Pengalaman Mendaki Gunung Prau 2565 Mdpl melalui Jalur Patak Banteng

by - Mei 27, 2020

Baca Juga


Sudah punya planning atau to do list apa saja setelah pandemik covid-19 ini berakhir? Mungkin menikmati keindahan bumi pertiwi dengan mendaki bisa jadi salah satu referensi liburan melepas penat selama #dirumahaja.

Salah satu gunung yang menjadi favorit pendaki pemula dan memiliki medan yang mudah ditaklukan adalah Gunung Prau.

Gunung Prahu merupakan salah satu gunung yang berada di Jawa Tengah, tepatnya di Jl. Dieng No.KM, Patakbanteng, Kejajar, Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah. Gunung yang berada 2565 meter di atas permukaan laut (Mdpl) ini menjadi tapal batas 3 kabupaten, yaitu Kabupaten Wonosobo, Batang, dan Kendal.

Seperti judul tulisan ini, saya akan berbagi pengalaman pertama mendaki gunung Prau melalui jalur Patak Banteng. Bagaimana kisahnya? Let get start it!


Awal Mula Ide Mendaki


Saat duduk di bangku kelas 1 SMA diusia yang masih 15 tahun kala itu, saya bertemu beberapa orang yang memiliki hobi serupa meski tak sama, jalan-jalan. Hingga suatu waktu, tercetuslah ide untuk mendaki gunung Prau.

Padahal di antara kami tidak ada seorangpun yang pernah mendaki sebelumnya. Jadi, perjalanan kali ini adalah cerita petualangan kami yang bisa kalian anggap sebagai petualangan pendaki nub yang sesungguhnya.

Setelah batal melakukan pendakian pada bulan Agustus karena acara akbar di sekolah, kegiatan mendaki ini akhirnya dilaksanakan pada bulan Oktober. Tepat di malam satu suro. Padahal saya sudah cerita dengan bangga ke Ehsan kalau mau mendaki, eh malah nggak jadi. Ditunda lebih tepatnya, hihihi...

Agar tidak kebanyakan absen, kami sepakat mulai melakukan perjalanan pada hari Jumat seusai kegiatan sekolah.


Persiapan Mendaki


Jam 1 siang, ketiga teman sudah berkumpul di teras rumah saya. Tim pendaki nub ini terdiri dari 2 orang pria dan 2 orang perempuan (termasuk saya).  Sebut saja kami berempat Upin, Ipin, Mei-mei, dan Susanti. Karena saya tidak comel, maka anggaplah saya sebagai Susanti di cerita ini. Sebenarnya Apin ingin kita ajak, tapi masih rindu maknye katanya. Jadilah kita berempat saja.

Tak butuh waktu lama, persiapan selesai. Kami berempat menggunakan 2 kuda besi menuju Kabupaten Wonosobo beserta empat tas ransel seadanya. Jarak rumah saya yang berada di kabupaten Kendal ke Wonosobo kurang lebih 33 kilometer.


Cerita Selama Perjalanan

Belum sampai setengah perjalanan, sebelum daerah Wonosobo, langkah kami terhenti karena awan hitam datang dan menurunkan rintik air hujan. Kami berteduh dan mencari tempat untuk mengisi perut, mengingat kami belum sempat makan siang sebelum berangkat.


Warung sederhana milik warga setempat menjadi tempat singgah kala itu. Nasi soto dengan kuah kuning yang hangat menjadi pilihan kami berempat. Canda dan obrolan ringan menjadi pemecah suasana meski tak lama, sembari menunggu hujan reda.

Ketika cuaca mulai bersahabat, kami kembali menyusuri jalanan utama. Menembus suhu udara yang dingin. Dengan kabut yang menyambut dari berbagai arah. Beberapa jam berkendara, air hujan kembali turun dengan deras. Cahaya matahari entah hilang kemana. Jam di tangan masih menunjukan pukul 4 sore lebih sekian, namun keadaan diluar sangat gelap, seperti malam.

Kami memutuskan berteduh di SPBU dan melaksanakan shalat Ashar. Beruntung, kami bertemu dengan 2 orang pria asal Demak dan Jepara yang juga akan mendaki gunung Prau malam itu. Panggil saja keduanya Bang Badrul dan Lim. Hati kami bersorak gembira. Seperti anak ayam yang baru saja bertemu setelah sekian lama kehilangan induknya.

