7 Kesalahan Terbesar di Masa Remaja

by - Februari 09, 2020

Baca Juga

Masa remaja memang sangat identik dengan masa pencarian jati diri. Di masa ini, kita sering kali di hadapkan oleh masalah atau persoalan dunia yang akan berhubungan erat dengan masa depan. 

Dalam memecahkan sebuah masalah, tentu tidak semua dapat diselesaikan dengan jalan yang baik dan benar. Sebagai manusia yang jauh dari kata sempurna, tentu saya ataupun kamu pernah berbuat kesalahan yang akhirnya menjadi bumbu asam-manis-sambalado di  dalam perjalanan kehidupan. 

Oleh karena itu, pada kesempatan #SundayStory kali ini. Berhubung usia saya akan menginjak usia kepala dua. Saya akan menuliskan 7 Kesalahan terbesar saat remaja versi saya.

Let's get started!


Menyia-nyiakan waktu

Sudah melakukan apa saja hari ini? Membaca buku? Memasak? Bersih-bersih rumah? Olah raga? Atau justru rebahan, scrolling timeline sosial media, dan jadi viewer's story sepanjang hari?

Kesalahan terbesar saya yang pertama ini mungkin juga jadi masalah untuk mayoritas kaum rebahan lainnya. Kenikmatan rebahan memang sering kali membuat kita terbuai hingga lupa waktu.

Ets, tapi sekarang saya sudah punya mantra-mantra penangkal yang wajib saya baca setiap hari agar tidak terlena oleh kenikmatan rebahan. Mau tau?


"Jangan sampai, kita bangun setiap pagi, untuk sesuatu yang tidak kita sukai. 
Jangan sampai, kita menua, dengan sesuatu yang tidak kita cintai." 
-Choqi_Isyraqi




Menjadi Seorang Bucin

Karangan Bunga saat Wisuda
*btw w beli sendiri

Dok. Pribadi
Budak Cinta atau Bucin sering sekali digembar-gemborkan kepada orang yang kesehariannya selalu mengutamakan pasangannya. Termasuk saya. Saya pernah di posisi ini dan untungnya sekarang sudah berhasil keluar dari zona bucin tersebut.

Di balik kisah asmara dan romantisme yang pernah tercipta, dulu. Sejujurnya saya sangat menyayangkan waktu, pemikiran, tenaga, perasaan, hingga air mata untuk seseorang yang pada akhirnya hanya akan menjadi bagian di masa lalu.

Akhir-akhir ini, saya pun sering dihinggapi rasa iri. Iya, saya Iri dengan temen-teman yang menjomblo sejak lahir. Tapi ketika dia menjalin hubungan dapat menemukan pasangan, orang yang bisa dibilang tepat. Orang yang sama jomblonya, tidak memiliki masa lalu, orang yang sama-sama polosnya.

Menurut saya, hubungan seperti itu memiliki peluang lebih langgeng. Tidak harus memikirkan  masalalu. Tidak seperti saya yang memiliki banyak rasa takut dikecewakan, ditinggalkan hingga krisis kepercayaan pada pasangan.


Tidak Punya Prinsip Hidup

Sebelum menjadi orang yang realistis. Sifat saya pernah didominasi oleh perasaan. Hal ini sering membuat saya sulit untuk berkata "TIDAK" pada orang-orang di sekitar saya.

Memiliki sifat yang tidak enakan terkadang membuat saya terlihat seperti pahlawan kesiangan. Akan tetapi, dibalik semua itu ada rasa sakit dan kekecewaan yang selalu saya pendam sendiri.

Dulu, saya sangat sulit sekali untuk menolak ajakan teman-teman di sekitar saya. Hal ini membuat saya sering terjerat toxic people yang hanya datang untuk  memanfaatkan sifat tidak enakkan yang saya miliki. Hingga pada akhirnya, saya -mau tidak mau- mengorbankan kepentingan diri saya sendiri. Waktu yang seharusnya saya buat untuk kegiatan ini malah tertunda ataupun batal.

