Pengalaman Tour ke Museum Pers Nasional Surakarta

by - Mei 31, 2020

Baca Juga

Museum Pers Nasional di Surakarta

Apa yang terbesit di benak teman-teman ketika mendengar kata museum? Ruangan minim pencahayaan dengan suasana tempo lama yang kelam dan suram? 
Eits, itu kan dulu. Kalau sekarang beda cerita. Museum bisa jadi tempat dan sahabat yang menyenangkan dan kekinian. Salah satunya adalah Museum Pers Nasional yang ada di kota Solo.

Dalam rangka memperingati hari Pers Nasional, pada tanggal 14 Februari 2020 lalu Museum Pers Nasional (MPN) telah resmi dibuka kembali untuk publik dan memiliki wajah baru setelah menjalani revitalisasi selama beberapa waktu. 

Source : Facebook Museum Pers Nasional
Kegiatan Soft Opening dibuka secara simbolis dengan acara pengguntingan pita yang dilakukan oleh Prof. Dr. Widodo Muktiyo, Dirjen Informasi dan Komunikasi Publik. Nuansa suram dan kelam kini tinggal kenangan, karena setiap sudut tempatnya telah disulap menjadi ruangan yang serba hidup dan mengasikkan ditambah dengan sentuhan teknologi.


Bangunan Monumen Pers Nasional

Miniatur Bangunan Monumen Pers Nasional

Bangunan Induk Monumen Pers Nasional merupakan tempat lahirnya Solosche Radio Vereeniging, radio publik pertama yang dioperasikan anak bangsa pada tahun 1933. Gedung ini dirancang oleh seorang putra bangsa, Mas Aboekassan Atmodirono, yang menggabungkan antara arsitektur Indische dan Hindu-Jawa. 


Sekilas Tentang Sejarah Hari Pers Nasional (HPN)

Kongres Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) 9-10 Februari 1946 berlangsung di gedung Societeit Sasana Soeka (Societeit Mangkoenegaraan) yang kini menjadi Monumen Pers Nasional.

Tempat ini memiliki arti yang sangat penting dalam sejarah pers karena menjadi tempat Kongres Wartawan Indonesia pertama setelah enam bulan Indonesia merdeka.

Peristiwa inilah yang akhirnya menjadi dasar ditetapkannya Hari Pers Nasional oleh presiden Soeharto yang jatuh pada tanggal 9 Februari setiap tahunnya. 


Lokasi Museum Pers Nasional

Museum yang memiliki konstruksi seperti candi ini berada di Jalan Gajah Mada no. 59, Banjarsari, Surakarta- Jawa Tengah. Lokasinya di sudut jalan Gajah Mada dan Jalan Yosodipuro, berada di sebelah barat Istana Mangkunegaraan, tepat di sebelah kantor Kominfo Solo. Tidak jauh dari pasar Triwindu.

Kompleks Museum Pers terdiri dari bangunan asli Sasana Soeka, dua gedung berlantai dua, dan satu ruang gedung berlantai empat.

Saya di Depan Papan Pengumuman Museum Pers Nasional

Di depan museum terdapat lapangan parkir dan dua papan pengumuman yang dilengkapi dengan Koran gratis (Solo Pos, Suara Merdeka, dan Republika). Fasad di depannya dihiasi desain naga yang melambangkan tahun 1980 ketika pembangunan museum ini selesai.

Lalu, ada apa saja yang bisa kamu temui di dalam museum ini? Simak cerita saya di Pengalaman Tour ke Museum Pers Nasional Surakarta sampai selesai ya.

Setelah acara peresmian, acara yang paling ditunggu-tunggu selanjutnya adalah museum tour. Dipandu dengan seorang kurator cantik. Rombongan, sekaligus saya, mas riski dan mbak Aden, anggota komunitas Remaja Solo Pecinta Sejarah (Jas Merah), mengekor di belakang. Walau sering ilang-ilangan karena keasyikan membaca hehehe….


