Lost In Kota Tua Story - [Jourans] Journey of Rhans

Selasa, 23 April 2019

Lost In Kota Tua Story

andayanirhani.com - Cerita ini bermula ketika dua bulan yang lalu saat saya menghadiri undangan acara sebagai 50 besar finalis lomba short movie yang diadakan Bank Indonesia yang ada di Jakarta.

Singkat cerita, malam itu tepatnya tanggal 2 Maret 2019 adalah hari kedua sekaligus hari terakhir acara Netizen Festival diselenggarakan. Untuk mengisi waktu luang saya memilih bergabung bersama rombongan dari salah satu teman baru yang saya kenal sehari sebelumnya. Berkat dia aku bisa bertemu dengan teman-teman yang luar biasa mengasyikan.


Awalnya kita membuat janji untuk berkumpul bersama di lobi hotel setelah badha Isya untuk berjalan-jalan menyusuri kota Jakarta. Setelah semua orang berkumpul, kita bergegas menuju ke halte trans Jakarta yang ada di sebrang hotel. Selama menuju ke halte ini saya sempat berbincang-bincang kepada peserta lainnya yang mayoritas adalah mahasiwa di beberapa kota di Jawa Timur. Dia kira bahwa saya adalah masiswa. Alhasil, syok. 

Muka saya boros banget kali ya sampe dibilang sudah mahasiswa? kata saya dalam hati. 

Saat itu saya bahkan malu mengakui kalau saya masih SMA hahaha karena mungkin wajah saya  yang terlihat (sudah) dewasa.

Kembali ke laptop. Dalam rombongan yang terdiri sepuluh orang ini hanya ada dua orang perempuan, termasuk saya. Satu perempuan lainnya juga berasal dari wilayah yang sama dengan anggota lainnya.

Tempat wisata yang menjadi tujuan pertama kita adalah kota tua. Tak butuh waktu lama, dari halte depan hotel tempat kita menginap hanya butuh waktu sepuluh menit saja untuk sampai di lokasi. Di sepanjang jalan dari halte menuju lokasi saya juga sempat berkenalan dengan seorang anggota yang lain, tapi setelah kenalan ini saya lupa namanya. Ya memang  saya ini agak susah untuk menghafal nama seseorang secara langsung.


Next, sesampainya di jalan depan Kota Tua, kita disambut dengan nuansa yang sangat kental dengan kota Jakarta. Apalagi kalau bukan lalu lintas yang macet dan padat. Setelah menyebrang melewati keramaian, rombongan kita mulai memasuki pintu gerbang. Sebagian dari kita ada yang memilih mengabadikan momen dengan berfoto,  membuat konten vlog (maklum, orang-orang creator mah gitu) bahkan ada yang nggak ngapa-ngapain dan memilih mengamati keramaian suasana malam itu, saya termasuk salah satunya. 

Ada beberapa hal yang akan menyambut kita saat pertama kali melangkahkan kaki di lokasi Kota Tua ini. Mereka adalah para pedagang asongan yang ada di sisi kanan dan kiri jalan serta manusia patung dengan kostum nyentriknya. Ada yang berkostum jas bak tokoh pahlawan dengan tubuh yang dicat berwarna senada dengan properti sepeda ontelnya hingga mbak-mbak cantik ala princess Disney dengan kereta kencananya.

Saat sedang menikmati suasana tenang malam itu, tiba-tiba rombongan kita digemparkan oleh salah seorang anggota tim yang hilang. Orang tersebut adalah orang yang  berkenalan dengan saya sebelumnya. Tak butuh waktu lama, ketegangan itu mulai memudar dengan datangnya seorang pemuda dengan membawa sebungkus cilok. Beberapa orang dari rombongan bersorak dan meneriakinya.

Setelah kejadian itu, rombongan kita kembali melanjutkan perjalanan menuju ke museum Fatahillah. Baru beberapa kali melangkah, pandangan saya seakan ditarik paksa pada permainan musik keroncong yang ada di sisi kanan jalan. Dejavu, momen ini mengingatkan saya pada suatu hal yang nggak pernah ingin saya ingat kembali. Bahkan lagu yang mereka mainkan adalah lagu yang sama seperti tiga tahun lalu. Tak ingin menyia-yiakan kesempatan, saya segera mengambil ponsel dan memvideonya sebagai kenang-kenangan. Satu dua lagu telah terlewati. Tak terasa saya telah berdiri lama di tempat tersebut dan berujung hilang dari radar rombongan. 

Awalnya saya berfikir bahwa posisi rombongan tersebut tidak akan berada jauh dari tempat saya berada. Dan benar saja, saya mendengar suara salah satu anggota perempuan di sekitarku. Saat mengendarkan mata ke segala penjuru, saya melihat seorang perempuan pemilik suara itu. Tanpa ragu sayapun mengikuti langkahnya hingga sesampainya di persimpangan jalan, saya terkejut bukan main. Perempuan yang ku ikuti bukanlah anggota rombonganku. Hanya suara dan kerudung yang digunakan saja yang sama. 



