[Sebuah Kisah] My Sweeter Bitter Seventeen

by - Mei 10, 2020

Baca Juga

Ulang tahun adalah hari bersejarah bagi setiap orang sebagai peringatan hari lahir setiap tahunnya. Kiriman ucapan serta doa dari teman-teman dan orang tersayang, roti, kado, serta kejutan sering menghiasi hari tersebut. Tapi bagaimana jadinya kalau hari bahagia itu menjadi hari terburuk dalam hidup yang menguras emosi dan air mata?


Saya punya pengalaman itu di salah satu hari ulang tahun saya. Tepatnya di usia tujuh belas tahun. Jika orang-orang biasanya merayakan sweet seventeen dengan pesta yang penuh suka cita. Cerita saya ini justru sedikit suka, banyak dukanya. Inilah alasan mengapa saya memberi judul tulisan ini ; My Sweeter Bitter Seventeen.

Cerita pahit ini bermula dari sini. Tepatnya tanggal 13 April, sehari sebelum saya ulang tahun. Saya dan teman-teman mendapatkan kehormatan mewakili sekolah dalam lomba yang diselenggarakan 5 tahun sekali. Suatu kebanggaan bukan? Tidak setiap angkatan bisa mengikuti lomba tersebut. Lomba 2 hari satu malam ini dilaksanakan di salah satu gedung sekolah tua peninggalan zaman Belanda.


Lomba Penuh Drama

Lomba di hari pertama berjalan dengan lancar, bagi tim lain. Sedangkan tim saya bergulat dengan emosi dan air mata. Saya menjadi bagian tim kategori iklan layanan masyarakat. Naas, video karya kami tidak bisa diputar karena ukuran file terlalu besar. Tidak sebanding dengan notebook panitia yang digunakan untuk menampikan. Belum ada setengah video ditampilkan, masih di detik-detik awal intro. Padahal kami sudah meminta panita untuk gladi sebelum video ditampilkan dan hasilnya pun lancar.

Tidak tinggal diam, saya dan salah satu teman yang menjadi delegasi tim saat itu mengusulkan untuk mengganti perangkat presentasi. Namun nihil, setelah diganti laptop lain-pun tidak ada perubahan. Video kami tetap ngadat. Teman saya sampai berlinang air mata. Menyayangkan karya kita dengan kualitas HD yang gagal dipresentasikan. Saya mencoba menguatkan, tapi ya tetep nyesek juga. Akhirnya saya ikutan mewek. Jadilah kami keluar ruangan dengan hati ambyar.



Kejutan Tak Terduga

Setelah melalui presentasi penuh drama, saya dan salah satu teman perempuan yang lain pergi membersihkan diri alias mandi sore. Saya agak berhati-hati saat berbicara dengan teman saya yang satu ini. Karena saya tahu, dia ini takut dengan semua hal tentang dunia lain. Tapi karena dia penasaran dan bertanya,

“Kalau di sini ada nggak nda?”


Akhirnya saya memberanikan diri dan menjawab apa adanya. Eh, malah saya mendapatkan kejutan tidak terduga setelah keluar. Saya –tiba-tiba- bisa melihat semuanya. Ya, semua-muanya tanpa bisa di filter. Ini yang membuat saya cukup syok.

***
Flashback. Sejak kecil memang saya punya ‘teman bermain’. Kedua orang tua sibuk bekerja sedari saya kecil, sehingga saya sering di titipkan ke tante atau bahkan dikunci sendiri di dalam rumah. Ibu biasanya akan memasak dan memberitahu hal-hal apa saja yang harus/boleh dan tidak boleh saya lakukan sebelum berangkat kerja. Kata ibu, saya tipe anak yang penurut sekali dan bisa dibilang ‘anteng’ sejak kecil. Cukup tampikan DVD lagu anak-anak maka, saya akan menyimak dengan khidmat. Mungkin karena alasan tersebut, ibu berani dan tidak terlalu khawatir meninggalkan saya sendiri.

Padahal sebenarnya saya tidak pernah sendiri. Setelah ibu pergi, biasanya teman-teman saya (kakak beradik itu) akan datang. Kita biasa bermain bersama di kamar. Ya main boneka, main dokter-dokteran, guru-guruan. Bahkan mereka mengajari saya menggambar dan menulis angka di dinding. Ibu belum membelikan buku saat itu.