Setelah berbincang singkat namun padat. Kami berenam melanjutkan perjalanan sebelum hari bertambah gelap. Bang Badrul dan temannya melaju lebih dulu untuk menunjukkan jalan. Satu detik terasa lama sekali bagi saya. Pantat saya sudah keburu panas bertumpu dengan jok motor berjam-jam.

Naas, motor yang saya naiki hampir kehabisan bensin. Saya dan Ipin sangat kebingungan saat itu. Tidak yakin akan ada SPBU di tempat tersebut. Mengingat situasi sekitar hanya ada pohon dan ilalang. Ingin putar balik ke pom sebelumnya, sudah kepalang tanggung. Modal nekat, kami memilih untuk melanjutkan perjalanan sampai tetes bensin terakhir.

Setelah beberapa kilometer melaju, kami menemukan secercah harapan. Sebuah rumah warga sekaligus warung yang menjual Bensin.

Sambari menunggu penjual mengisi bahan bakar. Kami berdua berbincang singkat. Saya menatap takjub saat mendapati kepulan asap keluar dari mulut. Apakah ini mimpi? Saya cubit lengan saya, nggak sakit. Ternyata terhalang jaket tebal. Saya tepuk pipi, oh ternyata kenyataan. Rasa bahagia dan haru, bercampur jadi satu. Hal yang biasanya saya lihat saat musim dingin di drama Korea, kini terpampang nyata di hadapan saya.

Bensin di tangki telah penuh. Kami melanjutkan perjalanan kembali. Tak terasa lebih dari satu jam berlalu. Hujan masih setia dengan rintiknya. Badan saya sudah mulai lemas karena udara dingin masuk melalui celah jas hujan.

Langit semakin redup, saya jadi harap-harap cemas. Pemandangan kebun dan pepohonan yang awalnya terlihat sangat menyenangkan, perlahan terlihat mengerikan. Gelap dan sunyi menjadi teman setia selama perjalanan. Jarang sekali ada kendaraan yang lewat. Jika ada, itupun dari arah berlawanan.

Saya hampir muak dibuatnya. Ingin cepat-cepat sampai. Kaki sudah berasa pegal-pegal. Padahal masih butuh banyak tenaga untuk mendaki malam harinya. Entah sampai, entah kesasar. Saya pasrah saja, menyerahkan segalanya pada Pemilik semesta.

Baru beberapa menit memejamkan mata. Telinga saya sayup-sayup mendengar suara aktifitas manusia. Motor kami melaju ke area perkampungan yang cukup ramai.

Pedagang topi, jaket, dan oleh-oleh khas Dieng mulai bermunculan di sisi kanan dan kiri. Roda motor kami akhirnya berhenti dan terparkir di sebuah halaman yang cukup luas. Satu perjalanan yang cukup melelahkan selesai.


Basecamp Patak Banteng

Sesampainya di tempat tersebut, kami diarahkan untuk masuk ke dalam bangunan rumah kayu berwarna hijau. Rangka kayu yang menjadi wajah rumah itu dipenuhi stiker-stiker komunitas pendaki. Sayang, kita belum memiliki stiker kala itu. Nggak terfikirkan juga sih. Padahal kan lumayan bisa numpang eksis.

Tempat yang disebut basecamp tersebut adalah area untuk rehat atau transit para pendaki yang hendak naik ataupun turun dari gunung Prau. Hilir mudik para muda-mudi memasuki tempat tersebut.

Setelah membayar biaya retribusi. Rencananya, kami akan mulai pendakian setelah ba’da Isya. Meski belum di puncak, hawa dingin perlahan mulai terasa menusuk. Lebih dingin dari suhu udara di perjalan tadi.

Sambil menunggu adzan Isya. Kami menyempatkan untuk membeli beberapa perlengkapan seperti kaos kaki, sarung tangan, dan syal. Sebab beberapa barang  yang telah kami miliki basah terkena hujan.


Perjalanan Selama Pendakian

Setelah waktu yang ditentukan, kami bersiap melakukan pendakian sebelum malam mulai larut. Ipin sedikit kecewa sebab Gita, nama spesial untuk gitar kayunya, tidak bisa ikut dibawa menuju puncak karena peraturan melarang pendaki membawa alat musik.