Saat pertama kali kita menginjakkan kaki di tempat ini, saya disuguhkan suasana yang lebih fresh. Berbeda dari museum-museum lain, tempat untuk mengambil tiket di museum pers didesain menyerupai lobi hotel.

Ada juga tugu peresmian yang berdiri tegak  berhadapan dengan meja lobi. Pencahayaan di museum pers sangat cukup memadahi. Jauh dari suasana kelam, suram, ataupun sunyi. Jika kamu lelah dan dehidrasi, dapat menuju ke tempat minum yang ada di sebelah kanan dari arah pintu masuk.


Tokoh Pers Nasional

Tokoh Pers Nasional

Di samping lobi museum sebelah kanan dan kiri, kamu akan menemukan jajaran patung tokoh pers Nasional. Diantaranya adalah Dr. GSSJ Ratulangi, R.M. Tirto Adhi Soerjo, R. Darmosoegito, R.M. Soedarjoo Tjokrosisworo, dan Djamaluddin Adinegoro di ruas sebelah kanan.

Serta R.M Bintarti, Dr. Danoedirdja Setiaboedi, Dr. Abdoel Rivai, R. Bakrie Soeriaatmadja dan Soetopo Wonobojo di sisi kiri jika menghadap pintu masuk.


Informasi tentang Hoax di Indonesia

Setelah melewati lobi dan masuk ke area dalam, kamu akan menemukan berbagai macam informasi tentang Indonesia. Salah satunya tentang hoax.

Hoax di Setiap Era Indonesia
Pepatah bilang, buah jatuh tidak jauh dari pohonnya? Begitu pula dengan Indonesia. Selain kaya akan budaya, istilah hoax yang populer beberapa tahun terakhir ternyata sudah ada sejak era presiden pertama Indonesia. Nggak percaya? Nih ada buktinya. Papan panjang di atas memuat informasi tentang tingkatan hoax dari presiden pertama di Indonesia.



Koleksi Buku dan Koran


Di tengah-tengah ruang pameran, terdapat meja panjang yang menampung beberapa buku tentang dunia pers. Buku-buku tersebut diantaranya adalah Ensiklopedi Pers Indonesia, Sejarah Pembreidelan Pers Indonesia karya Edward C. Smith, serta Almanak Pers Indonesia 1995.


Di setiap sisi ruangan Musum Pers, terdapat beberapa bingkai surat kabar nasional. Diantaranya adalah Banjarmasin Post, Koran Tempo, Waspada, dan Kompas yang mengangkat berbagai macam isu nasional.


Ruang Pamer dengan Fitur QR Code

Di Museum ini terdapat ruang pamer khusus yang berada di dalam ruangan. Di dalamnya terdapat surat kabar lama yang disimpan di dalam meja yang dilindungi kaca.
Tutorial Penggunaan QR Code di Museum Pers Nasional

Menariknya, ruangan pamer ini menggunakan teknologi QR Code untuk memuat informasi karya-karya di dalamnya. Nggak punya kuota untuk download QR Code? Tenang, di ruangan ini terdapat Wi-Fi Zone sekaligus panduan atau tutorial yang akan membantumu. 

Di ruang pameran, terdapat rangkuman perjalanan Kerajaan Mangkunegaraan.


Radio Kambing

Menurut saya, koleksi satu radio pemancar ini paling menarik. Dalam cerita yang sering di ceritakan guru sejarah dominan adalah para perjuang yang turun ke jalan. Padahal ada juga pejuang kemerdekaan yang berjuang dan berkontribusi untuk kemerdekaan Indonesia dengan profesinya, salah satu buktinya adalah radio pemancar yang digunakan berjuang oleh para wartawan ini.

Radio Kambing di Museum Pers Nasional

Pada Agresi Militer Belanda II, pihak Belanda sempat mencekal penyiaran dan hendak mengambil aset-aset radio di sejumlah daerah. Keadaan ini semakin dipersulit oleh kebijakan pemerintah yang juga melarang adanya penyiaran.