CreepyFact, saat saya sudah beranjak dewasa dan saya sadar siapa mereka. Saya tidak mendapati angka 23 di deretan angka yang saya tulis di dinding. Jika kalian bertanya kenapa? Sayapun belum sempat menanyakan alasannya sampai sekarang. Sayang, kenangan itu sudah tidak ada karena dinding kamar saya sudah di cat ulang.

***
Namun, kejadian saat ulang tahun ke tujuh belas ini berbeda dan cukup menguras energi saya. Tidak seperti teman saya yang baik atau mereka-mereka sebelumnya yang hanya berani menatap saya dari kejauhan. Mereka, yang ada di gedung tua tersebut berani menganggu saya. Bahkan hingga kontak fisik. Lagi duduk manispun ditabok. Ketika saya hendak ibadah di mushola, lampu mendadak paham. Lucunya, hanya di tempat ibadah itu saja yang mati. Di koridor dan ruangan lain lampu tetap menyala.

Banyak sekali kejutan tidak terduga di malam yang panjang itu. Kalau saya tuliskan di sini bisa sampe besok. Intinya mereka benar-benar membuat saya sangat kewalahan. Meskipun malam itu sikap saya cukup merepotkan dan membuat khawatir, teman-teman tim lomba tetap mendampingi dan berusaha memahami saya. Uuu luv kalian, yang mungkin baca tulisan ini. Hehehe….



Tidak Punya Doi

Saya sedikit banyak heran. Kenapa gitu tanggal ulang tahun saya selalu sama alias bareng dengan orang-orang di sekitar saya. Entah itu kerabat, teman, tetangga, atau guru. Dulu saya sempat bangga bisa mendapatkan tanggal lahir yang sama dengan guru favorit saya. Namun, ulang tahun ke tujuh belas ini benar-benar membuat saya nyesek.

Kalau saya diberi kejutan oleh dunia lain.  Teman saya, yang punya tanggal lahir dan juga ikut lomba yang sama, mendapat kejutan dari kekasihnya yang rela datang jauh-jauh. Dosa apa yang pernah saya lakukan dahulu hingga tidak pernah merasakan kisah cinta se-uwu itu? 

Hahaha, nggak begitu juga sih. Saya tetep bahagia. Meskipun posisi saya saat itu jones banget. Nggak ada orang istimewa dan nggak ada yang mengistimewakan saya juga hahahaa…. Setelah itu saya harap-harap cemas, semoga ada hal yang tidak terlupakan meski setengah hari telah berlalu. Doa saya, saat itu.


Ter-PHP Harapan Sendiri

Masih berhubungan tentang kegiatan lomba. Setelah selesai, saya dan teman-teman kembali ke sekolah untuk mengembalikan peralatan lomba.  Saat hendak pulang ke rumah, munculah notifikasi dari salah satu teman sekelas saya. Dia mengajak bertemu untuk mengambil pesanan. Saya iyakan. Saat itu memang saya dikenal sebagai seorang ‘bakul’ (penjual) online shop. Dulu saya berbisnis kecil-kecilan dengan prinsip PALUGADA  (apa aja yang lu mau, gue ada). Manusia sok sibuk gitu. Padahal cuma alasan buat move on, upss...

Back to topic. Setelah menentukan untuk bertemu di mana dan jam berapa. Saya pulang dengan harap-harap cemas. Tiba-tiba terbesit pertanyaan dalam hati.

"Kenapa ngambil pesanannya sekarang banget ya?
Padahal besok-besok juga masih bisa?"

Insting intel saya mendadak  bertambah tajam. Apa itu alibi dia dan teman-teman lain untuk menyiapkan rencaan kejutan bagi saya? Pertanyaan itu terus berputar di kepala diikuti bunga-bunga bermekaran selama perjalanan pulang.

