Rekomendasi Destinasi Wisata dan Kuliner di Kota Solo

by - Juni 04, 2020

Baca Juga

Ada apa aja sih di kota Solo?
Tanya saya dalam hati. Beberapa bulan yang lalu sebelum wabah pandemik covid-19 menyerang bumi pertiwi, saya berkesempatan untuk mengunjungi kota Solo untuk menghadiri suatu acara. Meski hanya dua hari, namun perjalanan di kota kelahiran pak Jokowi ini rasanya sangat berarti. 

Selain acara yang akan saya hadiri, sebenarnya saya tidak memiliki rencana untuk mengunjungi tempat lain. Tapi karena rasa penasaran dan kesempatan yang tidak datang dua kali, membuat saya memberanikan diri untuk menjelajah ke beberapa tempat yang istimewa. Berikut merupakan beberapa Rekomendasi Destinasi Wisata dan Kuliner di Kota Solo yang dirangkum bersama cerita perjalanan saya.

Hari Kamis pagi, tanggal 13 Februari. Saya bersiap menemui teman di alun-alun kota. Perjalanan dari daerah saya, kabupaten Kendal sampai ke Kota Solo membutuhkan waktu kurang lebih 4 jam menggunakan sepeda motor. Meski sempat menerjang hujan di wilayah Salatiga, pukul setengah 2 siang saya dan teman sudah menginjakkan kaki di kota Solo.


Sesampainya di sana, saya diajak berkeliling di Universitas Negeri Sebelas Maret (UNS). Kampusnya sangat asri dengan udara sangat sejuk. Ada danau buatan yang menjadi tempat berjualan pedagang kaki lima dan berkumpul orang-orang.

Kampus itu juga memiliki 5 tempat ibadah umat beragama yang di akui Indonesia. Ada gereja, pura, vihara, kelenteng, dan masjid. Sangat mencerminkan kebhinnekaan sekali kan? 

Setelah setengah jam di ajak berkeliling kampus. Saya di antar menuju kos Ika, teman semasa SMA yang sekarang menjadi mahasiswi di kota Solo.

Saya dan Ika


Ketoprak Jebres

Sesampainya di kos ika. Kami bercerita layaknya sobat yang sudah lama tidak bertemu. Di tengah-tengah obrolan, saya teringat pesan salah satu kakak kelas yang juga menjadi mahasiswa di Solo, bahwa setiap akhir pekan biasanya akan ada pertunjukan di kota ini.

Melalui bantuan dunia maya dan menjelajah ke akun instagram event kota Solo, Ika mencari referensi pertunjukan yang bisa disaksikan.

Setelah beberapa kali dibuat kecewa karena tanggal yang tidak sesuai (diluar hari saya berada di kota Solo) atau acara yang telah selesai. Akhirnya, saya bisa bernafas lega ketika mendengar Ika berujar,
“Ini ada pertunjukan wayang orang, Nda. Besok malam tapi.”
Sayapun mengiyakan dengan senang hati, mengingat besok adalah hari terakhir saya di sini. Senangnya…

Karena belum sempat makan siang, perut saya tiba-tiba berbunyi dan lidah mendadak ngidam ketoprak. Setelah istirahat sebentar.  Ba’da Ashar, dibawalah saya menuju ke sebuah warung sederhana di daerah Jebres.


Tempat ini menjual berbagai macam makanan tradisional. Rasa manis sambel kacang dan sayuran segar serasa duet maut di dalam mulut. Harga makanan di warung ini sangatlah terjangkau dan sering menjadi tempat makan langganan bagi mahasiswa, Ika adalah salah satunya.

Harganya mulai dari 5 ribu rupiah sampai belasan ribu. Pelayanannya pun sangat cepat. Nggak butuh waktu lama, makanan saya tiba. Saat saya mampir makan di sana, tempatnya tidak tidak pernah sepi oleh pembeli. Jika satu orang pergi, pasti setelahnya akan ada orang yang datang lagi.


Takoyaki Mr. Hiroshi

Pernah nggak kamu berdoa untuk mengunjungi suatu tempat yang rasanya mustahil untuk dikunjungi?

Ini cerita saya banget. Dulu, tahun berapa ya? Kira-kira saat saya masih sekolah. Saya melihat seorang penjual Takoyaki, orang Jepang asli yang tinggal di kota Solo, diundang menjadi bintang tamu acara Hitam Putih. 

