Pengalaman Pertama Kali Konsultasi dengan Psikolog

by - Februari 03, 2022

Baca Juga

Semakin berusaha melupakan, semakin namamu beku dalam ingatan.
Kalimat dari seseorang di masalalu tersebut meluncur begitu saja dalam benakku setelah menjalani konsultasi pertama dengan seorang psikolog. Aku cermati dan resapi kata-kata tersebut. Hingga setelahnya, menyadari kesalahanku selama ini.

Aku fikir usahaku dalam mencari kesibukan a-z, menghapus, dan membuang jauh-jauh semua kenangan di masalalu dapat membantuku dalam melupakan. Ternyata aku salah besar. 
Karena sesuatu yang dihapus, akan membekas semakin dalam.
Sekian lama melakukan semua hal seperti biasa, seperti tidak terjadi apa-apa. Meski kenyataanya selama ini aku hanya berusaha berpura-pura, mangkir dari realita. Lupa bahwa seseorang di masalalu itu tidak akan pernah bisa ikut serta bersamaku. Hingga lambat laun menjadi bom waktu.

Setelah kepergiannya hari itu, sosoknya selalu hadir dalam mimpi. Tak tanggung-tanggung, dia selalu muncul dalam alam bawah sadarku selama 5 tahun terakhir. Hal yang menjadi sumber rasa bahagia sekaligus penyiksaan dalam satu waktu.

Hal yang paling menyebalkan bagiku adalah, kemunculannya yang tidak dapat kuelakkan. Dimanapun tempatnya ; ketika aku tidur di rumah bahkan saat menginap karena proker organisasi. Di saat tidur siang maupun malam. Sangat memuakan!

It's been almost 5 years. But why do I always have freaking dream about him?
Seperti yang sudah aku tuliskan sebelumnya, hal ini masih berhubungan dengan kisah yang selesai sebelum dimulai. Ah ya, aku lupa. Seperti kata sahabatku di bulan Agustus dua tahun lalu ; semuanya sudah selesai.

Meskipun sampai detik ini, aku tidak pernah merasa "selesai" karena tak kunjung mendapatkan satupun alasan untuk melanjutkan perjalanan. Bagai sebuah batu yang berjalan di tempat. Perasaanku selama ini tak jauh berbeda dengan arwah penasaran. Melayang dan berlalu lalang di dunia tanpa kenjelasan. 

Pernahkah kamu merasa 'kosong', 'hampa', tidak sedih, namun juga tidak bahagia?

Deretan kata tersebut sangat cocok untuk menggambarkan keadaanku setiap hari. Sampai pada detik terakhir pukul 2 siang, aku berfikir ; akan sampai kapan seperti ini?

Day by day but I still felt empty, both mind or my body. I didn't know what should I do? Why I did get up from bed every morning? I never know where. I didn't know what, when, with who, and how far to go.

Tak lama berselang, notifikasi dari sosial media burung biru muncul. Menyajikan sebuah postingan rekomendasi seorang psikolog di salah satu startup kesehatan. Aku baca ulasan pengalaman konsultasi dengan psikolog tersebut ataupun yang lain satu persatu.

Sebenarnya sudah lama sekali aku ingin melakukan hal ini. But I don't have a clue ; harus kemana dan dengan siapa? Terlebih biaya konsultasi psikolog yang kutahu tidaklah terjangkau untuk dompet mahasiswi pas-pasan ini. 

Tapi saat melihat tulisan itu hatiku tergerak, sepertinya memang sudah saatnya. Sudah lama perasaan dan emosi ini mengendalikanku. Sekarang saatnya aku harus menerima semua emosi itu dan mengendalikan diri.

Sungguh aku sangat merindukan hari-hari ceria, dulu. Bangun dari tempat tidur dengan jiwa yang ringan tanpa beban. Bersiap menjalani hari dengan sepenuh hati. Hingga kembali tidur dengan tenang tanpa ada rasa penyesalan seperti sekarang.

konsultasi online
Ilustrasi Konsultasi

Alasan Memilih Konsultasi dengan Psikolog

Meskipun dilanda kehampaan selama beberapa tahun kebelakang, bukan berarti aku selalu hidup dalam keterpurukan. Akupun pernah menjalani aktivitas yang menurutku 'normal' dengan perasaan penuh rasa syukur. Tetapi hal tersebut tidak pernah bertahan lama (lebih dari seminggu). Setelahnya, aku kembali mengalami fase kekosongan itu lagi-dan-lagi.