Museum Fatahillah yang berwarna putih gading bercahaya malam itu. Kecemasan mulai menggelayut dalam benak saya. Entah kenapa, seharusnya saya tidak perlu takut tersesat karena saya memiliki banyak keluarga yang tinggal di Jakarta. Tinggal menghubungi salah satu dari mereka saja dan pasti saya akan dijemput. Tetapi tidak, saya tidak ingin kakak-kakak dalam rombongan itu khawatir. Terlebih lagi saya belum sempat bertukar nomor dengan mereka.

Seiring berjalannya waktu, saya mulai kehilangan arah. Tak berselang lama, seseorang pemuda yang berjalan dari arah belakang datang. Dia berjalan lurus begitu saja di depan saya. Pandangan saya segera tertuju pada sepatu yang dipakainya. Sepatu kets berwarna putih. 

Saya yakin itu dia, lirih saya dalam hati.

Sayapun segera mengikuti langkahnyanya namun, tepat setelah sampai di depan Museum Fatahillah dia berbalik dan bertanya kepadaku, “Kenapa ngikutin aku?”

Pertanyaanya membuat saya terkejut. Sayapun berusaha bersikap tenang meski ada sedikit rasa takut. Saya menjelaskan perlahan latar belakang saya bisa tertinggal oleh rombongan.

Awalnya pemuda itu tidak mengakui bahwa dia adalah orang yang sama yang berkenalan dengank saya beberapa saat yang lalu. Tetapi saya yang tetap kekeuh menjelaskan dengan alasan, bahwa sepatu yang dipakai itu sama persis dengan pemuda yang  saya kenal. Akhirnya dia menyerah dan mengaku.



Setelah bersitegang itu kita berdua berjalan menyusuri Kota Lama untuk mencari teman-teman satu rombongan yang lain. Namun tak lama, fokus saya beralih dengan kuliner malam yang disajikan oleh pedagang yang berjualan di bahu jalan. Pada akhirnya saya memutuskan untuk membeli es potong, es selendang mayang dan beberapa gelang untuk oleh-oleh teman.

Malam semakin larut, waktu menunjukan hampir jam sepuluh malam. Saat hendak membayar souvenir yang saya beli, ponsel saya bergetar. Panggilan pesan tak terjawab memenuhi layar ponsel. Saat kuangkat, suara nyaring dengan volume yang maksimal membuat gendang telinga saya terkejut.

Setelah panggilan itu kita segera menuju ke tempat yang telah diberitahukan oleh salah satu anggota rombongan. Butuh beberapa waktu lagi untuk menemukan mereka. Dan satelah bertemu, pecahlah suasana damai malam itu. Senior-senior lainnya menghujani saya dengan pertanyaan. Senior yang lain juga mengintrogasi pemuda yang hilang bersama saya hingga hendak baku hantam (tapi hanya acting ya hahaha). Awalnya mereka mengira bahwa kita berdua telah janjian untuk jalan berdua karena saat perjalanan kita berkenalan. Padahal tersesatnya kita  murni dan alami tanpa drama.

Tak lama setelah pertemuan itu. Sirine nyaring berbunyi, pertanda bahwa waktu telah menunjukan pukul 10 malam dan lapangan depan museum Fatahillah harus dikosongkan. Kami pun meninggalkan kota Tua dan meneruskan perjalanan ke Monas. Di sana kita membeli makan malam dan bertukar cerita masing-masing. Pengalaman yang begitu berharga bagi remaja muda seperti saya. Saya bisa mengenal orang lain yang lebih tua, mendengar pengalaman-pengalaman hidup dari mereka, sekaligus membuka pemikiran saya terhadap arti dunia yang sebenarnya.

Saya bersyukur kepada Tuhan yang telah memberi kesempatan berharga pada saya tahun ini karena telah mempertemukan saya dengan orang-orang yang istimewa, orang-orang yang selalu berfikir positif dan produktif. Saya juga berterimakasih kepada pihak Bank Indonesia karena telah membuat acara yang semenarik ini sehingga saya bisa bersilahturahmi dengan teman-teman se-Indonesia.

Terimakasih telah membaca pengalamana Rhani kali ini. Semoga bermanfaat dan dapat menginspirasi. Oh iya, dari cerita ini aku belajar bahwa jangan pernah panik saat tersesat. Karena situasi yang tegang tidak akan bisa membuatmu berfikir jernih. Tenanglah, setidaknya jika kehadiranmu berarti, tidak ada alasan bagi mereka untuk tidak mencari.

Salam literasi,




Tidak ada komentar:

@andayanirhani