Di era milenial saat ini, produk kecantikan khususnya make up berkembang dengan sangat cepat.  Hal itu terbukti oleh banyaknya brand kosmetik lokal hingga internasional yang muncul dan membanjiri pasar dalam negeri. Bagi remaja putri generasi milenial, make up bukanlah hal yang baru. Kehadiran kosmetik dan skin care seolah seperti kebutuhan pokok untuk menunjang penampilan mereka setiap hari. Kemunculan Beauty Vlogger di berbagai jenis media sosial juga menjadi salah satu pendorong minat remaja putri untuk belajar tentang make up.

Hampir semua wanita tentu ingin memiliki penampilan wajah yang indah, sempurna dan menawan. Dan dengan menggunakan make up, berbagai kekurangan yang mereka miliki seperti wajah berjerawat, pori-pori besar hingga kulit wajah tidak merata dapat teratasi dengan mudah.

Namun tahukah kalian tentang 3 gaya make up yang sedang trend di kalangan generasi milenial saat ini?

Yuk simak jawabannya di bawah ini!

  • Make Up Natural
Source : www.instagram.com/wirdamansyur

Negara gingseng, Korea merupakan salah satu negara yang terkenal dengan gaya riasan-nya yang natural. Jenis kulit yang putih dan bersih pun mendukung wanita Korea tampil sempurna dengan gaya make up naturalnya. Gaya ini sangat populer di kalangan remaja putri karena looknya yang terlihat sangat sederhana. Bahkan saking sederhananya, pengguna riasan ini sering dianggap tidak menggunakan make up.
Ciri khas dari riasan ini adalah penggunaan warna yang natural seperti warna peach dan orange. Serta penggunaan obre lips.

  • Make Up Bold
Source : www.instagram.com/tasyafarasya

Lulu Farasya, wanita yang dikenal dengan Tasya Farasya ini sangat identik dengan make up bold nya. Pilihan warna nude dan kesan berani membuat wanita keturunan Arab ini terlihat cantik dan berkarisma.
Ciri khas dari riasan ini adalah fokus menonjolkan bentuk mata dan alis. Keseluruhan make up ini biasanya didominasi oleh warna nude dan penggunaan glitter pada bagian kelopak mata.

  • Make Up Flawless
Source : www.instagram.com/asyalliee

 adalah jenis gaya riasan yang sederhana dan tidak terlalu tebal dan cocok digunakan saat menghadiri acara semi formal. Dari tiga jenis gaya riasan yang aku tuliskan. Riasan ini adalah jenis make up terfavotiku, karena selain dapat menutupi pori-pori wajahku yang besar. Gaya riasan ini juga bisa membuat wajahku tampak lebih segar.

Baca juga

Ciri khas dari riasan ini adalah penggunaan blush on berwarna cerah yang mendekati bagian bawah mata, penggunaan liner putih seperti mata Berbie dan penggunaan lipstik dengan warna nude.

Itulah beberapa jenis gaya make up yang mewarnai dunia kecantikan saat ini. Mana gaya make up favoritmu guys? Kalau aku lebih suka gaya make up flawless karena kulitku yang sawo matang sering telihat aneh saat menggunakan make up natural dan aku tidak terlalu berani untuk memakai make up bold xixixi.

Terimakasih telah membaca tulisanku kali ini. Jika ada pertanyaan atau saran silahkan tulis di kolom komentar atau hubungi aku lewat email ke andayani.rhani@gmail.com
See you on next post! CMIIW ^^


Best Regards,


Awan hitam menutupi sinar rembulan. Angin kencang menerbangkan dedaunan yang jatuh dari rantingnya. Tak diperdulikannya lagi tetesan air langit yang semakin deras turun membasahi tubuh tegap Angga. Untuk sebuah perasaan yang mulai tumbuh dan seharusnya bermekaran, cuaca bukan tandingan untuk menjadi halangan. Angga tidak mau perasaan penyesalan menghantui malamnya untuk yang ketiga kalinya.

Sudah lebih dari lima puluh kali panggilannya ditolak dan rentetan pesannya diabaikan oleh Kelani. Namun anehnya gadis itu tidak memblock kontak Angga.

“Kata Udin kalau perempuan marah suka main blok-blokan.” batin Angga.

“Berarti Kelani tidak sedang marah denganku kan?” tanyanya dalam hati.