Sejak mulai kenal jalan-jalan dan kulineran, saya suka sekali dengan masakan Jejepangan. Nah, di antaranya adalah Sushi, Ramen, Okonomiyaki dan Takoyaki ini. Saat melihat acara itulah, saya berdoa semoga suatu saat bisa berkunjung ke kota Solo dan menyicipi takoyaki buatan orang Jepang tersebut. And see? My dream becomes true.

For your Information, Takoyaki adalah salah satu jenis street food yang berasal dari negara matahari terbit. Bentuknya bulat dengan isi irisan gurita atau cumi.

Mr. Hirosi yang sedang membuat Takoyaki


Meski tidak punya plan kemana-mana selain acara yang akan saya hadiri hari esok. Namun, Tuhan mengingatkan dengan doa saya dulu. Tiba-tiba saya terbesit untuk mengunjungi kedai takoyaki Mr. Hiroshi tersebut. 

Setelah menunggu Ika menyelesaikan Kartu Rencana Studi (KRS) bersama dosen walinya. Berbekal alamat dari google maps, kami berdua segera menuju ke lokasi.

Saya deg-degan selama di jalan. Bukan karena Ika yang ngebut ketika mengemudi. Tetapi karena di google maps menunjukan keterangan bahwa toko akan tutup 5 menit lagi. Walhasil, Ika ngebut sampai peniti hijabnya jatuh di jalan. Huhuhu, maafin permintaan Anda yang selalu mendadak ya Ika.

Beruntungnya, toko belum tutup meski sudah cukup sepi. 

Maaf mbak, menunya sudah habis. Hanya ada takoyaki saja.
Ucap pemuda yang menghampiri saya sesaat setelah sampai di lokasi. Saat melirik ke spanduk  penjual. Ternyata menu di tempat ini tidak hanya takoyaki. Ada ramen, mie khas negara Jepang, dan Gyouza/gyoza, yaitu pangsit berisi irisan daging dan daun bawang cincang.




Ah ya mas, nggak papa. 

Jawab saya. (padahal emang niatnya juga beli takoyaki aja).

Berapa mbak? Satu atau dua porsi?
-Satu saja.

Loh, Mr. Hiroshinya mana ya? Kok nggak ada? Apa jangan-jangan sudah nggak jualan lagi di sini setelah viral? 


Beberapa menit kemudian, mas-mas itu datang dengan membawa satu porsi takoyaki pesanan saya. Harganya sangat-sangat terjangkau, kalau tidak salah 10 ribu per porsi dengan isi tujuh biji.

Selain itu, ada ramen (Syoyu, Shio, Kare, Miso) yang dihargai 12 sampai 13 ribu rupiah. Untuk Gyouzanya ada pilihan gyouza goreng atau bakar. Harga seporsi isi 5 biji dihargai 5 ribu rupiah.

Bagi saya, kota Solo ini tempatnya kuliner murah dan enak. Sayang sekali saya hanya bisa mencoba takoyakinya dan tidak bisa bertemu langsung dengan pemiliknya.


Pasar Gedhe Solo


Ini namanya pasar gedhe, nda.

Di perjalanan setelah membeli takoyaki itu, saya beroh ria. Ternyata ini toh, tempat yang sering menghiasi snapgram teman-teman yang ada di kota Solo. Batin saya.

Lampion beraneka bentuk karakter serta lampion khas berwarna merah dan kuning berpadu menjadi sinar yang memanjakan mata. Saya meminta Ika untuk menepi sebentar dan menyusuri jalanan kota gedhe meski tak lama. Keburu laper soalnya, hehehe….

Meski sudah lewat hari raya Imlek, saya merasa beruntung sebab masih bisa menikmati lampion-lampion di sepanjang jalan Pasar Gedhe yang cantik. Di sepanjang jalan ini, selain diramaikan oleh lampion juga terdapat beberapa penjual mainan anak-anak.


Galabo - Wisata Kuliner Malam Solo


Setelah membeli takoyaki dan berdiskusi sebentar untuk menentukan akan di mana, saya dan Ika sepakat untuk makan malam di Galabo.

Situasi Malam Hari di Galabo Solo

Tempat yang cukup luas ini bisa di bilang street food-nya masyarakat Solo. Lokasinya berada di sebrang jalan, jadi sangat strategis. Makanan di Galabo sangat beraneka ragam. Aneka minuman, jajanan tradisional, hingga makanan ringan sampai yang berat tersaji dengan lengkap. 