Akhirnya para pejuang berinisiatif untuk mengungsikan pemancar dari RRI Surakarta. Meski sempat ketahuan dan mendapat serangan dari Belanda, pemancar tersebut berhasil diungsikan ke tempat persembunyian warga yang berada di Lereng Gunung Lawu, Jawa Tengah.

Dari penuturan mas Riski, radio pemancar kambing ini digunakan oleh para pejuang yang berprofesi sebagai wartawan untuk mengirimkan berita secara diam-diam. Dinamakan sebagai radio kambing oleh pendengar RRI saat itu, sebab pada saat on-air sering terdengar suara kambing yang berasal  dari kandang kambing yang letaknya tidak jauh dari lokasi.

Simulasi Perjuangan Wartawan dengan Radio Kambing

Seperti yang saya sebutkan di awal, museum ini memadukan unsure teknologi di dalamnya. Salah satunya adalah simulasi perjuangan para wartawan melalui raduo kambing ini. Untuk melihat ilustrasi radio pemancar yang tidak kasat mata, kamu wajib menggunakan gadget yang sudah disetting untuk menampakkan ilustrasi 3D seperti yang dilakukan mbak Aden ini.


Koleksi Mesin Tik


Di museum ini juga terdapat berbagai macam jenis mesin tik. Salah satunya adalah mesin tik merk Continental yang pernah menjadi mesin tik paling populer di Jerman pada masanya.


Koleksi Lain di Museum Pers Nasional

Museum Pers Nasional memiliki lebih dari satu juta surat kabar dan majalah sejak masa sebelum dan sesudah Revolusi Nasional Indonesia yang berasal dari berbagai daerah di Nusantara.

Koleksi Lain Museum Pers Nasional

Koleksinya meliputi teknologi komunikasi dan teknologi reportase, seperti mesin ketik, radio pemancar, telepon, kamera, kentongan besar hingga artefak.


Perpustakaan Museum Pers

Perpustakaan Museum Pers Nasional

Letak perpustakaan ini berada di lantai atas. Di perpustakaan ini mengoleki berbagai macam buku. Ketika menjelajah lebih jauh, kita dapat membaca bingkai lembaran surat kabar tempo dulu dengan ejaan Soewandi, atau ejaan lama. Yang typing-nya masih menggunakan oe, tj, dan sebangsanya itu. Disebut sebagai ejaan Soewandi, karena beliau menjabat sebagai mentri pendidikan dan kebudayaan saat itu.


Selain Bataviaasch Nieuwsblad, Tjahaja India, dan lainnya. Salah satu surat kabar yang paling legendaris dan sering tertulis di buku sejarah adalah De Locomotief. Surat kabar ini merupakan koran pertama yang terbit di zaman Hindia-Belanda.


Harga Tiket Museum Pers Nasional

Saat berkunjung ke destinasi wisata pasti hal pertama yang terbesit di benak adalah;
Berapa sih harga tiket masuknya? 
Kabar baiknya, mengunjungi museum pers nasional ini tidak dipungut biaya sepeserpun alias gratis. Selain wisatawan, target pengunjung dari museum ini adalah mahasiswa untuk menunjang studinya dan masyarakat umum. 


Seminar Nasional Tiap Tahun

Setelah acara soft opening dan tour museum selesai dan Jelajah Rasa Selat The Vien's. Acara selanjutnya adalah Seminar Nasional bertema “Refleksi Sejarah Pers Indonesia melalui Revitalisasi Monumen Nasional”.

 Fyi, seminar ini selalu di selenggarakan setiap tahunnya loh. Acara yang dilaksanakan di Pedan Room, Hotel Sahid Jaya Solo ini diisi oleh 3 orang-orang hebat yang di moderatori oleh mbak Safitri Damayanti, seorang penggiat sejarah.