Di awal pendakian, kami disuguhi pemandangan perkebunan warga di sisi kanan dan kiri. Jalanan yang kami tapaki sama seperti jalan-jalan aspal biasa kemudian berlanjut ke jalanan yang dicor. Cekrek. Foto dulu buat kenang-kenangan hehehe…


Beberapa waktu kemudian, jalan yang kita lalui berubah menjadi tanah berundak. Meski hanya beberapa waktu rehat, kami dituntut untuk memiliki kewaspadaan ekstra karena jalanan cukup licin.

Sekitar jam 9, kami sampai di pos satu. Belum ada pemandangan yang bisa dinikmati. Pos itupun cukup sepi, mungkin karena hujan sore tadi. Kamipun melanjutkan perjalanan menuju pos 2.

Di tempat itu, terdapat beberapa pemuda yang sedang istirahat. Kami juga bertemu dengan para pendaki yang turun dari gunung. Tempatnya tidak segelap dan sepi seperti pos pertama. Ada dua atau tiga penjual minuman dan makanan hangat di gubuk dekat pos 2 tersebut.

Setelah rehat sejenak, kami melanjutkan perjalanan ke pos 3. Butuh waktu beberapa jam untuk sampai di sana. Pos ke tiga dan terakhir ini menjadi pos favorit saya. Dari ketinggan di pos tiga ini, kami dapat menikmati suasana malam kota dengan kemerlap lampu putih dan kuning yang memanjakan mata. Sayang, kualitas kamera saya yang minim saat itu membuat saya tidak bisa memotret pemandangan indah dengan jelas alias blur. Maaf ya teman-teman.

Sesaat ketika hendak melanjutkan langkah. Kami sempat terkecoh dan hampir tersasar. Ada dua persimpangan jalan yang membuat kami bingung untuk memilih. Kedua jalan tersebut sama gelapnya. Juga sama-sama memiliki jalan setapak dengan ilalang yang menjulang setinggi dada.

Suara lolongan anjing dan gemuruh petir memperkeruh suasana. Langit sangat gelap. Sebentar lagi pasti turun hujan, batin saya yang tak berangsur lama diiringi jatuhnya rintik air langit. Bang Lim yang berani, mengajukan diri untuk masuk dan memastikan jalur di depan.

Berkat insting dan intuisinya, akhirnya kami berenam memilih jalan yang benar, sisi sebelah kanan. Berjalan beberapa meter di jalan tersebut, mata kami mulai menemui cahaya Ilahi senter dan tenda para pendaki. Merah, Kuning, Hijau bersatu padu. Senangnyaa…

Rasa takjub tidak berangsur lama, sebab kami berpacu dengan waktu dan rintik gerimis yang mulai membasahi sekujur tubuh. Kurangnya pengalaman dan edukasi, membuat saya dan Mei-mei hanya urun bantuan doa dalam pembuatan tenda malam itu. Beruntungnya, bang Badrul dan Lim berbaik hati membantu Upin dan Ipin membangun tenda.

Jam tangan menunjukan pukul setengah dua belas malam. Kami melaksanakan shalat Isya di dalam tenda sebelum pergi ke alam mimpi. Sayangnya, saya sulit  tidur malam itu. Udara di dalam tenda tidak jauh berbeda dengan suhu dingin di luar. Sleeping Bag yang saya bawapun basah. Selimut saya tak bawa.

Golet kanan-golet kiri selama berjam-jam. Namun, mata tak jua mau terpejam. Pukul tiga pagi, saya tidak bisa membendung hasrat ingin buang air kecil lagi. Saya bingung harus kemana mengingat kondisi di luar sangat gelap.

Saat bertanya pada Mei-mei, dia menyarankan saya untuk melakukannya di ujung jurang. Gila. Kalau ada yang lewat terus kepleset gimana? Batin saya. Akhirnya, karena dorongan kuat itu. Saya meminta Ipin untuk mengantarkan ke toilet yang berada di dekat area pertama kali masuk.

Sesampainya di toilet. Semuanya tidak ada yang beres sama sekali. Pencahayaan tidak ada, air tidak mengalir, pintu tidak bisa di tutup. Dari kejauhan, toilet tersebut lebih mirip seperti lemari tua yang sudah sangat usang. Akhirnya mau-tidak mau. Saya mengikuti interupsi Mei-mei. Sejak saat itu, saya bertekad dalam hati untuk membawa popok di pendakian selanjutnya. Meski sampai detik ini belum terlaksana hahaha…


Sunrise di Gunung Prau

Penantian saya akhirnya tiba. Sunrise adalah part yang paling saya tunggu-tunggu. Hari itu cuaca cukup bersahabat dan matahari muncul dengan sinarnya sejak pukul setengah empat pagi. Satu jam lebih awal dari daerah saya.