Namun semesta seolah membuat gadis itu hilang di telan bumi. Tak cukup mencoba menghubungi Kelani di dunia maya saja. Ia juga mencari sosok Kelani di dunia nyata. Dua hari penuh Angga mencari sosok Kelani di sekolah. Mencari gadis aneh itu mulai dari kelasnya, perpustakaan, semua lab, kantin, taman, ruang tata usaha, bahkan kantor juga menjadi sasaran pencariannya. Pemuda yang belum genap berusia tujuh belas tahun itu juga menyusuri seluruh koridor yang ada di sekolah setiap kali istirahat tiba. Tak diperdulikannya lagi perutnya yang berbunyi nyaring akibat kelaparan. Ia sudah seperti orang gila karena cinta.

Mungkinkah perasaannya sudah sejauh itu kepada Kelani?

“Aku tak tahu pasti. Tapi untuk saat ini, aku hanya ingin bertemu Kelani.”  jawab Angga berulang kali saat Udin menanyakan tentang perasaannya kepada Kelani.

“Hei, brotha. Sepertinya memang kau jatuh cinta kepada gadis aneh itu.” komentar Udin.

Raut wajah Angga berubah. Ada semu merah yang ia tutupi. Tetapi bagi budak cinta kawakan seperti Udin, gerak-gerik Angga sangat mudah untuk dibaca. Apalagi Angga tergolong pemuda polos yang tak memiliki pengalaman sama sekali dalam urusan perasaan.

“Tapi kan aku tidak pernah jatuh cinta, Din.” elak Angga.

“Bukan tidak pernah. Tapi belum.” kata Udin dengan santainya seraya merangkul pundak Angga.
Selama dua hari ini Yudha tidak berangkat sekolah karena mempersiapkan kegiatan festival budaya yang dilaksakan di kota Jogja. Dan selama itu pula Udin menggantikan posisi Yudha.

baca juga cerpen sebelumnya : Cerpen Sederhana Part II - Dilatasi Waktu

“Ngomong-ngomong soal jatuh cinta ya, brotha. Jatuh cinta itu tidak melulu seperti buah yang jatuh dari pohonnya. Bisa kau lihat dengan nyata dan gamblang begitu saja. Ada kalanya jatuh cinta itu seperti sebuah perpisahan. Kau akan sadar ketika orang yang kau cintai itu pergi. Persis kayak yang kau lakulan kali ini.”

Angga menatap Udin dengan tatapan yang sulit diartikan.

Beberapa saat kemudian. “Aku nggak paham maksudmu, Din.”

Udin refleks menepuk jidatnya. “Ah suatu saat nanti kau pasti ngerti. Pokoknya sekarang kita keperpus aja dah, ngadem. Toh di kelas juga jamkos kan.”

“Terus kalau kita ke perpus siapa yang cari Kelani?”

“Gadis aneh itu? Sans, brotha. Tak perlu khawatir. Aku punya banyak mata-mata. Ayo kita ke perpus!”

“Nanti aing kasih kau tips dan trik maut supaya Kelani klepek-klepek kayak ikan mujaer sekalian. Mau?”

Dengan polosnya Angga mengangguk. “Mau.”

Berkat bantuan mata-mata milik Udin. Malam itu akhirnya Angga bisa sampai di rumah Kelani. Udara dingin mulai menyergap ke dalam tubuh tegap Angga saat motornya berhenti di depan sebuah rumah jati dengan berbagai ornamen kayu yang mendominasi. Sangat khas dan berbeda dari rumah-rumah lainnya meski rumah ini berada di kompleks perumahan.

Ia memencet tombol bel yang ada di luar pagar kayu coklat beberapa kali. Pria paruh baya dengan seragam tak asing dengan tanda nama ‘satpam’ datang dan membukakan jalan bagi Angga.

“Kelaninya ada pak?”

“Masuk saja, den.” sambut pak satpam ramah.

Sesampainya di pintu utama, Angga menghentikan langkahnya. Pemuda itu merasa ragu. Ia bimbang harus bagaimana dan melakukan apa. Untuk rumah seluas ini ia tak yakin bila harus mengetuk pintu untuk memanggil pemiliknya. Tetapi tidak ada satupun tombol yang dapat ia pencet sebagai pertanda keberadaan tamu atau pendatang kepada pemilik rumah.

