : Asma Nadia
Tahun terbit                    : 2017
Penerbit                          : KMO Publishing
Kota                                  : Semarang
Jumlah halaman            : 528 halaman
Ukuran buku                  : 14 x 20,5 x 3.5 cm


Asma Nadia memiliki nama asli Asmarani Rosalba. Perempuan manis berkulit putih ini lahir di Jakarta tanggal 26 Maret 1972 dari pasangan Amin Usman dan Maria Eri Susanti yang merupakan seorang mualaf berdarah Tionghoa. Asma nadia memiliki seorang kakak perempuan bernama Helvy Tiana Rosa, dia juga memiliki adik laki-laki bernama Aeron Tomino.

Penulis ini aktif melakukan perjalanan baik di dalam maupun luar negeri untuk menjadi pembicara di berbagai acara. Kemampuannya yang sudah sangat diakui membuatnya menjadi salah satu tokoh yang bisa menularkan inspirasi dan ilmu terutama di bidang sastra. Bahkan pada tahun 2009 Asma melakukan perjalanan keliling Eropa untuk mengisi seminar di beberapa kota seperti Jenewa, Berlin, Roma, Manchester dan Newcastle.

Karyanya yang bernuansa islami juga hingga ada beberapa yang telah diangkat ke layar lebar memang sangat menarik. Film-film dari buku Asma yang telah menghiasi dunia seni peran di Indonesia dintaranya adalah Assalamualaikum Beijing, Emak Ingin Naik Haji, Rumah Tanpa Jendela dan Surga yang tak dirindukan.

Novel Bidadari untuk Dewa ini merupakan novel ke-54nya yang terinspirasi dari realita kehidupan seorang Dewa Eka Prayoga yang dikenal sebagai seorang pebisnis muda. Dia memiliki julukan “Dewa Selling”,  karena kepiawaiannya dalam berjualan. Memang tak mengherankan bila omset bisnisnya saat ini sudah mencapai milyaran rupiah perbulannya. Namun, yang sangat istimewa dari Kang Dewa adalah sifatnya dan pembawaannya yang tetap low profile. Jauh dari kesan glamor, gaya bicaranya sangat gaul dan anak muda sekali, tak mengada-ada, dan apa  yang disampaikan adalah hasil dari pengalaman pribadinya. Unsur agama sangat lekat dalam kata-kata dan keseharian Kang Dewa, mungkin inilah yang akhirnya menjadikannya sebagai sosok idola yang banyak menginspirasi para pemuda dan pebisnis ataupun orang-orang yang baru mulai terjun dalam dunia bisnis termasuk penulis sendiri tentunya.

Di usianya yang belum genap dua puluh tahun, dia sudah mampu menghasilkan uang sebanyak 1 miliar. Namun nasib malang tak dapat Dewa tendang. Hutang piutang sebesar 7,7 miliar akibat dikhianati rekan bisnisnya mau tak-mau harus menjadi tanggungannya. Caci maki, hujatan bahkan ancaman dari para investor terus menghantui Dewa dan keluarga kecilnya setiap hari. 

Sebelum terlalu jauh menyelami dunia keputusasaan, dia teringat akan bidadarinya yang tengah mengandung pangerannya. Sosok Dewa kembali bangkit. Meski harus tertatih-tatih mengais pundi-pundi rupiah dengan berjualan ceker setan buatan istrinya, serta menulis sebuah buku yang berisi tips-tips menjadi wirausahawan sukses.

Tak lama berselang, saat karirnya kembali memuncak sebuah godaan kembali hadir dalam hidupnya. Cinta pertama di masa lalunya kembali hadir dan hampir memporak-porandakan keluarga kecilnya. Tetapi kekuatan cinta dan perjuangan mampu membuat Dewa mempertahankan kebahagiannya. Kehidupannya terus berlanjut hingga suatu ketika sebuah penyakit langka menyerangnya. Penyakit itu adalah GBS (Guillain Barre Syndrome) yang hampir saja merenggut nyawanya.

Di ujung ujian yang hampir memadamkan, Dewa kembali bangkit dan berjuang layaknya Hercules yang mengamuk. Bukan kemarahan atau racun mematikan yang di keluarkannya, melainkan semangat kekuatan sujud dan penyerahan diri secara total urusananya kepada sang Ilahi.

Buku tertebal yang ditulis oleh Asma Nadia ini memiliki segudang keunggulan, di antaranya yakni, telah mendapatkan cap best seller, cerita yang sangat inspiratif dan memotivasi, di isi oleh problematika kehidupan yang kompleks dan sangat akrab dengan masalah di lingkungan sekitar, pilihan bahasa yang dipilih penulis berhasil mengobrak-abrik perasaan saya sebagai pembaca. Seringkali saya harus menjeda acara membaca saya karena terlaru larut dalam perasaan hingga tidak sadar jika pelupuk mata sudah dipenuhi oleh embun air mata, dan yang paling saya suka adalah penulis berhasil memadukan sebuah kisah nyata dengan mitologi para dewa dan dewi Yunani.

            Hampir tidak ada kekurangan dalam novel ini. Hanya saja banyaknya halaman buku yang lebih dari lima ratus lembar membuat orang yang tidak terbiasa dan tidak hobi membaca berfikir dua kali saat pertama kali melihat untuk membacanya.

            Namun secara keseluruhan, buku yang sangat luar biasa dan menginspirasi ini sangat layak untuk dibaca oleh masyarakat umum dari semua kalangan, terutama bagi para muda-mudi agar dapat belajar ketabahan dan kegigihan dalam menjalani dunia usaha serta dunia rumah tangga yang sesungguhnya. Khususnya bagi pasangan baru agar belajar tentang arti tanggung jawab yang sebenarnya.

Reading Time:

@andayanirhani