Rasa lelah, susah, haru, senang, dan takjub. Semua bercampur jadi satu.
Mungkin inilah alasan kenapa pendaki selalu punya alasan untuk kembali. 
Indahnya pemandangan membayar lunas keringat dan rasa letih di tubuh kami. Tak mau kalah dengan pendaki lain, kamipun mengamadikan momen langka dan terbahagia tersebut. Senangnya…

Saat matahari sudah mulai meninggi, kami mencoba mengisi perut. Upin dan Ipin berinisiatif untuk memasak mie instan yang mereka bawa. Setelah hampir dua jam berkutat dengan kompor listrik. Mie kuah yang dimasakpun matang. Saya hanya makan satu atau dua sendok saja.

Tekstur mienya keras. Rasanya pun uaneh banget. Sampai tidak terdefinisi di lidah saya. Beda banget dengan rasa mie yang biasa dimasak di rumah. Saya jadi curiga, jangan-jangan mienya sudah terkontaminasi?

Nggak nggak mau suuzon, meski setelah turun dan sampai di basecamp semuanya terbukti. Perut mereka mengalami kontraksi. Perut saya? Alhamdulillah aman. Namun, karena saya tipe teman yang setia. Saya juga tetap bolak-balik ke kamar mandi. Bukan untuk menemani mereka, tapi untuk buang air kecil karena tidak tahan suhu udara yang sangat dingin. Hehehe….


Itulah sepotong kisah tengil perjalanan kami ber-empat sebagai pendaki nub di Gunung Prau melalui jalur patak Banteng. Saya mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada bang Badrul dan Lim yang telah sangat-sangat sabar, memandu, dan menjaga kami.

Semoga kisah ini bisa menjadi referensi dan hiburan untuk teman-teman. Sampai jumpa di tulisan bertema Travel selanjutnya. Jika ada kesan atau pertanyaan, jangan sungkan mampir ke kolom komentar.

With love,


You May Also Like

35 Comments

  1. Prauuu emang terbaik sih. Btw lucu deh geng Upin-Ipin mendaki gunung. Nice story! ☺

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hihi benar sekali mbak, saya aja pengen ke sana lagi. Terima kasih sudah bersedia mampir ke cerita upin ipin hehe

      Hapus
  2. Gunung prau memang fenomenal ya. Biar pun nggak terlalu tinggi tetap aja perjalanannya menantang. Tapi sunrisenya keren banget.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya kak, apalagi pas ke sana ndelalah hujan. Medannya nggak bisa dibilang mudah tapi nggak sulit juga. Terima kasih sudah berkunjung 😊

      Hapus
  3. Hebat mbaa mendaki gini selalu bikin saya ngiler karena belum pernah mendaki gunung hehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nyoba mendaki mba, pasti nanti pengen balik lagi hihihi. Anyway terima kasih mba sudah berkunjung

      Hapus
  4. Pemandangannya bagus banget ya apalagi saat sunrise....
    Perjalanannya ke sana cukup seru dan cukup melelahkan ya tapi semua rasa lelah terbayarkan saat melihat pemandangan yang indah dari gunung prau

    BalasHapus
    Balasan
    1. Benar sekali kak, pas banget sama kata pepatah, usaha tidak akan menghianati hasil hehe

      Hapus
  5. Seru sekali cerita naik gunungnya, saya jadi kepingin banget nih naik gunung. Mudah-mudah nanti ada kesempatan ke gunung Prau.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin, semoga bisa segera naik gunung ya mas Anang jangan lupa dipersiapkan juga keperluannya

      Hapus
  6. Waktu SMA saya pengen mendaki gunung kak. Tapi nggak dapat izin dari ortu.
    Membaca cerita kakak, kayaknya seru tuh. Menikmati indahnya alam.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau nggak boleh saat SMA mungkin bisa nanti bisa bareng sama pasangan kak hehehe..