Pemuda itu berfikir keras kemudian mencoba berusaha dengan caranya.

“Assalammualaikum.” ujarnya seraya mengetukan cincin besi berwarna kuning keemasan yang tergantung di pintu utama.

Setelah tiga kali percobaan. Yang dinanti-nanti akhirnya tiba. Pintu jati itu akhirnya terbuka.

“Waalaikumsalam…” jawab seorang nenek dengan pakaian khas menyambutnya. Stelan kebaya dengan jarik motif tanaman berwarna coklat tua melapisi raga perempuan tua di hadapannya. Seluruh rambutnya berwarna putih.

“Permisi, nek. Maaf menganggu malam-malam. Kedatangan saya ke sini untuk menemui Kelani. Apakah Kelani ada di rumah?”

Wanita yang sudah lanjut usia itu tidak segera menanggapi pertanyaan Angga. Dilihatnya raga Angga dari ujung rambut hingga ujung kaki.

Nenek itu kemudian tersenyum lebar hingga membuat kerutan diwajahnya terlihat lebih jelas.
“Tunggu sebentar ya, cu. Biar opah panggilkan.”

Angga menatap kosong nenek yang tengah berjalan membelakanginya. Tak lama sosok Kelani muncul dari dalam. Rambut hitam lurus dengan aroma tubuh yang khas seolah menyapa Angga. Untuk beberapa saat, gadis itu membuat pandangan Angga terpana dan  membuat desiran tak tentu dalam hatinya.

“Maafkan aku, Angga.” kalimat yang terlontar dari bibir tipis Kelani membuat Angga tersadar dari lamunan.

“Eh, jangan begitu. Bukan salahmu, Kelani. Justru maksud kedatanganku kemari untuk meminta maaf kepadamu.” tutur Angga terus terang.

“Tidak, aku yang salah.” Kelani menatap lantai pualam di bawahnya.

“Tidak seharusnya aku bersikap seperti itu kepadamu. Opah sudah menceritakan semuanya kepadaku. Hanya karena saat itu aku tinggal di negeri Jiran lantas aku menganggap batik berasal dari negeriku. Semuanya sudah jelas sekarang. Batik memang warisan leluhurmu,” Angga mulai bisa bernafas lega dan tersenyum lebar mendengar pernyataan terakhir Kelani.

“Tetapi juga bagian dari warisan leluhurku.” tambah Kelani.

“Bagaimana bisa?” tanya Angga, heran.

“Tentu saja bisa. Semua opah dari opah-opahku dan atuk-atukku berasal dari Jawa. Namun karena suatu hal tertentu mereka harus tinggal di negeri sebrang. Jadi tidak salahkan jika aku menganggap batik sebagai warisan leluhurku juga? Lagipula mereka kan juga keturunan dari tanah Jawa.”

Angga tersenyum kuda. Gigi-gigi putihnya berbaris rapih. Lesung pipitnya menyeruak dari tengah pipi kanan dan kiri.

“Kau benar, Kelani. Aku setuju denganmu. Memang yang pantas disalahkan adalah opah dari opah-opahmu dan atuk dari atuk-atukmu itu.”

“Ha? Memangnya apa yang salah mereka hingga harus disalahkan?”

“Tentu saja mereka salah. Sebab telah meninggalkan negerinya hingga cucu dari cucu-cucunya saat ini tengah marah kepada seorang pemuda yang tak berdosa.”

“Hehehe, maaf..  Tapi sungguh aku tidak marah padamu.”

“Lalu yang kemarin itu kau anggap apa?” tanya Angga sambil memicingkan sebelah matanya.

“Hanya sebal.”

“Sekarang masih sebal?”

Kelani menggeleng pelan seraya tersipu.

“Yakin?”

“Heem.”  ujar Kelani sambil menyilakan rambutnya ke belakang daun telinga.

Hening melanda keduanya.

Kelani memandang Angga. “Sekarang apa?”

“Apanya yang apa?”

“Apa kau sudah memaafkanku?” tanya Kelani dengan raut muka ragu.

Angga membuang nafas perlahan. Seperti seorang yang sedang mengambil ancang-ancang panjang. Kemudian pemuda itu berkata, “Apakah aku harus memaafkan seseorang yang telah meninggalkanku sendiri tanpa permisi. Kemudian membuat malamku dihantui perasaan penuh penyesalan. Menolak panggilan dan tidak membalas semua pesanku hingga malam ini aku harus rela tubuhku basah kehujanan demi meminta maaf atas kesalahan yang tidak kuperbuat?”