Karena sudah beli takoyaki, saya memesan minum saja. Wedang ronde menjadi pilihan saya. Takut nggak habis dan mubazir kalau pesan makan banyak-banyak. Ika sendiri, memesan bakso dan segelas es teh. 

Jika berkunjung ke Galabo, kamu tinggal pesan saja ke penjualnya. Kemudian mencari tempat duduk. Setelah selesai, makanan akan diantar ke tempat duduk kamu. Jadi, nggak perlu kelamaan berdiri dan menunggu.

Jenis tempat duduk ini juga bervariasi. Tinggal pilih saja kamu nyaman duduk di tempat yang mana, sekaligus mau tempat duduk yang seperti apa.

Tenda Orkes Musik

Ada orkes musik yang akan menemanimu selama menyantap makanan di tempat ini. Suara penyanyinya juga nggak main-main loh. Buagus banget, suaranya ala penyanyi tahun 90-an gitu.

Mau request lagu? Bisa banget. Mau lagu dangdut, kembang kenangan, sampai pop bisa dinyanyikan peyanyinya. Mau join karaoke bareng? Lebih bisa lagi.

Saya dan Ika di Galabo Solo

Galabo dilengkapi oleh jaringan internet umum. Jadi, setelah kenyang makan. Kamu bisa memanjakan mata dengan berselancar ke sosial media tanpa takut kehabisan kuota.

Tempat ini juga dilengkapi dengan toilet. Tempatnya berada di ujung sebelah kanan. Mentok, pojok banget dari arah kalau kamu menghadap stand-stand penjual makanan.


Sarapan Pagi di Depan Kampus ISI

Matahari menyambut. Sebelum datang ke tempat yang akan saya hadiri. Saya dan Ika menyempatkan sarapan di depan kampus Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta. Soto Solo dan teh hangat menjadi menu pilihan saya saat itu.


Makannya di trotoar jalanan, tapi tenang. Tempatnya cukup asri dan jauh dari polusi kok. Soalnya jarang motor lewat karena masih pagi. Mulai dari orang tua sampai remaja makan di tempat ini. Tempatnya nggak terlalu ramai, tapi juga nggak terlalu sepi. Cocoklah, jadi nggak perlu repot-repot ngantri.


Pasar Triwindu

Karena waktu yang masih terlalu pagi. Satu jam lebih awal dari acara yang akan saya hadiri. Kami berdua mencari destinasi wisata yang bisa dikunjungi. Ika menyarankan untuk berkunjung ke Pasar Triwindu.

Berbekal google maps, kami menyusuri jalanan kota Solo yang masih lenggang. Meski sempat ada drama nyasar dan google maps error. Akhirnya kami tiba di depan gerbang pasar Triwindu dan masuk ke dalam gang-nya.

Pasar Triwindu yang Masih Tutup
Sayangnya pasar yang menjual berbagai jenis barang antik ini belum buka. Deretan pintu toko-toko yang berjejer masih tertutup rapat. Tak ingin kehilangan momen, kami berdua menyempatkan untuk berfoto di pelataran yang masih sepi sepuas hati.

Koleksi Patung di Pasar Triwindu Solo

Koleksi Barang Unik di Pasar Triwindu Solo


Ada banyak benda-benda antik di tempat yang terdiri dari dua lantai ini. Seperti rangka lampu tempo dulu, patung, dan kerajinan unik lainnya.

Tak terasa setengah jam berlalu, Ika segera mengingatkan saya bahwa acara segera dimulai. Kamipun pergi meninggalkan tempat tersebut.


Museum Pers Nasional

Museum Pers Nasional Solo

Acara yang membuat saya datang ke Solo dan sejak awal saya sebutkan itu adalah peresmian Monumen Pers Nasional ini. Berlokasi di Jalan Gajah Mada no. 59, Banjarsari, Surakarta- Jawa Tengah, museum pers menyajikan berbagai macam informasi tentang dunia jurnalis, ribuan koleksi buku dan surat kabar cetakan pertama, artefak, mesin ketik, hingga radio pemancar ada di sana.

Cerita lengkap saya selama menjalani tour museum pers ini dapat kamu baca di Pengalaman Tour ke Museum Pers Nasional


Selat Solo The Vien's

Nggak lengkap rasanya, kalau berkunjung ke suatu tempat tanpa menyicipi kulinernya. Betul apa benul? Nah, setelah acara pertama, tour di Museum Pers Nasional (MPN) selesai. Saya diajak mbak Aden dan Mas Riski untuk menyicipi makanan khas Solo yang kaya akan alkulturasi budaya. 