Setelah mandi dan beres-beres, hati saya masih deg-degan menunggu teman saya datang. Sampai waktu yang sudah ditentukan, sebuah motor terparkir di halaman rumah. Dia datang sendirian. Saya bergegas mengambil barang pesanan dan menghampirinya. Setelah menyerahkan sejumlah uang, tentu teman saya ini pamit pulang. Satu menit, dua menit, lima menit, hingga tiga puluh menit baru saya benar-benar sadar. Kedatangannya bukanlah alibi sebuah rencana kejutan untuk membuat saya terkesan. Rasanya, double kill.. Kenyataan kadang menyakitkan kawan.


Diajak Merayakan Ulang Tahun Orang Lain

Setelah dibuat patah oleh harapan, kini saya mencoba kembali pada kenyataan. Di hari ulang tahun saya yang terlampau istimewa itu, saya kembali mendapatkan notifikasi dari teman saya yang lain. Kali ini bukan untuk mengambil pesanan lagi tapi untuk merayakan ulang tahun temannya. WTfun, come on friend, temanmu yang satu ini juga sedang ulang tahun  Akhirnya kumenangis… membayangkan betapa kejamnya dirimuu atas dirikuuu…. Mendadak muncul backsond Rossa :’)  sungguh Triple Kill yang sangat tidak gokil.



Tradisi Keluarga yang Lupa

Oke, nggak papa kalau teman-teman lupa. Toh masih ada harapan terakhir, keluarga. Tapi tidak ada orang di rumah saat saya pulang, seperti biasa. Orang tua sibuk kerja. Malangnya, sampai saya tidur dan keesokan harinya pun tidak ada tanda-tanda orang tua ingat hari itu  Dan terjadi lagii.... Kisah lama yang terulang kembalii… *sekarang ganti backsound Paterpan sodara-sodara.

Saya memang dilahirkan di tengah-tengah keluarga yang sederhana. Setiap hari adalah hari yang sama di keluarga saya. Cuma beda pas hari raya doang karena libur. Selebihnya flat. Keluarga saya nggak mengenal perayaan ulang tahun. Nggak ada roti. Nggak ada ucapan. Bahkan sampai detik ini saya belum pernah  tau gimana rasanya diucapin orang tua saat ulang tahun.

Meskipun begitu, kehadiran kedua orang tua yang lengkap sampai detik ini tetap menjadi rasa syukur saya dalam hati. Meskipun tanpa ucapan, saya tetap bisa merasakan rasa sayang dan cinta mereka yang terlalu besar untuk didefinisikan.


Beli Bakso

Sebenarnya cerita ini diluar hari ulang tahun saya. Tapi karena masih berhubungan jadi akan saya tuliskan sekalian. Tepatnya tanggal 12 Mei. Setelah melaksanakan tour ke berbagai macam pantai dan destinasi wisata lainnya di Bali, saya benar-benar merasa lelah malam itu. Namun, tiba-tiba salah satu teman kamar saya berujar, “Ayo beli bakso!”.

Bakso adalah salah satu makanan favorit saya. Tentu saja, secapek apapun kalau sudah menyinggung soal bakso akan berubah secepat kilat jadi bersemangat untuk ikut. Saat hendak membuka pintu, saya justru dikejutkan oleh roti dan lilin yang dibawa oleh teman saya yang lain.

Saya dan sahabat

Padahal saya sudah tidak berharap apa-apa lagi. Nyanyian lagu ulang tahun dari mereka yang menggema di kamar membuat hati saya terketuk. Di ulang tahun yang sudah saya cap bitter itu akhirnya bisa menjadi sweet juga. Berkat mereka.

Padahal kalau dipikir-pikir, siapa yang mau menjual bakso di tengah malam? Saat itu sudah menginjak pukul 12 malam. Setelah saya telisik, bakso adalah kode rahasia yang mereka gunakan  teman saya yang lain untuk masuk.

Bahkan teman-teman saya itu sampai rela menghibungi pihak hotel untuk mematikan alarm asap supaya bisa menyalakan lilin di ruangan. Saya sampai dibuat tidak bisa berkata-kata. Saya sangat bersyukur dipertemukan oleh orang-orang baik seperti mereka.

Dari kisah ini, saya bisa belajar bahawa ;
Berharap pada manusia adalah bentuk kekecewaan paling nyata.

Itulah cerita bitter sweet seventeen saya? Kalau cerita seventeen kalian gimana? Jangan lupa tinggalkan jejak di kolom komentar ya!

With love,

You May Also Like

0 Comments