SEDERHANA (3) - Andayani Rhani

Rabu, 17 April 2019

SEDERHANA (3)

Awan hitam menutupi sinar rembulan. Angin kencang menerbangkan dedaunan yang jatuh dari rantingnya. Tak diperdulikannya lagi tetesan air langit yang semakin deras turun membasahi tubuh tegap Angga. Untuk sebuah perasaan yang mulai tumbuh dan seharusnya bermekaran, cuaca bukan tandingan untuk menjadi halangan. Angga tidak mau perasaan penyesalan menghantui malamnya untuk yang ketiga kalinya.

Sudah lebih dari lima puluh kali panggilannya ditolak dan rentetan pesannya diabaikan oleh Kelani. Namun anehnya gadis itu tidak memblock kontak Angga.

“Kata Udin kalau perempuan marah suka main blok-blokan.” batin Angga.

“Berarti Kelani tidak sedang marah denganku kan?” tanyanya dalam hati.

Namun semesta seolah membuat gadis itu hilang di telan bumi. Tak cukup mencoba menghubungi Kelani di dunia maya saja. Ia juga mencari sosok Kelani di dunia nyata. Dua hari penuh Angga mencari sosok Kelani di sekolah. Mencari gadis aneh itu mulai dari kelasnya, perpustakaan, semua lab, kantin, taman, ruang tata usaha, bahkan kantor juga menjadi sasaran pencariannya. Pemuda yang belum genap berusia tujuh belas tahun itu juga menyusuri seluruh koridor yang ada di sekolah setiap kali istirahat tiba. Tak diperdulikannya lagi perutnya yang berbunyi nyaring akibat kelaparan. Ia sudah seperti orang gila karena cinta.


Mungkinkah perasaannya sudah sejauh itu kepada Kelani?

“Aku tak tahu pasti. Tapi untuk saat ini, aku hanya ingin bertemu Kelani.”  jawab Angga berulang kali saat Udin menanyakan tentang perasaannya kepada Kelani.

“Hei, brotha. Sepertinya memang kau jatuh cinta kepada gadis aneh itu.” komentar Udin.

Raut wajah Angga berubah. Ada semu merah yang ia tutupi. Tetapi bagi budak cinta kawakan seperti Udin, gerak-gerik Angga sangat mudah untuk dibaca. Apalagi Angga tergolong pemuda polos yang tak memiliki pengalaman sama sekali dalam urusan perasaan.

“Tapi kan aku tidak pernah jatuh cinta, Din.” elak Angga.

“Bukan tidak pernah. Tapi belum.” kata Udin dengan santainya seraya merangkul pundak Angga.
Selama dua hari ini Yudha tidak berangkat sekolah karena mempersiapkan kegiatan festival budaya yang dilaksakan di kota Jogja. Dan selama itu pula Udin menggantikan posisi Yudha.

baca juga cerpen sebelumnya : Cerpen Sederhana Part II - Dilatasi Waktu

“Ngomong-ngomong soal jatuh cinta ya, brotha. Jatuh cinta itu tidak melulu seperti buah yang jatuh dari pohonnya. Bisa kau lihat dengan nyata dan gamblang begitu saja. Ada kalanya jatuh cinta itu seperti sebuah perpisahan. Kau akan sadar ketika orang yang kau cintai itu pergi. Persis kayak yang kau lakulan kali ini.”

Angga menatap Udin dengan tatapan yang sulit diartikan.

Beberapa saat kemudian. “Aku nggak paham maksudmu, Din.”

Udin refleks menepuk jidatnya. “Ah suatu saat nanti kau pasti ngerti. Pokoknya sekarang kita keperpus aja dah, ngadem. Toh di kelas juga jamkos kan.”

“Terus kalau kita ke perpus siapa yang cari Kelani?”

“Gadis aneh itu? Sans, brotha. Tak perlu khawatir. Aku punya banyak mata-mata. Ayo kita ke perpus!”