Beberapa kali aku juga pernah ingin 'lari' dari kehidupan ini. Meskipun gejolak dalam batinku selalu berkata 'pergi', namun logikaku, yang alhamdulillah masih waras, mengingatkanku untuk mencoba 'hadapi'.

Meskipun tidak pernah mendapatkan titik temu setelah mencoba berbagi ke teman dekat. Tapi saat memberi tahu keinginan tersebut, mereka ternyata sangat antusias dan mendukung. Ketiga alasan ini yang semakin membuladkan tekadku.


Pengalaman Pertama Kali Konsultasi dengan Psikolog Secara Daring

Setelah melakukan registrasi akun, aku segera mencari seorang psikolog yang direkomendasikan sebelumnya. Sayangnya, di aplikasi tersebut akunku tidak bisa menjadwalkan konsultasi dengan psikolog yang ingin ku tuju.

Karena aku merasa terdesak -kepalang tanggung-, aku pilih salah satu psikolog yang tersedia dan dapat melakukan konsultasi saat itu juga. Beliau cukup ramah. Akupun mulai menceritakan keresahan yang aku alami secara garis besar. 

Setelah rentetan kalimat yang tertulis yang ditemani tetesan air mata yang membasahi pipi, sebuah balasan aku terima. Pesan yang berisikan sebuah afirmasi (/afir·ma·si/penetapan yang positif; penegasan; peneguhan) serta solusi yang aku butuhkan selama ini.
halodoc
Pertanyaan Psikolog Saat Konsultasi

chat psikolog
Penjelasan dan Afirmasi

konsultasi psikologi
Solusi
Melakukan konsultasi dengan psikolog tidak seperti yang aku bayangkan sebelumnya. Beliau tidak menjudge aku begini dan begitu, atau menyuruh aku untuk lebih taat beribadah seperti pengalaman kurang menyenangkan yang kudengar sebelumnya. 

Tentu tidak semua beban yang ada dalam benakku dapat tercabut sekaligus (dalam satu sesi konsultasi). Namun, berbekal uang 30 ribu rupiah (berkat diskon) dengan durasi konsultasi selama 45 menit ini sudah lebih dari cukup menjadi alasan untuk give up.

Seolah jiwa yang telah membatu dan berjalan di tempat selama ini mendapatkan kembali kedua kakinya untuk berlari. Menarik kembali alam sadarku ke hadapan realita.

Sebenarnya aku juga tidak berharap banyak dari konsultasi pertamaku ini. Bahkan aku sudah menyiapkan -hati- apabila terjadi skenario terburuk. Dimana pesan yang aku dapatkan sama seperti pengalaman beberapa rekan yang sudah-sudah. 


Tips Sebelum Konsultasi dengan Psikolog Secara Daring

Dari pengalaman menjalani konsultasi pertama ku tersebut, aku punya beberapa tips untuk kalian.

Siapkan keresahan kalian terlebih dahulu di awal, dengan cara menuliskannya di catatan atau note agar tidak terkendala durasi dalam konsultasi. Tuliskan keluh kesahmu seleluasa mungkin, anggap seperti sedang bercerita ke teman atau menulis di buku diary.

Buat kalian yang binggung harus panggil psikolog tersebut, alih alih memanggilnya Dok. Kalian bisa memanggilnya dengan sapaan "Kak" agar lebih terasa akrab dan tidak sungkan.

Apa yang harus dilakukan setelah Konsultasi?

Let's do what you want to do. 
Kamu bisa melakukan apapun yang kamu lakukan. Ingin kembali meluapkan kesedihan di pojok kamar? It's okay. Tapi jangan lupa beri tenggat waktu kapan emosi itu akan berakhir agar tidak menjadi berlarut-larut.

Jika kamu tanya hal apa yang aku lakukan setelah konsultasi, jawabanku adalah membaca buku. Hobi yang sudah lama sekali aku tinggalkan beberapa waktu belakang ini. Dengan hal ini, akhirnya akupun menemukan arah untuk hidupku selanjutnya.

Padahal aku baru sampai bab dua dari buku self development yang menjadi sebuah titik balik bagi hidupku.

Setelah dua minggu berlalu sejak hari konsultasi pertamaku itu, alhamdulillah mimpi itu belum pernah -jangan sampai- muncul lagi aamiin. Lalu bagaimana hari-hariku? Cukup menyenangkan dan tidak sehampa dulu.