Saya yang dibonceng mbak Aden menggunakan sepeda motor melaju di belakang mas Riski, meski akhirnya ketinggalan. Tapi sampai di sana duluan. Kami menyicipi Selat Solo di tempat makan yang cukup terkenal The Viens. Kamu bisa membaca cerita khusus makanan tradisional ini di artikel saya sebelumnya, Jelajah Rasa Selat The Vien's

Selat Solo The Vien's

Bagi kamu yang suka makanan manis. Selat solo ini bisa jadi hal yang menarik untuk dicicipi. Bahkan saya sampai jatuh cinta sejak pertama kali mencoba. Rasa kuah yang pedas manis, serta bola-bola daging yang lembut menggelitik di mulut. 

Setelah menyelesaikan makan dan berbincang sebentar, saya dan mbak Aden bergegas menuju hotel Sahid Jaya Solo untuk mengikuti acara selanjutnya. Sedangkan mas Riski pergi shalat Jumat ke masjid terdekat.


Pertunjukan Wayang Orang di Taman Balekambang

Seni Pertunjukan Drama Wayang Orang

Sepulang dari acara peresmian monumen pers, saya terduduk di depan halaman kos Ika. Sia-sia saya memanggil berkali-kali. Ternyata Ika tidak ada di dalam kos.

Lebih malangnya lagi, hp saya kehabisan daya dan tidak bisa menyala. Sayapun menunggu Ika pulang dengan pasrah sambil memakan snack acara yang belum saya jamah sama sekali.

Setengah jam berlalu, tapi Ika tidak juga kunjung muncul. Beruntung, seorang nenek tetangga kos mau menemani saya dan mengobrol. Tidak lama setelah itu, Ika datang. Kemudian disusul Angel, teman SMA saya juga.

Kami bertiga berbincang dan mengajak Angel untuk ikut menyaksikan pertunjukan wayang orang. Meski raut wajahnya nampak lelah, Angel mengiyakan.

Jam setengah delapan, setengah jam lebih dari jam pertunjukan dimulai. Kami bersiap menuju taman Balekambang. Sayangnya, hujan datang. Masih rintik-rintik. Awalnya kami ragu. Tapi akhirnya kami sepakat, nekat datang dan menerjang hujan.

Sesampainya di sana, kita diberi kartu parkir. Suara gamelan dan sinden terdengar nyaring sampai halaman depan. Kamipun bergegas masuk.

Pertunjukan Wayang Orang yang Jenaka

Seperti dugaan awal, kedatangan kita sedikit terlambat. Tempat duduk di panggung arena itu sudah di penuhi penonton. Kami bertiga berusaha mencari tempat kosong yang ada di bagian tengah. Kami menyaksikan pertunjukan itu dengan khidmat. 

Selain takjub dengan drama yang dipadu dengan gerakan tari. Sesekali penonton juga dibuat tertawa oleh tingkah kocak dan percakapan para pemain yang jenaka.

Malam itu juga ada kejadian lucu, dimana rusa yang tinggal di taman Balaikambang tiba-tiba masuk ke area panggung dan berjalan menuju arah tempat duduk penonton. Para penonton yang awalnya tertawa, akhirnya menjauh karena takut saat sang rusa mendekat. Untung jaraknya jauh dari tempat duduk kami bertiga.

Saya sangat suka, para pemain wayang orang ini sangat professional. Mereka tetap fokus dengan penampilannya seolah tidak terganggu sama sekali dengan kehadiran rusa tersebut atau saat air hujan jatuh membasahi panggung dan tubuh mereka..

Adik-adik Penari Kecil di Pementasan Wayang Orang
Wayang orang itu menceritakan drama Rama Tundung. Garis besarnya mengisahkan tentang sayembara pencabutan panah hingga akhirnya Rama diasingkan ke dalam hutan. Tidak hanya orang dewasa, pertunjukan ini pun melibatkan anak-anak kecil lucu dan menggemaskan yang menari. Anak perempuan menari sebagai kupu-kupu dan tanaman di dalam hutan. Sedangkan anak laki-laki menari sebagai bala tentara Anoman (siluman kera).

Rama dan Shinta

Tepuk tangan penonton riuh mengudara saat Sinta bernyanyi dan menari bersama Rama. Seusai acara, lampu perlahan paham. Para penonton berhamburan menuju panggung untuk berfoto bersama pemain wayang orang. Tak mau ketinggalan, kamipun melakukan hal yang sama sebagai kenang-kenangan.