“Nanti aing kasih kau tips dan trik maut supaya Kelani klepek-klepek kayak ikan mujaer sekalian. Mau?”

Dengan polosnya Angga mengangguk. “Mau.”

Berkat bantuan mata-mata milik Udin. Malam itu akhirnya Angga bisa sampai di rumah Kelani. Udara dingin mulai menyergap ke dalam tubuh tegap Angga saat motornya berhenti di depan sebuah rumah jati dengan berbagai ornamen kayu yang mendominasi. Sangat khas dan berbeda dari rumah-rumah lainnya meski rumah ini berada di kompleks perumahan.

Ia memencet tombol bel yang ada di luar pagar kayu coklat beberapa kali. Pria paruh baya dengan seragam tak asing dengan tanda nama ‘satpam’ datang dan membukakan jalan bagi Angga.

“Kelaninya ada pak?”

“Masuk saja, den.” sambut pak satpam ramah.

Sesampainya di pintu utama, Angga menghentikan langkahnya. Pemuda itu merasa ragu. Ia bimbang harus bagaimana dan melakukan apa. Untuk rumah seluas ini ia tak yakin bila harus mengetuk pintu untuk memanggil pemiliknya. Tetapi tidak ada satupun tombol yang dapat ia pencet sebagai pertanda keberadaan tamu atau pendatang kepada pemilik rumah.

Pemuda itu berfikir keras kemudian mencoba berusaha dengan caranya.

“Assalammualaikum.” ujarnya seraya mengetukan cincin besi berwarna kuning keemasan yang tergantung di pintu utama.

Setelah tiga kali percobaan. Yang dinanti-nanti akhirnya tiba. Pintu jati itu akhirnya terbuka.

“Waalaikumsalam…” jawab seorang nenek dengan pakaian khas menyambutnya. Stelan kebaya dengan jarik motif tanaman berwarna coklat tua melapisi raga perempuan tua di hadapannya. Seluruh rambutnya berwarna putih.

“Permisi, nek. Maaf menganggu malam-malam. Kedatangan saya ke sini untuk menemui Kelani. Apakah Kelani ada di rumah?”

Wanita yang sudah lanjut usia itu tidak segera menanggapi pertanyaan Angga. Dilihatnya raga Angga dari ujung rambut hingga ujung kaki.

Nenek itu kemudian tersenyum lebar hingga membuat kerutan diwajahnya terlihat lebih jelas.
“Tunggu sebentar ya, cu. Biar opah panggilkan.”

Angga menatap kosong nenek yang tengah berjalan membelakanginya. Tak lama sosok Kelani muncul dari dalam. Rambut hitam lurus dengan aroma tubuh yang khas seolah menyapa Angga. Untuk beberapa saat, gadis itu membuat pandangan Angga terpana dan  membuat desiran tak tentu dalam hatinya.

“Maafkan aku, Angga.” kalimat yang terlontar dari bibir tipis Kelani membuat Angga tersadar dari lamunan.

“Eh, jangan begitu. Bukan salahmu, Kelani. Justru maksud kedatanganku kemari untuk meminta maaf kepadamu.” tutur Angga terus terang.

“Tidak, aku yang salah.” Kelani menatap lantai pualam di bawahnya.

“Tidak seharusnya aku bersikap seperti itu kepadamu. Opah sudah menceritakan semuanya kepadaku. Hanya karena saat itu aku tinggal di negeri Jiran lantas aku menganggap batik berasal dari negeriku. Semuanya sudah jelas sekarang. Batik memang warisan leluhurmu,” Angga mulai bisa bernafas lega dan tersenyum lebar mendengar pernyataan terakhir Kelani.

“Tetapi juga bagian dari warisan leluhurku.” tambah Kelani.

“Bagaimana bisa?” tanya Angga, heran.

“Tentu saja bisa. Semua opah dari opah-opahku dan atuk-atukku berasal dari Jawa. Namun karena suatu hal tertentu mereka harus tinggal di negeri sebrang. Jadi tidak salahkan jika aku menganggap batik sebagai warisan leluhurku juga? Lagipula mereka kan juga keturunan dari tanah Jawa.”

