[Review] Kisah Nyata di Balik Novel Bidadari untuk Dewa Karya Asma Nadia - Andayani Rhani

Selasa, 13 Agustus 2019

[Review] Kisah Nyata di Balik Novel Bidadari untuk Dewa Karya Asma Nadia


Judul buku                      : Bidadari untuk Dewa
Pengarang                      : Asma Nadia
Tahun terbit                    : 2017
Penerbit                          : KMO Publishing
Kota                                  : Semarang
Jumlah halaman            : 528 halaman
Ukuran buku                  : 14 x 20,5 x 3.5 cm


Asma Nadia memiliki nama asli Asmarani Rosalba. Perempuan manis berkulit putih ini lahir di Jakarta tanggal 26 Maret 1972 dari pasangan Amin Usman dan Maria Eri Susanti yang merupakan seorang mualaf berdarah Tionghoa. Asma nadia memiliki seorang kakak perempuan bernama Helvy Tiana Rosa, dia juga memiliki adik laki-laki bernama Aeron Tomino.

Penulis ini aktif melakukan perjalanan baik di dalam maupun luar negeri untuk menjadi pembicara di berbagai acara. Kemampuannya yang sudah sangat diakui membuatnya menjadi salah satu tokoh yang bisa menularkan inspirasi dan ilmu terutama di bidang sastra. Bahkan pada tahun 2009 Asma melakukan perjalanan keliling Eropa untuk mengisi seminar di beberapa kota seperti Jenewa, Berlin, Roma, Manchester dan Newcastle.

Karyanya yang bernuansa islami juga hingga ada beberapa yang telah diangkat ke layar lebar memang sangat menarik. Film-film dari buku Asma yang telah menghiasi dunia seni peran di Indonesia dintaranya adalah Assalamualaikum Beijing, Emak Ingin Naik Haji, Rumah Tanpa Jendela dan Surga yang tak dirindukan.

Novel Bidadari untuk Dewa ini merupakan novel ke-54nya yang terinspirasi dari realita kehidupan seorang Dewa Eka Prayoga yang dikenal sebagai seorang pebisnis muda. Dia memiliki julukan “Dewa Selling”,  karena kepiawaiannya dalam berjualan. Memang tak mengherankan bila omset bisnisnya saat ini sudah mencapai milyaran rupiah perbulannya. Namun, yang sangat istimewa dari Kang Dewa adalah sifatnya dan pembawaannya yang tetap low profile. Jauh dari kesan glamor, gaya bicaranya sangat gaul dan anak muda sekali, tak mengada-ada, dan apa  yang disampaikan adalah hasil dari pengalaman pribadinya. Unsur agama sangat lekat dalam kata-kata dan keseharian Kang Dewa, mungkin inilah yang akhirnya menjadikannya sebagai sosok idola yang banyak menginspirasi para pemuda dan pebisnis ataupun orang-orang yang baru mulai terjun dalam dunia bisnis termasuk penulis sendiri tentunya.

Di usianya yang belum genap dua puluh tahun, dia sudah mampu menghasilkan uang sebanyak 1 miliar. Namun nasib malang tak dapat Dewa tendang. Hutang piutang sebesar 7,7 miliar akibat dikhianati rekan bisnisnya mau tak-mau harus menjadi tanggungannya. Caci maki, hujatan bahkan ancaman dari para investor terus menghantui Dewa dan keluarga kecilnya setiap hari. 

Sebelum terlalu jauh menyelami dunia keputusasaan, dia teringat akan bidadarinya yang tengah mengandung pangerannya. Sosok Dewa kembali bangkit. Meski harus tertatih-tatih mengais pundi-pundi rupiah dengan berjualan ceker setan buatan istrinya, serta menulis sebuah buku yang berisi tips-tips menjadi wirausahawan sukses.

Tak lama berselang, saat karirnya kembali memuncak sebuah godaan kembali hadir dalam hidupnya. Cinta pertama di masa lalunya kembali hadir dan hampir memporak-porandakan keluarga kecilnya. Tetapi kekuatan cinta dan perjuangan mampu membuat Dewa mempertahankan kebahagiannya. Kehidupannya terus berlanjut hingga suatu ketika sebuah penyakit langka menyerangnya. Penyakit itu adalah GBS (Guillain Barre Syndrome) yang hampir saja merenggut nyawanya.

Di ujung ujian yang hampir memadamkan, Dewa kembali bangkit dan berjuang layaknya Hercules yang mengamuk. Bukan kemarahan atau racun mematikan yang di keluarkannya, melainkan semangat kekuatan sujud dan penyerahan diri secara total urusananya kepada sang Ilahi.

Buku tertebal yang ditulis oleh Asma Nadia ini memiliki segudang keunggulan, di antaranya yakni, telah mendapatkan cap best seller, cerita yang sangat inspiratif dan memotivasi, di isi oleh problematika kehidupan yang kompleks dan sangat akrab dengan masalah di lingkungan sekitar, pilihan bahasa yang dipilih penulis berhasil mengobrak-abrik perasaan saya sebagai pembaca. Seringkali saya harus menjeda acara membaca saya karena terlaru larut dalam perasaan hingga tidak sadar jika pelupuk mata sudah dipenuhi oleh embun air mata, dan yang paling saya suka adalah penulis berhasil memadukan sebuah kisah nyata dengan mitologi para dewa dan dewi Yunani.

            Hampir tidak ada kekurangan dalam novel ini. Hanya saja banyaknya halaman buku yang lebih dari lima ratus lembar membuat orang yang tidak terbiasa dan tidak hobi membaca berfikir dua kali saat pertama kali melihat untuk membacanya.

            Namun secara keseluruhan, buku yang sangat luar biasa dan menginspirasi ini sangat layak untuk dibaca oleh masyarakat umum dari semua kalangan, terutama bagi para muda-mudi agar dapat belajar ketabahan dan kegigihan dalam menjalani dunia usaha serta dunia rumah tangga yang sesungguhnya. Khususnya bagi pasangan baru agar belajar tentang arti tanggung jawab yang sebenarnya.

Tidak ada komentar:

@andayanirhani