"Beranilah menggambil keputusan. Karena jika kita tidak berani untuk menjalankan impian kita, maka kita akan sibuk mengerjakan impian orang lain."
-choqi_isyraqi

Sejak saat itu, tujuan atau prinsip sangat penting bagi hidup saya. Walau kelihatannya sepele, tetapi hal ini akan sangat berguna jika ada hal-hal mendesak yang menuntut saya untuk menentukan keputusan.


Tidak Mencari Passion 

Semakin dewasa, saya menyadari bahwa banyak kesempatan terlewatkan saat saya memilih untuk rebahan. Sejujurnya, sampai saat ini saya sendiri masih bimbang belum tahu dimana passion saya.

Hingga saat saya baru akan memulai, ternyata banyak teman saya sudah terlebih dulu mendahului. Berkarya dengan bakat dan minat yang mereka punya. Ibarat sebuah lomba, mereka hampir selesai di garis finish sedangkan saya baru berkutat untuk memulai di garis start.


Meski begitu saya berusaha untuk tidak berkecil hati, karena saya memiliki prinsip;


"Later is better than never."

Tidak ada salahnya mencoba meski terlambat. Akan sangat salah jika saya sama sekali berkutat dengan rasa penyesalan dan enggan mencoba.


Kurang Totalitas Belajar

Siapa nih yang sering atau lagi malas belajar? Saya juga pernah difase ini kok. Menurut saya malas itu manusiawi, hal yang terpenting dan harus digaris bawahi adalah, kapan dan bagaimana kita bisa menempatkan malas itu agar sesuai dengan kapasitasnya.

Saya sendiri menyesal, khususnya ketika saya di Sekolah Menengah Atas (SMA) dulu saya tidak terlalu bersungguh-sungguh belajar. Hingga saat saya menginjak dewasa seperti saat ini, saya merasa iri dengan teman-teman yang memiliki kisah perjuangan dan cerita menarik di dunia pendidikan yang bisa mereka bagikan dan menginspirasi anak, cucu, ataupun orang-orang di sekitar mereka.


Lost the moment

W/ 3 sahabat saya
Dok. Pribadi
"You always can make more money but you only have a set a number of days to make more memories."
 -Deviennaaa

Kata-kata yang menyadarkan saya setelah melangsungkan prosesi wisuda di SMA. Saat itu, saya sedikit menyesal karena obsesi saya untuk move on dengan melakukan aktivitas lebih (berjualan dan mengikuti ekstrakurikuler setiap hari) ternyata telah banyak menghabiskan sebagian besar masa SMA saya.

Ketika teman-teman sibuk bermain, bercanda ataupun mengabadikan momen dengan foto bersama saat jam kosong, saya sibuk membalas chat dari pelanggan dan pergi ke kelas-kelas untuk melakukan COD.

Hingga saat saya lulus, saya baru menyadari. Ternyata saya tidak punya banyak kenangan bersama mereka. Masa SMA yang seharusnya akan menjadi kisah klasik di masa depan, justru saya habiskan dengan obsesi pribadi untuk move on dari mantan.


Membandingkan Diri

Sebagai anak, tentu saya atau kamu 'mungkin' pernah merasa kerdil karena di bandingkan dengan anak tetangga. Yang katanya lebih pintarlah, yang lebih nurut lah, yang lebih sering jadi juara-lah dan lebih segala-galanya pokoknya.

Sedih? Banget. Apalagi saat lihat berita acara di televisi ataupun artikel tentang kesuksesan orang dengan usia yang masih sangat belia atau muda.

Si ini berhasil lulus cumlaude dari universitas (favorit) di usia 19 tahun.

Masih berumur 25 tahun sudah jadi CEO PT. Bagus banget. 

Sakit tapi tidak berdarah coy.  Mungkin artikel itu dibuat dengan tujuan untuk memotivasi, tapi kok ujung-ujungnya bikin insecure?