Angga tersenyum kuda. Gigi-gigi putihnya berbaris rapih. Lesung pipitnya menyeruak dari tengah pipi kanan dan kiri.

“Kau benar, Kelani. Aku setuju denganmu. Memang yang pantas disalahkan adalah opah dari opah-opahmu dan atuk dari atuk-atukmu itu.”

“Ha? Memangnya apa yang salah mereka hingga harus disalahkan?”

“Tentu saja mereka salah. Sebab telah meninggalkan negerinya hingga cucu dari cucu-cucunya saat ini tengah marah kepada seorang pemuda yang tak berdosa.”

“Hehehe, maaf..  Tapi sungguh aku tidak marah padamu.”

“Lalu yang kemarin itu kau anggap apa?” tanya Angga sambil memicingkan sebelah matanya.

“Hanya sebal.”

“Sekarang masih sebal?”

Kelani menggeleng pelan seraya tersipu.

“Yakin?”

“Heem.”  ujar Kelani sambil menyilakan rambutnya ke belakang daun telinga.

Hening melanda keduanya.

Kelani memandang Angga. “Sekarang apa?”

“Apanya yang apa?”

“Apa kau sudah memaafkanku?” tanya Kelani dengan raut muka ragu.

Angga membuang nafas perlahan. Seperti seorang yang sedang mengambil ancang-ancang panjang. Kemudian pemuda itu berkata, “Apakah aku harus memaafkan seseorang yang telah meninggalkanku sendiri tanpa permisi. Kemudian membuat malamku dihantui perasaan penuh penyesalan. Menolak panggilan dan tidak membalas semua pesanku hingga malam ini aku harus rela tubuhku basah kehujanan demi meminta maaf atas kesalahan yang tidak kuperbuat?”

Rasa sesal merasuki perasaan Kelani. Tidak seharusnya ia bersikap egois seperti itu.

“ Terlebih lagi ia telah tega membiarkanku berdiri hampir tiga puluh menit tanpa disuguhi apapun.” tambah Angga.

“Astagfirullah.”

Kelani segera masuk ke dalam rumah, tepatnya di ruang tamu. Ia segera menggendong seekor kucing berwarna abu-abu muda yang hendak meloncati vas bunga keramik besar. Angga hanya bisa melihatnya dari teras depan. Kelani kemudian berjalan kembali untuk menemui pemuda yang bertamu di rumahnya itu.

“Katty jangan suka loncat-loncat di dekat tembikar, nanti bisa pecah! Kau mau dimarahi Opah?” omel Kelani sambil mengelus kepala kucing persianya.

Tadi kau cakap apa?” tanya Kelani dengan muka polos tanpa merasa berdosa.
Detik itu juga Angga ingin sekali mengacak-acak rambut rapih Kelani. Gemas.
Angga menggaruk hidung mancungnya yang tidak gatal dua kali.

“Aku tadi bilang apakah aku harus memaafkan seseorang yang telah meninggalkanku sendiri tanpa permisi. Kemudian membuat malamku dihantui perasaan penuh penyesalan. Menolak panggilan dan tidak membalas semua pesanku hingga malam ini aku harus rela tubuhku basah kehujanan demi meminta maaf atas kesalahan yang tidak kuperbuat? Terlebih lagi ia telah tega membiarkanku berdiri hampir tiga puluh menit tanpa disuguhi apapun.” ulang Angga.

Melihat wajah Angga yang memelas saat itu membuat Kelani tersadar, “Astagfirullah… maafkan aku, Angga. Aku tidak sadar. Ayo duduk.” Kata Kelani sembari mempersilahkan Angga duduk di kursi kayu yang terletak di depan teras rumah.

“Tidak usah repot-repot.” tolak pemuda itu dengan halus.

“Ayo duduklah, kau pasti lelah. Sebentar ya aku buatkan minum. Sekali lagi maaf.” ujar Kelani.