Dari kiri : Saya - Shinta - Angel - Ika
Foto Bersama setelah Pementasan
Setelah acara selesai, saya sempat mengamati sepanduk besar di depan taman Balekambang. Ternyata pementasan wayang orang ini merupakan event yang diselenggarakan rutin setiap bulan, sejak bulan Januari dengan kisah yang berbeda-beda. Semacam episode gitu kalau dalam sinetron. Ceritanya saling berhubungan satu sama lain. Dari mulai pertemuan Rama dan Sinta hingga puncaknya pada bulan Desember. Pertunjukan inipun tidak dipungut biaya alias gratis, walaupun tetap bayar parkir lol.

Cerita saya selama dua hari di Solo di tutup dengan pertunjukan wayang orang tersebut. Sebenarnya, masih banyak tempat wisata lain yang belum sempat saya kunjungi. Seperti Keraton Surakarta Hadiningrat, Pura Mangkunegaraan, Taman Sriwedari, Pasar Klewer, Ngarsopuro Night Market, dan lainnya.

Stasiun Solo Balapan

Namun, mau-tidak mau saya harus kembali keesokan harinya, tanggal 15 Februari karena sudah terlanjur memesan tiket kereta. Padahal mbak Aden mengajak saya untuk meramaikan HUT kota Solo yang jatuh pada tanggal 17 Februari. Tapi di tanggal tersebut saya sudah masuk kuliah, hiks-hiks... 😭

Itulah cerita perjalanan saya selama di Solo yang bisa dijadikan referensi destinasi wisata dan kuliner. Tempat mana nih yang menarik dan ingin kamu kunjungi? Beritahu saya di kolom komentar ya! Sampai jumpa di tulisan bertema Travel and Place selanjutnya!

With love,


You May Also Like

11 Comments

  1. Wah ceritanya lengkap ini. Berasa ikut jalan jalan ke Solo :)
    Foto foto nya juga bagus mbak ngeditnya. Jadi lebih hidup ceritanya.
    Kapan kapan kalau covid dah hilang, main ke Solo lagi, mbak.
    Trus bablas sejam lagi.. Ke waduk gajah mungkur wonogiri, kota sayaa :))

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah iya, saya pernah dengar waduk gajah mungkur. Saya tulis di wishlist kak biar ga lupa mampir hehe terima kasih infonya 😊

      Hapus
  2. Kangeeeen banget Ama solo. Suamiku orang solo mba, dan sblmnya kami tuh rutin mudik ke solo, tiap 2 thn sekali, gantian ama kampungku di Medan. Sejak pertama diajak ke solo, aku lgs sukaaaa bgt Ama nih kota. Gila makanannya enak2, dan harganya supeeeer duper murah. Makanya aku LBH suka mudik ke solo drpd Medan :D.

    Tp kalo Pertunjukan wayang orang di sana aku ga prnh liat. Soalnya udh kepikir pasti bahasa Jawa, dan aku ga ngerti blasss :D. Drpd ga enjoy, makanya tiap diajak suami, aku selalu nolak :D.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah seneng banget bisa sering-sering ke Solo ya kak. Asli kota ini tuh bikin jatuh cinta banget, dari suasana sampai makanannya semua saya suka hahaha...

      Emang pertunjukannya dalam bahasa Jawa mba, saya aja kadang masi nggak ngerti kata-katanya tapi pertunjukannya tetep seru dan lucu kok 😊

      Hapus
  3. pasar gedhe solo bagus banget kalo lagi perayaan imlek, aku pernah kesana...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyakah? Sayang banget saya ke sana pas udah ga perayaan Imlek kak :") mungkin next time berkunjung waktu pas imlek hehehe

      Hapus
  4. wah enak semua katanay memang solo itu banyak kuliner dengan nama unik

    BalasHapus
  5. Wah noted nih mbak.. waktu sebelum ada korona saya ke solo tp cuma ke solo paragon aja karena gatau harus kemana :"

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah padahal banyak banget tempat unik dan menarik di Solo loh mas

      Hapus
  6. Wah, muter-muter di Galabo sudah bisa mencoba semua makanan khas Solo, tuh.

    BalasHapus

Thank you for your time to come by and leave comment! Follow me on Instagram @andayanirhani, let me know you found me from my blog, and I'll follow you back :)

-XOXO