Lagi-lagi, hal ini menyangkut soal pola pikir. Bagi saya sukses itu relatif. Saya paling sebal jika ada orang yang putus asa dan berkata bahwa mereka 'gagal'. Padahal bisa jadi kegagalan itu adalah awal dari keberhasilan yang telah menanti di masa depan. Karena, selama Tuhan masih memberikan kesempatan kepada kita untuk bernafas dan hidup di dunia. Itu tandanya, masih ada kesempatan memperbaiki dan mencoba (lagi).

Kesuksesan itupun bukan perkara siapa yang bisa mencapai tujuan ataupun kaya duluan. Karena, hidup bukan perlombaan yang tolak ukurnya didasarkan kecepatan. Saya percaya bahwa setiap orang memiliki jalannya sendiri-sendiri.

"If it's your way, it's never go away." 
-Aendea


Jadi, mulai sekarang. Yuk stop membandingkan diri dengan orang lain. Berhenti buat ngepoin dan nonton hidup orang lain setiap hari. Memangnya mau usia kamu dihabiskan hanya untuk jadi viwers story orang lain terus?

Berubah dan berjuang untuk masa depan atau melakukan apapun sesuka hati yang membuat kita nyaman saat ini. Semua itu adalah pilihan masing-masing pribadi.

Setiap manusia memiliki dua puluh empat jam yang sama dalam sehari. Akan tetapi, tidak semua orang mampu mengendalikan dan menaklukan egonya sendiri. Sampai jumpa di tulisan #SundayStory berikutnya!

With love,


You May Also Like

33 Comments

  1. Bener banget ini huhu 😭😭 banyak yang saya sesali di masa remaja, hiks

    BalasHapus
    Balasan
    1. Apalagi soal waktu luang. Banyak banget hal-hal tidak bermanfaat yang dulu saya lakukan. Sekarang baru sadar setelah jadi emak-emak, huhu

      Hapus
    2. Kalau soal waktu luang sampai saat ini saya juga masih sering kecolongan kak, jadi untuk antisipasi selalu buat timeline setiap malamnya

      Hapus
  2. Baca ini jadi ingat masa remaja dengan dramanya yang nanonano. Sayangnya waktu nggak bisa diulang kembali.Menyesal pun tiada gunanya ya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yupss, pada intinya kita cuma bisa memperbaiki bukan menyesali

      Hapus
  3. Wkwkwkwk, aku juga ada beberapa yg pengen diulang dan diperbaiki sih, tapi setelah dipikir-pikir, yg dulu2 itu justru yg bikin aku jadi kek sekarang ini... jadinya ngga jadi nyesel, wkkwkwkwk,

    btw suka tulisan dan tampilan blognya... semoga #sundaystory bisa terus berlanjut yaa, hehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Intinya enjoy the moment ya kak, hehe terimakasih sudah mampir semoga bermanfaat ya ^^

      Hapus
  4. Ini ada Benernya. Lain dulu lain sekarang. Dulu kita benar mati-matian belajar hanya untuk mendapatkan nilai yang bagus. Beda sama sekarang untuk mendapatkan nilai bagus cukup membuka google dan mencari apa yang diajarkan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Benar sekali kak, perkembangan teknologi dan informasi juga menjadi salah satu faktor pembedanya

      Hapus
  5. Istilah Bucin ngetrennya baru beberapa waktu ini, tapi sebenarnya fenomena ini sudah ada sejak dahulu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyakah kak? Hehe terimakasih infonya saya jadi lebih tau hehe

      Hapus
  6. Saat remaja sih mungkin gak akan menyesal, justru merasa bangga. Tapj saat dewasa atau sudah tua, baru akadeh penyesalann datang

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bisa jadi kak, banyak kok cerita" yg pernah saya dengar belum ngerasa saat remaja dan justru mulai menyesal saat sudah dewasa