Dari kiri : Pak Kemala, Kang Asep, Mbak Damayanti, dan Pak Joedo
Source. Facebook Monumen Pers Nasional
Salah tiga dari narasumber yang berkesan bagi saya adalah Bapak Kemala Atmaja, seorang wartawan senior yang menjadi kontributor koleksi di Museum Pers Nasional.

Teman-teman ingat atau tahu keliping? Tugas saat zaman kita sekolah dasar itu, ternyata bisa mengantarkan seseorang menjadi kolektor barang cetakan pertama yang paling dicari di dunia.

Dialah Bapak Kemala Atmaja ini, dalam seminar tersebut beliau menuturkan bahwa hampir semua koleksinya diberikan untuk Museum Pers Nasional. Bahkan ada beberapa kolektor dari negara asing yang jauh-jauh menemui beliau untuk membeli salah satu koleksi langkanya dan berakhir dengan kekecewaan karena ditolak. 

Untuk itu, kita patut bangga memiliki Museum Pers Nasional dan anak bangsa seperti pak Kemala Atmaja dengan sikap cinta tanah airnya. Sayangnya, saya tidak berkesempatan untuk berfoto dengan beliau karena terburu-buru pulang setelah mengisi seminar.

Sesi Tanya Jawab Setelah Seminar
Source : Facebook Museum Pers Nasional
Pembicara ke dua ada Bapak Hanitianto Joedo dari Solo Museum Society yang berbicara tentang pemberdayaan museum.  Jika teman-teman menyukai sejarah dan museum, kalian juga bisa bergabung menjadi anggota Solo Museum Society. Di sana kalian bisa menemukan teman baru, berdiskusi dan membuat berbagai macam kegiatan seputar museum dan cagar budaya di Solo Raya.

Untuk info selengkapnya kalian bisa menghubungi email ; solomuseumsociety@gmail.com atau website : www.solomuseumsociety.org

Kang Asep dan Saya
Pembicara terakhir ada Kang Asep Kambali, seorang public speaker sekaligus pendiri Komunitas Historia Indonesia. Kamu suka sejarah dan mau berkontribusi di dunia sejarah? Bisa banget untuk gabung di komunitasnya. Bagi saya Kang Asep ini pemuda keren. Kenapa? 

Tentu kalian nggak asing dan sering melihat sosok pahlawan di mata uang kertas Indonesia dong. Nah, Kang Asep inilah salah satu dari empat orang yang memilih pahlawan-pahlawan di mata uang Indonesia. Khususnya pahlawan bernama Frans Kaisiepo yang berasal dari timur Indonesia, di mata uang sepuluh ribu. Beliau nggak hanya sekedar mengusulkan. Tetapi juga mempelajari dan mengerti tentang sejarah pahlawan-pahlawan tersebut. Hebat kan?

Kata-kata inspiratif yang paling membekas dalam benak saya dari kang Asep ini adalah,

Siapa yang tidak mau difoto maka tidak akan ada dalam sejarah. -Asep Kambali

Sebelum bertemu beliau, saya sempat memiliki prinsip tidak mau menampakkan wajah difoto. Tapi setelah mendengar kata-kata beliau ini, saya jadi sedikit punya pandangan lain tentang arti foto dan sejarah.


Berkunjung ke Museum Pers Surakarta

Source : Facebook Museum Pers Nasional
Tertarik untuk mengunjungi museum ini? Museum Pers Nasional menerima kunjungan baik individu atau kelompok kok, bagi teman-teman yang ingin tur museum dipandu oleh pemandu dapat reservasi terlebih dahulu melewati telepon 0271 711 494 atau lewat surel.  Seperti  kegiatan kunjungan museum yang dilakukan Institut Agama Islam Negeri Salatiga di atas.

Eh tapikan sekarang sedang PSBB? 

Nggak perlu khawatir, apa sih yang sekarang nggak bisa buat kamu? Eh kok jadi halu. Kemajuan teknologi kan sudah memudahkan segalanya. Mendekatkan yang jauh, menjauhkan yang dekat. Eh engga deng, bercanda.

