Fenomena Penggunaan Bahasa Gado-Gado di Kalangan Remaja - [Jourans] Journey of Rhans

Sabtu, 08 Juni 2019

Fenomena Penggunaan Bahasa Gado-Gado di Kalangan Remaja

andayanirhani.com - Bahasa adalah media komunikasi yang digunakan oleh manusia untuk mempermudah dirinya dalam berinteraksi dengan orang lain. Terdapat lebih dari puluhan ribu bahasa yang ada di dunia dan bagi kita –sebagai bangsa Indonesia- tentunya harus merasa bangga. Sebab, Indonesia menjadi salah satu negara pemilik bahasa terbanyak kedua di dunia setelah Papua Nugini. Di lansir dari International Sindonews, Indonesia memiliki 707 bahasa dan sekitar 98 bahasa diantaranya terancam punah. Kepunahan bahasa daerah saat ini bukan menjadi rahasia umum lagi, mengingat mayoritas generasi muda masa kini yang tidak tertarik dengan bahasa daerahnya sendiri karena menganggapnya kuno dan cinderung lebih menyukai penggunaan bahasa asing dalam aktivitas sehari-hari.

Beberapa waktu yang lalu media sosial khususnya pengguna aplikasi twitter dihebohkan dengan ulah kaum muda-mudi daerah Jakarta Selatan yang mencampurkan bahasa Indonesia dengan bahasa asing. Hal ini tentu saja menuai tanggapan yang beragam dari kalangan masyarakat. Seperti kehidupan, jika kita ibaratkan sebuah koin, terdapat dua mata sisi yang berbeda. Bergitu pula dengan fenomena ini. Tidak sedikit masyarakat yang menilai negatif dan mengolok-olok namun ada juga yang menilai positif dan mendukungnya. Sampai saat ini bahasa campur aduk itu dikenal sebagai bahasa gado-gado.

          Sebenarnya penggunaan bahasa yang campur-campur ini bukanlah hal baru di tanah air kita tercinta, Indonesia. Jika kita mau jeli dan teliti, bahasa ini justru telah sering digunakan oleh beberapa public figure kenamaan Indonesia seperti Cinta Laura, Agnez Monica, Melani Ricardo dan sederet artis papan atas lainnya yang memiliki orang tua yang berasal dari luar negeri atau sempat tinggal di luar negeri. Bukan tanpa alasan, mereka menggunakan bahasa campuran itu untuk memudahkan masyarakat untuk memahami bahasa yang ia ucapkan.

          Generasi millenial saat ini pun tak mau kalah. Dengan dalih menambah kosa kata bahasa asing mereka kerap menggunakan bahasa gado-gado tersebut. Namun mirisnya, ada juga yang menggunakan bahasa gado-gado itu untuk sekedar bergaya agar dianggap ‘wah’ oleh rekan-rekan di sekelilingnya dan ada pula yang menggunakannya sebagai bahan candaan. Apapun alasannya, kita tidak boleh menilai semua hal dari satu sudut pandang saja. Karena setiap individu tentu memiliki karakteristik dan alasan yang berbeda-beda. Begitu pula dengan gaya mereka dalam belajar meng-upgrade bahasa asing dengan menggunakan bahasa gado-gado ini.

Namun sebagian masyarakat menilai negatif dan beranggapan bahwa hal itu mengancam bahasa persatuan kita, bahasa Indonesia. Tetapi sebagai generasi yang cerdas, kita tidak boleh menelan bulat-bulat penilaian itu. Kita harus menempatkan diri kita di daerah yang netral agar tidak terbawa arus dan dapat menilai baik atau buruk dari berbagai sudut pandang yang berbeda. Toh, penggunaan bahasa campuran itu tidak selamanya berdampak buruk.

Seperti yang kita ketahui, bahasa asing khususnya bahasa Inggris adalah bahasa Internasioal yang digunakan oleh seluruh penduduk dunia untuk berkomunikasi satu sama lain. Jika kita pandai dan menguasai bahasa asing tentu kita memiliki nilai plus tersendiri yang tidak semua orang bisa memilikinya. Terlebih lagi kita saat ini tinggal di abad 21 dimana teknologi dan informasi dunia berkembang pesat. Mesin-mesin canggih serta teknologi digital yang praktis umumnya menggunakan bahasa asing. Jika kita memiliki skill yang baik, kita bisa memanfaatkan bahasa asing yang kita kuasai untuk mengharumkan nama bangsa dengan mencetak prestasi yang dapat membuka mata dunia seperti yang dilakukan oleh mantan presiden ke tiga Indonesia, B. J. Habibie. Lantas, apakah kita masih tetap keukeuh berfikir sempit bagai kodok dalam tempurung dan mengecap bahwa mempelajari bahasa asing adalah suatu ancaman yang membahayakan?

Terlepas dari semua itu, kita sebagai bangsa Indonesia juga tidak boleh memandang sebelah mata bahasa persatuan dan bahasa daerah kita. Bagaimanapun juga bahasa daerah harus kita banggakan dan lestarikan. Mirisnya, saat ini banyak muda-mudi yang tidak mau bahkan tidak mengenali bahasa daerahnya sendiri. Untuk itu peran serta semua pihak baik pemerintah, masyarakat, dan diri kita sendiri harus ikut serta. Tak harus muluk-muluk, kita bisa mulai dari hal yang kecil. Seperti menggunakan bahasa Jawa karma saat berbicara dengan orang yang lebih tua khusunya orang tua dan keluarga dalam pergaulan sehari-hari atau memperlajari bahasa lainnya saat kita berkunjung atau berwisata ke daerah lain. Bukankah bisa tercipta karena telah terbiasa? Jangan sampai bahasa daerah yang beragam itu punah tergerus keegoisan pribadi dalam mengejar germerlap peradaban. 

Salam literasi,

Tidak ada komentar:

@andayanirhani