Asal Usul Desa Montongsari - Andayani Rhani

Sabtu, 13 April 2019

Asal Usul Desa Montongsari


Saat di sekolah khususnya di jenjang Sekolah Menengah Pertama (SMP) , tentu kita akan mempelajari bab tentang legenda.
Secara istilah, legenda adalah salah satu cerita rakyat yang mengisahkan asal-usul sebuah tempat ataupun benda dan biasanya disebarkan secara turun-temurun dari mulut ke mulut. 
Wilayah Indonesia yang tersebar dari Sabang sampai Marauke membuat negara tercinta kita ini kaya akan segala hal, termasuk legendanya. Ada legenda fenomenal Malin Kundang tentang anak yang durhaka kepada orang tuanya dari Sumatra Barat, legenda Danau Toba, legenda Batu Gantung dari Sumatra Utara, legenda Jaka Tarub, dan legenda-legenda lainnya. Walaupun belum terjamin akan fakta atau kenyatannya. Mayoritas masyarakat Indonesia sangat meyakini legenda-legenda tersebut. 

Namun seiring berjalanannya waktu dan perkembangan zaman. Eksistensi legenda saat ini semakin tersingkir dengan menjamurnya cerita kehidupan yang terdapat di novel-novel atau karya lain. Terlebih lagi para remaja masa kini lebih menyukai cerita-cerita romansa cinta daripada legenda. Apakah kalian salah satunya? 

Sumpeng atine (sedih), itulah salah satu tembung entar yang menggambarkan perasaan saya beberapa tahun lalu. Saat dimana saya belum mengetahui bagaimana asal usul daerah yang sudah bertahun-tahun saya tinggali. Dan pada kesempatan pertama ini,saya akan menuliskan tentang asal usul desa saya sendiri. Yakni Desa Montongsari. Salah satu desa yang berada di Kecamatan Weleri, Kabupaten Kendal, Jawa Tengah. 

Cerita ini adalah hasil wawancara saya dengan mbah Sarnan, selaku sesepuh Desa Montongsari yang aku laksanakan kurang lebih enam tahun lalu untuk memenuhi penilaian tugas bahasa Jawa di kelas VIII SMP. Dari pada mendekam di file penyimpanan. Rasanya akan lebih arif jika saya share sebagai penambah wawasan. Semoga bermanfaat bagi para pembaca sekalian, khususnya untuk penduduk desa Montongsari dan sekitarnya, serta bisa membantu adik-adik sekalian apabila mendapat penugasan dari sekolah yang sama seperti saya.

Selamat membaca ;)

Asal Usul Desa Montongsari
Pada zaman dahulu desa Montongsari masih berupa hutan. Hingga datanglah Yai Blojo Musti dan Nyai Blojo Musti dari daerah Kedu. Mereka berdua bahu-membahu menebang pepohonan yang ada di hutan tersebut untuk di jadikan rumah.
Saat Yai Blojo Musti menebangi hutan, ia membawa bekal berupa nasi liwet bersama daging kambing. Oleh karena itu, kawasan yang ditebangi oleh Yai Blojo Musti dinamakan Montong Kemadu. Namun seiring berjalanan waktu kawasan tersebut lebih dikenal dengan nama Montong Kilen (barat) karena arahnya berada di barat. Di setiap tahunnya saat bulan Sura di daerah Montong Kemadu tersebut para penduduk mengadakan acara menyembelih kambing dalam rangka menghormati jasa Yai Blojo Musti.
Sepeninggal Yai Blojo Musti. Datanglah dua pasang saudara yang bernama Yai Rangu bersama Nyai Rangu dan Yai Sidah bersama Nyai Sidah. Mereka berdua menemukan hutan yang berada di sebelah timur desa Montong Kemadu. Hutan tersebut dipisahkan oleh sebuah aliran sungai. Yai Rangu bertugas untuk menebang hutan di daerah barat sungai. Sedangkan Yai Sidah menebang hutan yang ada di timur sungai.
Saat menebang hutan tersebut mereka membawa bekal berupa nasi liwet, tutus emas (berupa telur dadar), ikan asin, pepes , tela bakar dan juga kopi. Hutan yang ditebangi oleh Yai Rangu tersebut dinamakan Montong Tambak. Sedangkan daerah yang ditebangi oleh Yai Sidah lebih banyak di Tanami oleh berbagai macam tanaman dan juga dijadikan area persawahan karena memiliki tanah yang subur.
Setelah meninggal, kedua pasangan tersebut dimakamkan di daerah sebelah sungai. Dan setiap musim panen tiba, para penduduk mengadakan acara nyadran (slamatan) untuk menghormati jasa Yai Rangu dan Yai Sidah atas hasil bumi yang di dapat oleh penduduk desa.