Source : Facebook Museum Pers Nasional
Kabar baiknya, untuk kamu yang ingin mengunjungi dan menelisik museum pers namun terkendala jarak, bisa mengunjungi Official Instagram atau Youtube Channel Museum Pers Nasional.  Di sana kamu bisa melaksanakan tour Virtual dalam rangka #MuseumFromHome dan menemukan berbagai informasi tentang dunia pers.

Dunia Jurnalistik Indonesia tidak lepas dari sejarah perjuangan Indonesia. Monumen Pers Nasional Surakarta adalah Referensi Utama bagi Kesejahteraan Pers dan Bangsa Indonesia. Datangi, pelajari, dan pahami sejarahnya di Monumen Pers Nasional. #Monpersreborn

Itulah pengalaman selama mengikuti tour dan seminar di Monumen Pers Nasional, sekaligus informasi yang mungkin bisa membantu kamu sebagai pembaca.

Kalau kamu sudah pernah mengunjungi museum mana saja nih? Atau pernah memiliki cerita menarik ketika mengunjungi museum? Silahkan cerita di kolom komentar ya! 

Nggak usah takut dikacangin karena disetiap kesempatan (biasanya malem-malem waktu insom) saya akan dengan senang hati membaca serta membalas komentar kalian. Sampai jumpa di tulisan bertema Travel selanjutnya!

With love,


You May Also Like

36 Comments

  1. wah , baru tahu ini, ok, nanti bakal didatangi juga

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah iya mbak, jangan lupa bawa keluarga ya ^^

      Hapus
  2. Kalo museumnya cantik kek gini ya ga bakal bosen. Apalagi gratis hihi. Pengen ke sana deh jadinya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehe betul kak, saya juga betah kalau di suruh berlama-lama di sana 😊 soalnya tempatnya emang bersih dan nyaman

      Hapus
  3. Iya ya. Saya jadi ingat tanggal 20an Mei ada tour museum gratis di IG. Saya lupa! Padahal tahu saat itu ada Hari Museum.
    Huhuhu. Baca ini jadi ingatdan agak menyesal, nih.

    BalasHapus
  4. Kalau melihat museum ini, merasakan begitu panjang perjuangan mereka ya. Mungkin kalau para penggiat pers zaman dulu masih hidup, menangislah ia melihat pergerakan hoax zaman sekarang.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ah ya setuju banget kak 😭 kemajuan teknologi memang selalu membawa hal positif dan negatif bersamaan yang nggak bisa di elakkan

      Hapus
  5. Eh aq pikir yang namanya museum itu menyimpan barang2 kerajaan zaman dulu gitu. Ternyata ada juga ya museum pers..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya kak, ada 😊 kalau museum pers menyimpan berbagai hal tentang pers. Di Solo juga ada loh museum yang menyimpan barang-barang kerajaan zaman dahulu

      Hapus
  6. Ngilerrr banget baca dari atas sampai bawah. Kereen. Baru tau ada Museum pers ini. Kalo ke Surakarta wajib mampir ke sini. Thanks for sharing kak

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama-sama kak 😊 ditunggu cerita mampirnya hehhe

      Hapus
  7. museum sekarang bagus-bagus tatanannya, jadi nggk heran kalau peminat untuk berkunjung ke museum juga banyak.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya kak betul, semoga selalu terjaga ya kondisinya

      Hapus
  8. Keren nih semoga ada kesempatan berkunjung ke Museum Pers ini. Anda hebat ih dapat kesempatan bertanya XD. Btw radio kambingnya lucuXD

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin, hehe iya kak... Beruntung bisa dapet kesempatan bertanya, di seminarnya orangnya hebat-hebat pula 😀

      Hapus
  9. Hihi iya kak.. memang kesan museum selalu remang dengan keadaan yang agak horor.