      Hapus
  7. seru banget kak..ku blm pernah nih mendaki gunung takut aja bawaannya hehe

    BalasHapus
  8. Dari dulu pengen banget mendaki gunung tapi belum pernah kesampaian. Pernah diajakin suami tapi ternyata cuma hoaks, hehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah untung cuma hoaks kak, coba kalau sampai di prank naik gunung. Bisa panjang urusanya πŸ˜‚

      Hapus
  9. Tadi saya kira beneran upin ipin yang naik gunung.. rupanya.. btw baru tahu juga ada gunung prahu di dieng.. maklum bukan anak gunung kak ...heheh TFS anyway

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama-sama kak hihihi terima kasih sudah berkunjung

      Hapus
  10. Semoga keadaan lekas membaik ya biar bisa pergi-pergi mendaki kaya gini lagi. Menikmati dan mengagumi keindahan alam ciptaan Tuhan dari ketinggian :)

    BalasHapus
  11. Wkwkw kocak..muka2nya diganti upin ipin...kenapa ga ada fizi? Fizi ga di ajak mendaki gunung?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Fizi sedang sibuk klarifikasi soal kasusnya kemarin mba hihihi

      Hapus
  12. Hahahaha saat membacanya saya malah salfok sama stiker upin ipinnya hahaha..

    Pengalaman yang pasti tak akan terlupakan ya Mba..

    Jangan lupa untuk selalu utamakan kesehatan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Haha iya mas. Nggak mungkin saya lupa juga. Kalau jaga kesehatan itu wajib pasti, apalagi kalau mau naik gunung. Terima kasih sudah berkunjung

      Hapus
  13. Saya kok sama kayak Afriant Ishaq, sebentar saya masih galfok sama Upin-Ipinnya, hahahaha. But overall cerita pendakiannya menarik. Gunung Prau memang salah satu destinasi yang saya impikan. Rencana nunggu anak-anak agak besar sekalian ke Dieng pengin nyoba tracknya. Tapi belum tahu juga nanti protokol kesehatan pasca corona ini bakalan kayak gimana. Semoga saja gak ribet.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah iyakah? Semoga di mudahkan ya mas rencana mendaki bersama anak-anaknya

      Hapus
  14. Saya belum pernah mendaki gunung karena di daerah saya terkenal bukitnya saja.. yaa paling gak sampe 1000 mdpl namun sangat seru jika mendaki bersama teman

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama rasa beda bentuknya ya mas hehehe, di daerah saya juga ada yang perbukitan kok. Biasa lewat kalau lagi hiking pramuka hiks hiks

      Hapus
  15. Kenapa fotonya jadi Upin IPin semuaaaa.... Hahaha. Ya Allah, jadi hampir salfok.
    Seru memang, pengalaman naik gunung. Dan setiap pengalaman layak dituangkan dalam cerita. Sayang saya tak punya foto naik gunung. Ada satu sih, tapi ga enak juga karena sama mantan. Hihhii

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehehe biar mudah di ingat mba Susi. Setuju banget sama tulisan mbak susi " setiap pengalaman layak dituangkan dalam cerita". wah ternyata sudah pernah naik gunung ya? Pasti ceritanya juga seru. Gunung mana kalau boleh tau mba?

      Hapus
  16. wah upin ipin naik gunung wkwkwwk. keren ih berani naik gunung, saya baru naik gunung krakatau. cuma 10 menit doang sampai puncak loh wkwkwwk. semoga lain kali saya berani naik gunung. terima kasih infonya mba.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Waduh cepat banget mbak naik gunungnya hehehe. Aamiin semoga lain kali bisa naik gunung lainnya

      Hapus
  17. Cerita yang sangat menarik, Mbak. Dan saya suka penyamaran karakternya menjadi karakter Upin dan Ipin. Saya pribadi pernah diajak mendaki sama teman, cuma menolak karena gak kuat, hehe

    BalasHapus
  18. Capek² ke hulu baru kemudian melihat ketakjuban 😊. Aku pernah mendaki Bromo kak semoga another time bisa mendaki di sini😎

    BalasHapus
  19. Gunung Prau ini populer banget di kalangan pendaki-pendaki usia mahasiswa. Ya memang indah banget sih. Btw, aku belum pernah ke Prau.. terakhir daki itu ke Lawu.

    BalasHapus

Thank you for your time to come by and leave comment! Follow me on Instagram @andayanirhani, let me know you found me from my blog, and I'll follow you back :)

-XOXO