      Hapus
  7. Saya pernah jadi bucin, dan nyeselnya baru sekarang, huhuhu.
    Trus membandingkan diri, pernah ada di titik ini juga, ngerasa jadi manusia yang gak berguna banget.
    Alhamdulillah semua udah terlewat

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah hebat, selamat kak saya sendiri kadang juga sering terlintas ngerasa jadi manusia yg nggak berguna tapi kembali lagi saya atur pola pikir biar tidak kebawa berkepanjangan

      Hapus
  8. Hahaha kayaknya hal2 yang disesali kok sama ya. Tapi bagus deh, di usia 20an km bisa nulis artikel ini, lalu menyadari dan segera berubah. Semoga bisa menginspirasi adek2 ya. Mungkin habis ini kamu bisa buat hal2 yang ingin kamu lakukan di usia 20an. Untuk evaluasi nanti di usia 30an 😉😉

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah terimakasih banyak atas sarannya teh, insyaa Allah akan segera saya buat

      Hapus
  9. Anda hebat lho menurut aku. Masih muda udah bisa menuliskan curahan hati dengan runut dan enak dibaca. Jarang ada orang yang mengakui kesalahan remaja trus dituliskan. Dengan menuliskan yaa semoga move on deh, engga berlama-lama menyesali...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terimakasih sudah mampir kak, hehe aamiin masih dalam tahap penataan dan perbaikan hidup. Semoga bermanfaat tulisannya ya kak Hani ^^

      Hapus
  10. Yups masa remaja itu waktunya mengukir prestasi setinggi angkasa. pernah bucin juga, hahahaha untung nggak lama dan segera insyaf ...

    BalasHapus
  11. Karna sering menyia-nyiakan waktu akhirnya ga terasah skill-nya, trus pas udah dewasa bingung. Huhu

    BalasHapus
  12. Keren nih baru mau menginjak usia kepala dua udah nulis begini. Jujur aja aku merasakan hal yang sama. Suka buang-buang waktu, Suka ga enakan akhirnya kecewa dipendam, bucin juga, pokoknya semua yang ditulis di sini benar-benar kurasakan juga

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terimakasih sudah berkunjung teh, semoga bermanfaat ya tulisan ini sengaja saya tulis juga sebagai reminder untuk diri saya ^^

      Hapus
  13. Penyesalan terbesar aku adalah menyia-nyiakan waktu. Memang waktu tidak akan kembali lagi. Tetapi musti belajar dari kesalahan itu, sehingga tidak melakukan lagi, kesalahan yang sama di masa depan.. aamiin.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin terimakasi sudah berkunjung kak ari ^^

      Hapus
  14. Point terakhir bikin Nyesek. Dibandingin ama orang lain emang bikin mewek (eh maaf jadi curcol).

    Kalau menurut saya sih bersenang2 saat remaja nggak masalah, nanti pas dewasa udah puas.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Perkara dibanding-bandingkan memang kadang bikin nyesek dan sakit hati sendiri, terimakasih sudah berkunjung ^^

      Hapus
  15. Yang penting menurut saya, jangan lihat ke belakang terus. Tetap lihatlah ke depan, karena belakang hanya masa lalu yang bisa dijadikan pelajaran

    BalasHapus
    Balasan
    1. Setuju banget kak, menyesali masalalu sama saja dengan membuang waktu; tiada gunaaa

      Hapus
  16. Namanya juga masa remaja... kalau saya lebih melihatnya kepada kurangnya pengalaman plus pengaruh negatif lingkungan dominan remaja berada

    BalasHapus
    Balasan
    1. benar kak, sampai ada pepatah: pengalaman adalah guru terbaik

      Hapus
  17. Dan artikel ini benar-benar menampar saya. Saya pribadi baru tersadar saat sudah kuliah dan mengubah diri. Terutama dalam mencari passion yang alhamdulillah telah saya temukan dan memberi manfaat sampai hari ini

    BalasHapus

Thank you for your time to come by and leave comment! Follow me on Instagram @andayanirhani, let me know you found me from my blog, and I'll follow you back :)

-XOXO