Opini : Arah dan Sejarah - Andayani Rhani

Minggu, 28 April 2019

Opini : Arah dan Sejarah

Bagi setiap orang yang pernah hidup di dunia tentu tak akan pernah bisa terlepas dari sebuah kata yang berhubungan dengan masalalu, sejarah. Setiap benda, tempat, bahkan waktu sekalipun memiliki sejarahnya masing-masing.




Namun tak dapat kita pungkiri bahwa apa-apa yang telah Tuhan ciptakan di dunia ini telah ia sempurnakan dengan pasangannya masing-masing. Seperti adanya baik-buruk, seorang kamu-aku, yin dan yang, malam dan siang, ada pula cinta dan benci. Begitupun dengan sejarah. Ada yang mencintainya dan ada pula yang membencinya. Semua orang memiliki hak masing-masing untuk memilih opsi mana yang akan ia pilih.

Di balik opsi itu. Ada tanda tanya besar dalam hidup saya. Sebab, bagaimana mungkin seseorang bisa membenci sejarah. Bukankah ia juga akan menjadi bagian dari sejarah itu sendiri? atau jangan-jangan ia memang sengaja membenci dirinya sendiri dan berkilah dibalik kata sejarah? Saya tak tahu pasti. Tetapi yang jelas dalam tulisan yang tak seberapa ini, saya akan menuliskan pendapat-pendapat orang di sekitar saya tentang sebuah kata yang penuh makna itu.

“Sejarah itu menyebalkan.”

Kata seorang teman yang -hampir selalu- tidur saat pelajaran bu Magfiroh –guru IPS Sekolah Dasar-. Baginya, sejarah hanyalah sebuah cerita pengantar tidur. Tak penting untuk diingat apalagi untuk dipelajari. Dan yang saya tahu hingga saat ini kelihatannya ia sangat-sangat membenci, mungkin lebih tepatnya tidak menyukai sejarah. Hal ini juga tercermin jelas dalam sejarah yang sederhana dalam hidupnya. Ah ya saya masih ingat betul tentang sikapnya yang begitu acuh dan sangat mudah melupakan seseorang yang pernah mengisi hari-harinya selama lebih dari enam tahun. Bukan waktu yang singkat. Bahkan dalam kurun waktu itu cukup untuk membuat seorang anak manusia bisa lancar membaca.

“Sejarah hanya untuk orang yang nggak bisa move on.”

Pendapat apa-apaan ini, batin saya. Saya menolak dengan tegas. Hal itu tak sepenuhnya benar. Nyatanya sampai saat ini saya sudah bisa move on, dan yang pasti saya mencintai sejarah. Tapi jika dilihat dari kepribadian-nya –yang menyatakan pendapat tersebut-. Saya fikir itu hanyalah alibinya sendiri karena masalalunya terlalu buruk untuk diingat atau mungkin terlalu indah hingga mampu membuat hatinya tersayat. Tetapi apapun itu, doa-doa terbaikku tetap akan aku kirimkan untuk seorang teman itu.

Pendapat yang ketiga, “Untuk apa repot-repot belajar sejarah di masalalu jika akhirnya kau sendiri tak tahu bagaimana masa depanmu.”

“Lalu apa bedanya dengan Tuhan yang menciptakan peradaban manusia bila akhirnya, toh Ia akan memusnahkannya juga?” balas saya.

Si pelempar pendapat itu terdiam, membisu. Semua hal yang terjadi di muka bumi ini tentu memiliki alasannya masing-masing. Termasuk berbagai rangkaian peristiwa sejarah yang terjadi di masalalu. Jika sejarah menurutmu tak  -PENTING- dan tak berhubungan untuk menentukan masa depan, mengapa kau tidak menjadikan sejarah sebagai arah untukmu melangkah memilih jalan di masa depan? Namun suatu saat saya dapat memaklumi pendapatnya. Ternyata oh ternyata, ia bukan orang yang suka membaca dan menerima pendapat orang lain dengan terbuka. Maklum, golongan spesies lama.

“Sejarah itu membosankan.”

“Ah kamu bohong ya? Buktinya saya nggak bosan tuh. Justru sudah terlanjur nyaman.". Tetapi untuk seseorang yang mager-an dan lebih suka hal yang menantang, mempelajari sejarah memang tak semengasyikan menaklukan beribu-ribu meter ketinggian bumi yang menjulang tinggi.

Dari beberapa pendapat yang pernah hadir dan yang masih saya ingat sampai saat ini itu dapat saya simpulkan bahwa mereka tidak menyukai sejarah karena dua faktor. Faktor dari dalam diri dan luar.

Faktor dalam diri. Mereka tidak menyukai sejarah karena sebenarnya memang tidak ada minat dan ketertarikan dalam diri mereka kepada sejarah. Tetapi bukankah ada pepatah yang mengatakan ”Witing tresno jalaran saka kulino.” Asalnya cinta karena telah terbiasa. Sejauh ini, apa yang saya dan mereka jalani memang bersebrangan, namun bisa diungkapkan dengan pribahasa tersebut. Saya suka sejarah karena memang sudah terbiasa, sedangkan mereka mungkin sebaliknya.

Sedangkan faktor luarnya adalah karena tidak adanya suatu hal yang mampu menarik dan mendukung mereka untuk menyukai sejarah.

Saya sendiri merasa bersyukur. Sejauh ini memang saya selalu dikelilingi oleh orang-orang yang selalu mampu menarik dan mendukung saya untuk menyukai sejarah. Mulai dari orang tua yang telah memperkenalkan saya dengan cerita-cerita dongeng sedari kecil, sobat-sobat di sekiar yang telah sudi mendengarkan ocehan cerita khayal saya yang kadang kelewat tak bermutu, bu Magfiroh yang selalu bercerita dan memberikan kesempatan tanya-jawab setiap kali pelajaran sejarah ada, bu Asih –guru IPS sekolah menengah pertamaku- yang selalu membius saya dengan cerita pengalaman hidupnya, dan juga bu Milla yang selalu memberi saya cerita motivasi hidup di masa pencarian jati diri ini.

Kenyatannya kedua faktor yang saya simpulkan itu sangatlah berhubungan satu sama lain. Andaikan sebuah gen, kedua faktor tersebut adalah alelnya. Faktor dalam tanpa faktor luar adalah mustahil. Begitu pula sebaliknya.

Bilapun seseorang memiliki minat yang kuat untuk mempelajari sejarah namun faktor luarnya tidak mendukung maka minatnya ini tak dapat ia salurkan. Dan apabila banyak faktor luar yang mendukung pada seseorang namun tidak diimbangi dengan faktor dalam –kemauannya dalam mempelajari sejarah- maka sama saja hasilnya. Sia-sia.

Oleh karena itu, peran kita –masing-masing individu- dalam menyeimbangkan keberadaan faktor luar maupun dalam terhadap sejarah sangat dibutuhkan. Dengan adanya sejarah, seharusnya umat manusia juga lebih menghargai waktu dan semua yang pernah terjadi di masalalu. Kemudian mengelompokan pada apa-apa yang lebih pantas untuk diingat kembali sebagai refleki diri ataupun motivasi untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Sebab sejarah, tak melulu soal melupakan.

Terimakasih telah membaca opiniku kali ini. Sampai jumpa di postingan selanjutnya ^.^

Best Regards,

Tidak ada komentar:

@andayanirhani