So that's it pengalaman pertama kali konsultasi dengan psikolog dari aku yang pernah terjebak di masalalu, LOL. Untuk kalian yang masih ragu untuk berkonsultasi dengan ahli, please don't worry. Karena ada jiwa yang menunggumu untuk disembuhkan serta raga yang selalu siap kau bawa melanjutkan perjalanan kehidupan.

Cheers,

andayani rhani

You May Also Like

16 Comments

  1. Glad to know bahwa ternyata konsultasinya berbuah hasil. Ya walaupun takes time untuk bener-bener healing.

    Anyway, saya pernah nulis tentang defense mechanism di blog saya. Kalau ada waktu luang, silahkan mampir. Semoga setelahnya, you find someting interesting 🙂

    BalasHapus
    Balasan
    1. defense mechanism? kata yang menarik dan kebetulan belum pernah saya dengar sebelumnya mas Prim. Thanks for information, otewee mampir heehe

      Hapus
  2. Dulu, saat skripsi aku bikin sistem kecerdasan buatan untuk orang-orang bisa konsultasi masalah psikologi dengan "mesin/robot" eh tahunya kelak orangnya sendiri yang butuh konsul ke psikiater langsung (karena udah agak parah dan udah butuh obat saat itu) hehe. Ternyata ya, nggak semengerikan itu. Asal orang-orang sekitar support sih ya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. kak haryadi dulu kuliah tentang psikologi kah? sekarang memang teknologi AI sedang digadang" dan tengah naik daun mas. Tapi tetap ada hal-hal yang tidak bisa digantikan dengan teknologi, salah satunya konsultasi dengan psikolog yang sangat membutuhkan empati ini, menurut saya.

      Hapus
  3. Aku bingung membaca blog ini. Judulnya "Konsultasi dengan Psikolog", tapi kenapa yang dihadapi ternyata psikiater?

    Psikolog dan psikiater itu kan dua profesi yang berbeda. Pendidikannya saja beda fakultas, konsep pekerjaannya juga berbeda.

    BalasHapus
    Balasan
    1. ah iya, terima kasihh masukannya kak Vicky! Saya baru sadar, hasil nulis dini hari T.T

      Hapus
  4. Tapi ini beneran sih. Kadang, ketika kita ingin melupakan sesuatu banget tu yang malah selalu diingat.

    Aku sih biasanya nggak berusaha untuk melupakan. Jadi biarin saja semau-maunya. Sambil aku melakukan hal lain yang lebih bermanfaat.

    Salah satunya ya memaafkan diri sendiri dulu. Bilang ke diri sendiri bahwa diri ini juga amat sangat berharga. Gitu sih...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Jadi lebih ke menerima apa adanya ya kak Yuni? Setuju banget sih poin berdamai dengan diri sendiri ini juga penting sekali

      Hapus
  5. Aku baca pesan dari psikiater nya juga semacam membawa aura positif. Itu di website apa kalau boleh tahu? Kayaknya bagus nih buat dicoba dan dikasihkan temen yg membutuhkannya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya konsultasi menggunakan aplikasi halodok kak Rani

      Hapus
  6. Saat kita tidak lagi mampu mengatasi masalah kita sendiri, memang sebaiknya mencari tenaga profesional untuk membantu kita menyelesaikannya yaa

    BalasHapus
  7. Btw ini jadinya mbanya konsuk ke psikolog apa psikiater? Soalnya beda case profesi tersebut.

    Aku juga suka ke 2 temoat tersebut untuk menkonsultasikan anak saya dalam beda case.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya ke psikolog kak hehe, sudah saya perbaiki. Kemarin lupa saya tidak tinjau ulang tulisannya. Terima kasih ya sudah diingatkan ^^

      Hapus
  8. memang kalau sudah berkaitan dengan kondisi psikologis kita bagusnya konsultasi ke ahlinya ya, mbak. aku sebenarnya pengen banget konsultasi ke psikolog cuma nggak tahu mau konsultasi apa padahal dekat kantorku ada tempat konseling gratis gitu

    BalasHapus
    Balasan
    1. wah beruntung sekalii kak ada tempat konseling gratis. mungkin bisa dimanfaatkan di masa mendatang kak. jarang-jarang loh ada tempat konsultasi psikolog gratiss

      Hapus

Thank you for your time to come by and leave comment! Follow me on Instagram @andayanirhani, let me know you found me from my blog, and I'll follow you back :)
-Xoxo