Rasa sesal merasuki perasaan Kelani. Tidak seharusnya ia bersikap egois seperti itu.

“ Terlebih lagi ia telah tega membiarkanku berdiri hampir tiga puluh menit tanpa disuguhi apapun.” tambah Angga.

“Astagfirullah.”

Kelani segera masuk ke dalam rumah, tepatnya di ruang tamu. Ia segera menggendong seekor kucing berwarna abu-abu muda yang hendak meloncati vas bunga keramik besar. Angga hanya bisa melihatnya dari teras depan. Kelani kemudian berjalan kembali untuk menemui pemuda yang bertamu di rumahnya itu.

“Katty jangan suka loncat-loncat di dekat tembikar, nanti bisa pecah! Kau mau dimarahi Opah?” omel Kelani sambil mengelus kepala kucing persianya.

Tadi kau cakap apa?” tanya Kelani dengan muka polos tanpa merasa berdosa.
Detik itu juga Angga ingin sekali mengacak-acak rambut rapih Kelani. Gemas.
Angga menggaruk hidung mancungnya yang tidak gatal dua kali.

“Aku tadi bilang apakah aku harus memaafkan seseorang yang telah meninggalkanku sendiri tanpa permisi. Kemudian membuat malamku dihantui perasaan penuh penyesalan. Menolak panggilan dan tidak membalas semua pesanku hingga malam ini aku harus rela tubuhku basah kehujanan demi meminta maaf atas kesalahan yang tidak kuperbuat? Terlebih lagi ia telah tega membiarkanku berdiri hampir tiga puluh menit tanpa disuguhi apapun.” ulang Angga.

Melihat wajah Angga yang memelas saat itu membuat Kelani tersadar, “Astagfirullah… maafkan aku, Angga. Aku tidak sadar. Ayo duduk.” Kata Kelani sembari mempersilahkan Angga duduk di kursi kayu yang terletak di depan teras rumah.

“Tidak usah repot-repot.” tolak pemuda itu dengan halus.

“Ayo duduklah, kau pasti lelah. Sebentar ya aku buatkan minum. Sekali lagi maaf.” ujar Kelani.

“Tidaklah, kalau aku duduk nanti kursinya basah.”

Kelani menyernyitkan dahinya tanda tak mengerti.

“Kasihan kursinya nanti bisa masuk angin. Lagipula kau juga yang akan kerepotan nantinya.”

“Kenapa bisa begitu?”

“Karena obat tolak angin hanya ada untuk manusia. Kalau buat kursi belum ada hehehe….” Angga tersenyum jail.

Kali ini Kelani tidak bisa menyembunyikan rasa geli yang menyerang perutnya secara tiba-tiba. Dada bidang Anggapun menjadi sasarannya. Sedangkan Anggga hanya bisa pasrah menerimanya, toh pukulan Kelani berpengaruh apa-apa bagi raganya. Tetapi lebih dari cukup membuat hatinya berdebar cepat seperti pacuan kuda.

Bersama rintik hujan yang mulai menghilang Angga mengatakan, “Sudah larut malam, apa kata orang nanti kalau pemuda tampan ini berduaan dengan perempuannya hingga larut malam seperti ini.”

“Tapi kita kan tidak berduaan. Ada Katty di sini.” elak kelani.

“Iya-iya kau benar kali ini.” ujar Angga pasrah. Kantung matanya mulai terasa berat.

“Jadi selama ini aku nggak benar gitu?”

“Bukan begitu, Kelani. Tapii…”

“Tunggu-tunggu. Tadi kau bilang aku apa? Perempuannya?” tanya Kelani.

Angga hanya bisa tersenyum kuda. Pemuda itu tidak tahu harus memberi respon seperti apa. Ia takut kalau-kalau salah lagi dan munculah perdebatan kedua. Terlebih lagi Udin hanya mengajarkan tips dan trik jitu gombalnya sampai di situ.

“Intinya aku sudah minta maaf dan kaupun sudah minta maaf juga. Jadi kita impas ya. Satu sama oke!” kata Angga seraya membentuk ibu jari dan jari telunjuknya menjadi huruf O kemudian menyodorkannya ke arah Kelani.