Asal Usul Desa Montongsari

(dalam Bahasa Jawa)
Sakwijining jaman rumiyin dusun Montong punika arupa wono. Lan sakwijining dinten wonten Yai Blojo Musti kaliyan Nyai Blojo Musti sangking tlatah Kedu, linggah wonten wono. Piyambake mbabak taneman wonten wono kagem ndamel griya.
Sak jroning Yai Blojo Musti mbabak alas mbeta sekul kelucu kaliyan iwak mendha. Mula tlatah ingkang ditutui kaliyan Yai Blojo Musti punika di pun arani Montong Kemadu lan sak niki diarani Montong Kilen amargi arahe wonten kilen. Saben tahun wayah sasi Sura wonten Montong Kemadu punika ngawontenaken acara nyembelih mendha kegem pangeringeti jasanipun Yai Blojo Musti , kalih panjenenganipun Yai lan Nyai Blojo Musti dipunsareaken wonten sarean Montong Kilen.
Sakbanjure sedane Yai Blojo Musti wonten kalih pasang sedulur inggih punika Yai Rangu kaliayan Nyai Rangu lan Yai Sidah kaliyan Nyai Sidah , pinyambakipun nemungake wono wonten wetanipun tlatah desa Montong Kemadu. Yai Rangu mbabak wono wonten sak kilene kali. Bileh Yai Sidah mbabak wono wonten wetane kali. Sak jroning mbabak wono sak kilene kali Yai Rangu mbeta sekul liwet, tutus emas (arupa tigan dadar), gereh pethek, pepesan menir, tela bakar kaliyan unjukan kopi. Wono ingkang di pun tegori Yai Rangu niku di pun arani Montong Tambak kaliyan tlatah ingkang di tegori denen Yai Sidah punika di pun tanemi taneman lan didaekake saben amargi sitinipun sae.
Kekalihipun pasangan punika di sareaken wonten kilene kali. Saben wayah labuh di wontenake nyadran utawi slametan kagem ngurmati jasa nipun Yai Rangu kaliyan Yai Sidah kagem hasil siti nipun tiang Montong Tambak.

Cerita Asal Usul Desa Montongsari tersebut mengingatkan saya kepada pepatah bung Karno,

"Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa para pahlawannya"

dan pepatah tersebut telah ditunjukan oleh penduduk Montongsari. Mungkin juga oleh penduduk daerah lainnya. Sayang sekali bukan jika anak cucu kita nanti bertanya kepada kita tentang asal usul daerah yang mereka tinggali, tetapi kita sebagai orang tua justru diam membantu karena tidak tau?

Karenanya saya berharap tulisan ini dapat meningkatkan kesadaran bagi para pembaca akan pentingnya melestarikan budaya Indonesia. Walaupun berperan kecil dengan mempelajari satu kisah legenda sekalipun. Jangan sampai diri kita terlena akan kemajuan teknologi yang ada hingga menyebabkan kebudayaan kita sirna atau bahkan diakui oleh negara tetangga. 

Sekian yang dapat aku tuliskan pada kesempatan kali ini. Maaf apabila ada kesalahan dalam pemilihan kata atau gaya bahasa yang ada dalam tulisan. 
Terimakasih telah membaca sampai jumpa di postingan selanjutnya ^.^


Best Regards,

Tidak ada komentar:

@andayanirhani