“Tidaklah, kalau aku duduk nanti kursinya basah.”

Kelani menyernyitkan dahinya tanda tak mengerti.

“Kasihan kursinya nanti bisa masuk angin. Lagipula kau juga yang akan kerepotan nantinya.”

“Kenapa bisa begitu?”

“Karena obat tolak angin hanya ada untuk manusia. Kalau buat kursi belum ada hehehe….” Angga tersenyum jail.

Kali ini Kelani tidak bisa menyembunyikan rasa geli yang menyerang perutnya secara tiba-tiba. Dada bidang Anggapun menjadi sasarannya. Sedangkan Anggga hanya bisa pasrah menerimanya, toh pukulan Kelani berpengaruh apa-apa bagi raganya. Tetapi lebih dari cukup membuat hatinya berdebar cepat seperti pacuan kuda.

Bersama rintik hujan yang mulai menghilang Angga mengatakan, “Sudah larut malam, apa kata orang nanti kalau pemuda tampan ini berduaan dengan perempuannya hingga larut malam seperti ini.”

“Tapi kita kan tidak berduaan. Ada Katty di sini.” elak kelani.

“Iya-iya kau benar kali ini.” ujar Angga pasrah. Kantung matanya mulai terasa berat.

“Jadi selama ini aku nggak benar gitu?”

“Bukan begitu, Kelani. Tapii…”

“Tunggu-tunggu. Tadi kau bilang aku apa? Perempuannya?” tanya Kelani.

Angga hanya bisa tersenyum kuda. Pemuda itu tidak tahu harus memberi respon seperti apa. Ia takut kalau-kalau salah lagi dan munculah perdebatan kedua. Terlebih lagi Udin hanya mengajarkan tips dan trik jitu gombalnya sampai di situ.

“Intinya aku sudah minta maaf dan kaupun sudah minta maaf juga. Jadi kita impas ya. Satu sama oke!” kata Angga seraya membentuk ibu jari dan jari telunjuknya menjadi huruf O kemudian menyodorkannya ke arah Kelani.

“Lalu siapa yang salah?”
“Tidak ada yang salah, yang ada hanya kurang benar. Hehehehe… selamat malam.” pungkas Angga kemudian menjitak kepala Kelani dengan lembut, lebih tepatnya dengan sangat-sangat lembut. Kelani sendiri hampir tak bisa merasakan jitakan Angga.

Bahkan pemuda itu tidak menyadari lagi perbedaan dalam dirinya. Angga tidak lagi merasa malu-malu seperti hari-hari sebelumnya saat bersama Kelani.

Dalam keriuhan angin malam, perasaan Kelani dan Angga tak kalah riuhnya. Hari ini, pemuda berbuff dan berjaket biru dongker itu belajar akan suatu hal tentang kehidupan. Bahwa terkadang apa yang kita lihat sebagai suatu hal yang sederhana adalah sesuatu yang sangat berharga. Sesederhana batik bagi Indonesia, sesederhana kehadiran Kelani bagi hidup Angga.

-THE END-
*Ngga terasa ya Angga dan Kelani sudah menemani malam minggu kalian hingga ke tiga kalinya. Sekarang saatnya berpamitan :)
Jangan lupa komen yang membangun dan share yaa, biarkan orang lain bisa menikmati cerita absudku yang satu ini hehe✨ oh iya aku juga mau tau dong pengalaman kalian selama membaca cerita ini gimana sii? Baperkah? B aja kah? Atau justru ceritanya mirip-mirip sama cerita hidup kalian?
Fyi : setelah cerpen berlanjut aka cerbung ini selesai aku belum kepikiran lagi mau buat puisi, cerpen ataupun karya yang lainnya :")
Haruskah ku cerita tentang Angga dan Kelani lagi? Yang setujuu silahkan komen di bawah yaww  ku tunggu kabar baiknya :)
Sayonaraaa...
Sampai jumpa di post selanjutnya ✨

Tidak ada komentar:

@andayanirhani