Nglambor : Surga Tersembunyi di Yogyakarta - Andayani Rhani

Rabu, 01 Mei 2019

Nglambor : Surga Tersembunyi di Yogyakarta


Rutinitas yang padat setiap hari memang menjadi beban tersendiri bagi setiap manusia. Oleh karena itu, tak dapat dielakkan jika setiap orang membutuhkan waktu untuk memanjakan diri  dan fikirannya sejenak dari hiruk-piruk pekerjaan dengan bersantai bersama keluarga ataupun berkunjung ke salah satu tempat wisata.

Dan pada kesempatan pertama khususnya edisi traveling kali ini saya akan menuliskan pengalaman saya saat berkunjung ke salah satu wisata pantai yang ada di kota Gudeg dua tahun lalu. Pantai yang masih asri ini bernama pantai Nglambor, lokasinya berada di Kelurahan Purwodadi, Kecamatan Tepus, Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta persis di sebelah barat Pantai Siung dan sebelah timur Pantai Jogan.




Oh ya sebelumnya, saya berkunjung ke tempat ini bersama teman-teman saya yang berjumlah 6 orang. 4 orang perempuan termasuk saya dan 2 orang laki-laki. Saat itu kami berkunjung ke Jogja dalam rangka mengisi waktu liburan semester ganjil di kelas X SMA. Kami berangkat dari Kendal sekitar jam 9 malam dan tiba di Kota Yogyakarta tepatnya di pusat oleh-oleh terkenal, Malioboro, sekitar jam 1 malam.
Di Malioboro, awalnya kita berniat untuk mengisi perut kami yang lapar. Namun sangat disayangkan, sudah banyak tempat makan yang tutup malam itu hingga kami sempat diusir beberapa kali karena makanannya udah pada habis😢

Setelah itu, kami pun ngemper di jalanan. Namun kami tak berkecil hati. Di malam yang cukup dingin itu kami habiskan dengan bersantai dan mengabadikan momen bersama di jalanan Malioboro yang sepi. Beruntung, tak butuh waktu lama kami menemukan tempat makan yang baru buka di pagi buta itu.

Setelah berhasil mengisi perut yang kosong. Kamipun bergegas menuju ke destinasi wisata pertama kita, Pantai Nglambor. Nama pantai yang sangat asing di telinga saat pertama kali saya mendengarnya. Dan ternyata untuk menuju wisata ini kita memerlukan waktu lebih dari 2 jam dari wisata terkenal Malioboro. Akses lokasinya sedikit sulit. Bahkan kami harus turun bergantian untuk  bertanya kepada warga sekitar demi memastikan lokasi.


Sesampainya di lokasi pantai ini, kami juga tidak langsung disuguhi oleh desiran angin pantai yang syahdu ataupun ombak pantai yang berderu. Untuk melihat keindahan pantai yang asri ini kami harus kembali berjuang dengan berjalan kaki kurang lebih 1 kilometer dari tempat parkir mobil. Karena memang kendaraan roda empat tidak diperbolehkan masuk lebih jauh dari tempat parkir itu. Eits, buat kamu yang nggak mau capek-capek jalan bisa kok menggunakan jasa ojek yang disediakan penduduk sekitar. 

Karena kami adalah pemuda pemudi yang pemberani kami lebih milih jalan kaki (padahal emang niat buat hemat  aja wkwk). Oh iya, sebelum berjalan menuju pantai, kami  melaksanakan shalat subuh terlebih dahulu di mushola kecil.

Setelah berlelah-lelah menyusuri jarak yang panjang dan menanjak, akhirnya sekitar jam lima pagi kami disambut oleh suara ombak yang menggebu dan pemandangan pantai pasir putih yang indah. Pantai yang belum ramai oleh pengunjung ini memiliki pesona yang sangat menarik. Airnya berwarna hijau alami dengan bebatuan besar yang menjulang tinggi di bagian sebelah kiri. Untuk menikmati keindahan biota laut dan terumbu karang yang masih alami kalian bisa menyewa perlengkapan snorkeling yang dikelola oleh penduduk setempat dengan harga 75.000 rupiah saja (untuk biaya saat ini mungkin bisa lebih). Harga itu sudah termasuk penyewaan kamera Go Pro untuk dokumentasi dan makanan untuk ikan. Dan untuk kalian yang nggak bisa renang juga nggak perlu khawatir, karena pantai ini tidak memiliki kedalaman yang cukup berarti. Lagipula kalian akan dijaga oleh pemandu selama snorkeling.
Kebetulan kami menjadi wisatawan pertama hari itu. Jadi kami bisa menikmati pantai sepuasnya dan seluas-luasnya tanpa harus takut menggangu aktivitas pengunjung lain, rasanya seperti memiliki pantai pribadi hahaha... Kami bebas megeksplore dan berlama-lama sesuka hati.

Matahari beranjak naik, tanpa terasa pantai sudah di penuhi oleh wisatawan yang baru datang. Merasa cukup dengan acara snorkeling pagi ini, kami bergegas berkemas dan menuju kamar bilas. Saat itu, kamar bilas di wisata pantai itu tidak cukup layak. Pencahayaan yang minim dan pintu kayu yang sudah lapuk membuat aku sebagai pengunjung merasa was-was selama bilas. Lantai kamar bilas pun terasa sangat licin karena ditumbuhi lumut.

Namun untuk pengalaman jalan-jalan kali ini tetap menjadi bagian perjalanan yang tak terlupakan. Perjuangan berjalan berkilo-kilo meter terbayar kontan dengan sambutan ombak, angin, dan biota laut yang indah. 

Sekian tulisanku kali ini, semoga bisa menginspirasi kalian ya ^.^ Sampai jumpa di postingan selanjutnya!

Best Regards,


Tidak ada komentar:

@andayanirhani