“Lalu siapa yang salah?”
“Tidak ada yang salah, yang ada hanya kurang benar. Hehehehe… selamat malam.” pungkas Angga kemudian menjitak kepala Kelani dengan lembut, lebih tepatnya dengan sangat-sangat lembut. Kelani sendiri hampir tak bisa merasakan jitakan Angga.

Bahkan pemuda itu tidak menyadari lagi perbedaan dalam dirinya. Angga tidak lagi merasa malu-malu seperti hari-hari sebelumnya saat bersama Kelani.

Dalam keriuhan angin malam, perasaan Kelani dan Angga tak kalah riuhnya. Hari ini, pemuda berbuff dan berjaket biru dongker itu belajar akan suatu hal tentang kehidupan. Bahwa terkadang apa yang kita lihat sebagai suatu hal yang sederhana adalah sesuatu yang sangat berharga. Sesederhana batik bagi Indonesia, sesederhana kehadiran Kelani bagi hidup Angga.

-THE END-
*Ngga terasa ya Angga dan Kelani sudah menemani malam minggu kalian hingga ke tiga kalinya. Sekarang saatnya berpamitan :)
Jangan lupa komen yang membangun dan share yaa, biarkan orang lain bisa menikmati cerita absudku yang satu ini hehe✨ oh iya aku juga mau tau dong pengalaman kalian selama membaca cerita ini gimana sii? Baperkah? B aja kah? Atau justru ceritanya mirip-mirip sama cerita hidup kalian?
Fyi : setelah cerpen berlanjut aka cerbung ini selesai aku belum kepikiran lagi mau buat puisi, cerpen ataupun karya yang lainnya :")
Haruskah ku cerita tentang Angga dan Kelani lagi? Yang setujuu silahkan komen di bawah yaww  ku tunggu kabar baiknya :)
Sayonaraaa...
Sampai jumpa di post selanjutnya ✨

Pernah merasa sebagai manusia yang paling tidak berguna di dunia?
Merasa mimpimu terlalu jauh untuk diarungi?
Merasa kerdil dengan dunia teman-temanmu yang serba tinggi?
Aku pernah di posisi itu.

Setelahnya?
Aku merasa Dunia tak pernah berada di pihakku.
Aku merasa tak pernah memiliki apa-apa.
Tidak seperti mereka yang dengan mudahnya mendapat atau mencapai sesuatu.
Mereka yang memiliki fisik yang lebih menawan dan rupawan.
Mereka yang memiliki bakat yang membanggakan.
Sangat jauh berbeda dengan aku dan duniaku yang bukan apa-apa.
Kehidupan mereka terasa sempurna, sedangkan aku merasa menjadi manusia paling sengara di dunia.

Jika kalian berfikir bahwa aku hanya berdiam diri dan tidak mau berusaha, kalian salah besar.
Ya, nyatanya aku 'pernah' berusaha. Berusaha mengembangkan bakat-bakat yang Tuhan anugrahkan dan percayakan kepadaku.
Tapi apa yang aku dapatkan?
Hinaan, Celaan, Bullyan.
Bahkan aku pernah sampai di satu titik dimana aku menyesal terlahir menjadi diriku sendiri.
Setiap kali ingin memulai sesuatu. Aku harus bergelut dengan diriku sendiri. Mempertimbangkan apakah baik atau buruk yang aku dapatkan nantinya. Semua yang kulakukan selalu berpusat pada kata-kata manusia. Aku bebas ketempat manapun yang kumau, tetapi jiwaku terperangkap dalam penjara penilaian mulut-mulut di sekitarku.

Hingga suatu ketika beberapa orang menyeru kepadaku,
"Tak perlu mendambakan fisik yang cantik untuk menjadi seorang influencer. Kamu cantik dengan apa yang kamu miliki saat ini. Fikiranmu, tingkah lakumu, budi luhurmu, semuanya. Ayolah, semua itu bisa digali. Termasuk bakat dan minatmu. Aku yang ada dibelakang layar dengan embel-embel anon saja bisa sukses, apalagi kamu. Tunjukan kemampuanmu!"
"Kau ini memang manusia bodoh. Bodoh karena tidak sadar bahwa dirinya berbakat."
Begitu kurang kelebihnya pesan yang kuterima beberapa hari lalu.