    Ternyata masuk ke museum pers ini gratis ya kak. Padahal keren banget dalamnya.
    Meski bisa berkunjung virtual, tapi nanti setelah pandemi berakhir kepengen datang langsung ke sana.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah keren kak, emang ya kalau ga mengunjungi tempatnya langsung rasanya ada yang kurang

      Hapus
  10. Baru tau kalo di Surakarta ada museum pers. Bolehlah kalo lagi ke Solo main ke museum ini

    BalasHapus
    Balasan
    1. Jangan lupa ajak keluarga sekalian kak hehhe 😊

      Hapus
  11. Waah jadi pengin main ke solo menikmati keindahan museumnya secara langsung.Dulu sewaktu saya kerja disana belum ada soalnya mbak. Ini museum baru yaa

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ah engga ko mas, sudah ada dari dulu banget malah. Sudah saya tuliskan di bagian pengantar 😊

      Hapus
  12. Waktu awal baca sempat mbatin: "harus bayar berapa nih, buat bisa masuk di museum ini?" Apalagi di tengah-tengah ada ruang pamer dengan QR code. Dan untuk mengaksesnya ada fasilitas free WiFi nya. Duh, jangan-jangan mahal, nih. Ternyataaaaaa, malah gratis. Kalau ada yang gratis-gratis gini kan aku jadi suka 😍. Ntar kalau situasi udah membaik dan ada kesempatan ke solo pasti bakal mampir ke museum ini deh aku.😆

    BalasHapus
    Balasan
    1. Siapp 😁 semoga segera reda ya mbak pandeminya biar rencana jalan-jalannya bisa terlaksana 😊

      Hapus
  13. iya nih, ada yang seru dengan musem from homme. pengobat kecewa karena tidak bisa kemana-mana. Radio Kambing cukup menyita perhatian saya, selain unik ini juga sangat bersejarah. thanks mbak, nice artuikel

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama-sama mbak 😊 saya juga sangat tertarik dengan benda yang satu ini. Ternyata kita sehati xixiixi

      Hapus
  14. Wow, jadi dapat informasi tentang museum pers nasional nih Mbak Anda... sebelumnya udah tau tp sekadar tau namanya aja, ini berasa kayak ikutan jalan2 ke museumnya nih di Solo, Tfs yaa Mbak

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama-sama mba, saya malah baru pertama kali tahu saat hadir di acara tersebut. Karena bergabung di lembaga pers saya jadi penasaran dan excited ikutan museum tournya hehehe

      Hapus
  15. Menarik ya, ini museumnya tempat kongres pertama persatuan wartawan di Indonesia pada waktu itu. Ada patung kepala tokoh pers nasional juga ini, bagus buat jadi spot selfie wisata sejarah. Tiket masuknya juga gratis. Surga banget ini buat pengunjung yang senang berwisata sejarah.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bener mba meu. Apalagi untuk teman-teman pers dan jurnalis 😊

      Hapus
  16. Menarik untuk wisata edukasi ini, eh gratis pula. keren banget kak.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya kak. Semoga lebih banyak yang tahu museum yang satu ini. Supaya adik-adik juga bisa rekreasi dan menikmati tempat ini 😊

      Hapus
  17. Sama dengan @Halaman Sekolah sangat bagus untuk wisata sekolah

    BalasHapus
  18. wah mbak anda suamiku kampung orangtuanya di solo, aku baru 2 kali ke sana. kapan2 mau ah liat langsung ini

    BalasHapus
  19. Museum museum seperti ini yang harus diperbanyak biar anak2 generasi milenial bisa paham ga hanya sejarah dan perjalanan panjang pers

    BalasHapus
  20. Waahhh makasih udah mengabadikan isi museum di blog ini mbak. Belum bisa berkunjung langsung.
    Moga byk anak muda yg baca ini juga biar ada ketertarikan buat ke museum yaa..

    BalasHapus