Aku merasa malu pada diriku sendiri. Bahkan saat aku hendak mengubur diri karena tak pernah percaya dengan kemampuanku sendiri, mereka justu mati-matian membuatku bangkit dari liang yang sudah ku gali.

Namun ketika ragaku sudah kembali bangkit, apa yang kurasakan?
Kata hatiku tak lagi sejalan dengan apa yang aku lakukan.

Saat aku tengah bersenang-senang dengan duniaku. Mereka datang kembali dan membawaku kepada penjara seperti yang sudah-sudah. Menenggelamkan mentalku ke dasar palung yang paling dalam. Aku benci. Mengapa tak banyak manusia-manusia di  bumi ini yang mau dan mampu menghargai karya orang lain? Mereka yang tak pernah punya waktu untuk diri mereka sendiri namun sibuk menghabiskan waktunya untuk mengurusi kehidupan orang lain. Mengorek masalah dan kekurangan manusia lain kemudian menjatuhkannya dan menguburkan potensi yang dimilikinya sejengkal demi sejengkal sampai manusia itu menyerah dengan keadaan.

Nyatanya memang begitu.
Semakin dewasa kita, semakin mengenal apa arti dunia yang sesungguhnya.

Mereka datang kembali, kali ini tidak dengan kata-kata sarkasme seperti mereka yang lama. Mereka datang dan menautkan karya-karyaku dengan masalaluku.

Tapi kali ini aku tidak akan pernah tinggal diam. Aku tak akan pernah mengubur potensi yang telah lama kugali. Tidak semudah itu ferguso. Semakin kalian ingin menjatuhkanku, semakin aku ingin bangkit mengejar duniaku.

Karya adalah karya. Masalalu memang bisa mengilhami sebuah karya. Namun tak semua karya selalu terilhami oleh masalalu. Hanya dengan menulis aku bisa melanjutkan karyaku. Jika kalian tidak mau mendukungku. Paling tidak, jangan menjatuhkanku. Kita punya dunia masing-masing. Aku tidak menganggu duniamu, maka kaupun tak memiliki hak untuk mencampuri urusan duniaku.

Dan seburuk apapun aku di masalalu, kau tak perlu repot-repot mengingatkannya kembali saat ini seperti benalu. Semua itu cukup menjadi urusanku dengan Tuhan-ku. Dan yang ingin ku garis bawahi di sini adalah jangan pernah sangkut pautkan karyaku dengan masalaluku.

Untuk kalian yang pernah atau sedang berada di posisi sepertiku. Sedang ditertawakan karena mimpi-mimpi kalian. Ingat baik-baik pesanku ini.

Kalian tak perlu menguasai semua pelajaran eksakta untuk menjadi orang yang sukses di dunia. Cukup temukan satu bakat dan minatmu terhadap dunia, kemudian fokus dan tekuni satu bidang itu hingga dunia yang beralih mengikuti langkahmu.

Seburuk apapun kehidupanmu saat ini, kau layak untuk bahagia. Temukan duniamu sendiri dan jangan pernah jadikan dunia orang lain menjadi duniamu. Karena arti kebebasan yang sesungguhnya adalah saat dirimu mampu menjadi dirimu sendiri. Saat kau mampu menciptakan duniamu sendiri tanpa mengekor pada dunia orang lain.

Apabila kau temui mulut-mulut yang ingin menjatuhkan langkahmu. Anggaplah mereka itu sebagai orang iri dengan apa yang kau miliki saat ini. Apa yang mereka lakukan itu sebab mereka tak mampu sepertimu. Karena dirimu terlalu istimewa untuk mereka. Saat kau merasa berada di titik rendahmu. Lihatlah sisi kanan dan kirimu. Masihkah ada orang di sisimu? Jika ada, kau termasuk golongan yang beruntung. Dia yang ada di sisimu itu adalah seorang teman yang sesungguhnya. Ingat baik-baik kehadirannya saat itu. Jangan pernah lepaskan dia dari sisimu. Lakukan yang terbaik untuknya. Tetaplah tegar dan bangkit, teruslah berjalan hingga kau sampai pada duniamu. Jangan pernah berhenti sampai hinaan yang kau terima berubah menjadi tepuk tangan.
Be happy always all. My all best Dua are with u.

My supporttweet 💗


  • I realised that your biggest influence in your life, is yourself. If you think you can, you can, if you think you can't, you can't. Whatever you decide, you are right. It's scary but at the same time liberating.


  • If a person asks you to choose between chasing your dreams or chasing them, chase your dreams. Cause a person who’s not supportive of your goals, certainly doesn’t deserve a chase.

    Terimakasih sudah membaca storyku kali ini. Tepat di hari lahirku yang ke-18 ini aku ingin semua pembaca tulisanku bahagia, maka terseyumlah. Sampai jumpa di story selanjutnya ya.
    Sayonaraa....

    Best Regards,


    Saat di sekolah khususnya di jenjang Sekolah Menengah Pertama (SMP) , tentu kita akan mempelajari bab tentang legenda.
    Secara istilah, legenda adalah salah satu cerita rakyat yang mengisahkan asal-usul sebuah tempat ataupun benda dan biasanya disebarkan secara turun-temurun dari mulut ke mulut. 
    Wilayah Indonesia yang tersebar dari Sabang sampai Marauke membuat negara tercinta kita ini kaya akan segala hal, termasuk legendanya. Ada legenda fenomenal Malin Kundang tentang anak yang durhaka kepada orang tuanya dari Sumatra Barat, legenda Danau Toba, legenda Batu Gantung dari Sumatra Utara, legenda Jaka Tarub, dan legenda-legenda lainnya. Walaupun belum terjamin akan fakta atau kenyatannya. Mayoritas masyarakat Indonesia sangat meyakini legenda-legenda tersebut. 

    Namun seiring berjalanannya waktu dan perkembangan zaman. Eksistensi legenda saat ini semakin tersingkir dengan menjamurnya cerita kehidupan yang terdapat di novel-novel atau karya lain. Terlebih lagi para remaja masa kini lebih menyukai cerita-cerita romansa cinta daripada legenda. Apakah kalian salah satunya? 

    Sumpeng atine (sedih), itulah salah satu tembung entar yang menggambarkan perasaanku beberapa tahun lalu. Saat dimana aku belum mengetahui bagaimana asal usul daerah yang sudah bertahun-tahun aku tinggali. Dan pada kesempatan pertama ini, aku akan menuliskan tentang asal usul desaku sendiri. Yakni Desa Montongsari. Salah satu desa yang berada di Kecamatan Weleri, Kabupaten Kendal, Jawa Tengah. 

    Cerita ini adalah hasil wawancara aku dan mbah Sarnan, selaku sesepuh Desa Montongsari yang aku laksanakan kurang lebih enam tahun lalu untuk memenuhi penilaian tugas bahasa Jawa di kelas VIII SMP. Dari pada mendekam di file penyimpanan. Rasanya akan lebih berguna jika aku share sebagai penambah wawasan. Semoga bermanfaat bagi para pembaca sekalian, khususnya untuk penduduk desa Montongsari dan sekitarnya, serta bisa membantu adik-adik sekalian apabila mendapat penugasan dari sekolah yang sama seperti aku.

    Selamat membaca ;)

    Asal Usul Desa Montongsari
    Pada zaman dahulu desa Montongsari masih berupa hutan. Hingga datanglah Yai Blojo Musti dan Nyai Blojo Musti dari daerah Kedu. Mereka berdua bahu-membahu menebang pepohonan yang ada di hutan tersebut untuk di jadikan rumah.
    Saat Yai Blojo Musti menebangi hutan, ia membawa bekal berupa nasi liwet bersama daging kambing. Oleh karena itu, kawasan yang ditebangi oleh Yai Blojo Musti dinamakan Montong Kemadu. Namun seiring berjalanan waktu kawasan tersebut lebih dikenal dengan nama Montong Kilen (barat) karena arahnya berada di barat. Di setiap tahunnya saat bulan Sura di daerah Montong Kemadu tersebut para penduduk mengadakan acara menyembelih kambing dalam rangka menghormati jasa Yai Blojo Musti.
    Sepeninggal Yai Blojo Musti. Datanglah dua pasang saudara yang bernama Yai Rangu bersama Nyai Rangu dan Yai Sidah bersama Nyai Sidah. Mereka berdua menemukan hutan yang berada di sebelah timur desa Montong Kemadu. Hutan tersebut dipisahkan oleh sebuah aliran sungai. Yai Rangu bertugas untuk menebang hutan di daerah barat sungai. Sedangkan Yai Sidah menebang hutan yang ada di timur sungai.
    Saat menebang hutan tersebut mereka membawa bekal berupa nasi liwet, tutus emas (berupa telur dadar), ikan asin, pepes , tela bakar dan juga kopi. Hutan yang ditebangi oleh Yai Rangu tersebut dinamakan Montong Tambak. Sedangkan daerah yang ditebangi oleh Yai Sidah lebih banyak di Tanami oleh berbagai macam tanaman dan juga dijadikan area persawahan karena memiliki tanah yang subur.
    Setelah meninggal, kedua pasangan tersebut dimakamkan di daerah sebelah sungai. Dan setiap musim panen tiba, para penduduk mengadakan acara nyadran (slamatan) untuk menghormati jasa Yai Rangu dan Yai Sidah atas hasil bumi yang di dapat oleh penduduk desa.

    Asal Usul Desa Montongsari

    (dalam Bahasa Jawa)
    Sakwijining jaman rumiyin dusun Montong punika arupa wono. Lan sakwijining dinten wonten Yai Blojo Musti kaliyan Nyai Blojo Musti sangking tlatah Kedu, linggah wonten wono. Piyambake mbabak taneman wonten wono kagem ndamel griya.
    Sak jroning Yai Blojo Musti mbabak alas mbeta sekul kelucu kaliyan iwak mendha. Mula tlatah ingkang ditutui kaliyan Yai Blojo Musti punika di pun arani Montong Kemadu lan sak niki diarani Montong Kilen amargi arahe wonten kilen. Saben tahun wayah sasi Sura wonten Montong Kemadu punika ngawontenaken acara nyembelih mendha kegem pangeringeti jasanipun Yai Blojo Musti , kalih panjenenganipun Yai lan Nyai Blojo Musti dipunsareaken wonten sarean Montong Kilen.
    Sakbanjure sedane Yai Blojo Musti wonten kalih pasang sedulur inggih punika Yai Rangu kaliayan Nyai Rangu lan Yai Sidah kaliyan Nyai Sidah , pinyambakipun nemungake wono wonten wetanipun tlatah desa Montong Kemadu. Yai Rangu mbabak wono wonten sak kilene kali. Bileh Yai Sidah mbabak wono wonten wetane kali. Sak jroning mbabak wono sak kilene kali Yai Rangu mbeta sekul liwet, tutus emas (arupa tigan dadar), gereh pethek, pepesan menir, tela bakar kaliyan unjukan kopi. Wono ingkang di pun tegori Yai Rangu niku di pun arani Montong Tambak kaliyan tlatah ingkang di tegori denen Yai Sidah punika di pun tanemi taneman lan didaekake saben amargi sitinipun sae.
    Kekalihipun pasangan punika di sareaken wonten kilene kali. Saben wayah labuh di wontenake nyadran utawi slametan kagem ngurmati jasa nipun Yai Rangu kaliyan Yai Sidah kagem hasil siti nipun tiang Montong Tambak.

    Cerita Asal Usul Desa Montongsari tersebut mengingatkanku kepada pepatah bung Karno,

    "Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa para pahlawannya"

    dan pepatah tersebut telah ditunjukan oleh penduduk Montongsari. Mungkin juga oleh penduduk daerah lainnya. Sayang sekali bukan jika anak cucu kita nanti bertanya kepada kita tentang asal usul daerah yang mereka tinggali, tetapi kita sebagai orang tua justru diam membantu karena tidak tau?

    Karenanya aku berharap tulisan ini dapat meningkatkan kesadaran bagi para pembaca akan pentingnya melestarikan budaya Indonesia. Walaupun berperan kecil dengan mempelajari satu kisah legenda sekalipun. Jangan sampai diri kita terlena akan kemajuan teknologi yang ada hingga menyebabkan kebudayaan kita sirna atau bahkan diakui oleh negara tetangga. 

    Sekian yang dapat aku tuliskan pada kesempatan kali ini. Maaf apabila ada kesalahan dalam pemilihan kata atau gaya bahasa yang ada dalam tulisan. Karena pada hakikatnya aku hanya manusia biasa yang jauh dari kata sempurna.
    Terimakasih telah membaca tulisanku kali ini. Jika ada pertanyaan atau saran dari kalian bisa langsung komen di bagian bawah atau email secara pribadi ke andayani.rhani@gmail.com See you next post, CMIIW ^^ 
    With Love