SEDERHANA : (2) Dilatasi Waktu - Andayani Rhani

Sabtu, 02 Februari 2019

SEDERHANA : (2) Dilatasi Waktu

Tanpa Angga sadari hari itu adalah awal dari hidupnya yang baru. Etah mengapa, perlahan namun pasti kehadiran Kelani membuat harinya terasa berbeda. Hari demi hari berlalu. Seperti hari-hari sebelumnya, Angga akan menghabiskan akhir harinya seusai sekolah berdua bersama Kelani. Bukan tanpa alasan. Alasan keduanya bersama adalah untuk latihan pementasan unjuk bakat duta yang akan dilaksanakan tiga hari lagi.

Motor besar Angga terhenti di depan sebuah sanggar tari. Kelani bergegas turun dari motor kemudian berjalan lebih dulu ke dalam sanggar seperti biasanya untuk berganti pakaian. Kemudian di susul Angga.

Latihan kali ini berjalan seperti biasa. Tari yang dibawakan Angga sudah memiliki ketegasan gerak dan tidak seburuk pada awalnya. Bahkan pemuda itu mampu menghafal gerakan-gerakan tari yang diarahkan Kelani dengan cepat. Untuk pertama kalinya, Kelani merasa kagum pada pemuda yang saat ini tengah menari bersamanya.
Pandangan yang saling bertemu, gerakan yang mengisi satu sama lain, tubuh tertaut, nada dan irama seolah menjadi saksinya.

Perlahan namun pasti, Kelani mulai hafal bentuk dan struktur wajah pemuda  yang kini berada di hadapannya. Alis tebal yang menaungi sepasang yang tajam, manik mata coklat muda, hidung elang bagai pasukan romawi, bibir tebal dengan kumis tipis di atasnya. Semua terefleksi di mata hitam seorang Kelani.

Hanya butuh waktu beberapa tatap untuk menjadi dekat. Denganmu detik tidak lagi berarti, waktu seakan terhenti. Saat aku memandangmu, saat bersamamu. Dilatasi waktu.

“Latihannya cukup ya untuk hari ini.” kata Kelani, meski sebenarnya batinnya berkata berbeda.

“Kostumnya bagaimana?” tanya Angga mengingatkan.

Waktu menjelang adzan magrib itu mereka habiskan untuk berdiskusi tentang pakaian yang akan mereka gunakan. Hingga pada akhirnya malapetaka yang tak terduga itu tiba. Angga harap situasi yang baru saja terjadi antara dirinya dan Kelani saat ini hanyalah mimpi buruk. Kemudian ia bisa terbangun kembali dan menemui Kelani dengan senyum yang berseri.

Di atas kendaraanya Angga menatap raga Kelani yang mulai menjauh. Hatinya dipenuhi tanda tanya yang semakin membesar setiap detiknya. Pemuda berkumis tipis itu ingin sekali menarik pernyataanya. Namun apalah hendak dikata. Ibarat nasi sudah menjadi bubur. Semua ucapan Angga telah membuat hati gadis manis itu hancur.

Di dalam lubuk hati yang terdalam sungguh Angga tidak pernah ingin menyakiti hati perempuan manapun, apalagi seorang Kelani yang diam-diam telah membuat harinya penuh warna layaknya pelangi. Angga hanya ingin menjelaskan fakta yang sebenarnya ada. Bahkan UNESCO pun berpihak padanya. Tetapi Kelani?

“Ah, gadis itu terlalu sensitif hari ini hingga terbawa emosi dan berujung sensi. Apa mungkin ia sedang menstruasi?” tanya Angga dalam hati.

Hanya karena mempertahankan status sebuah kain ia harus berdebat dengan seseorang yang diam-diam telah memiliki ruang tersendiri dalam hatinya.

“Tidak. Bukan seperti itu Kelani. Semua yang kau dengar sedari kecil itu adalah cerita dongeng. Bagaimana mungkin batik itu adalah warisan leluhurmu? Asal kau tahu, hampir seluruh kerajaan yang ada di Nusantara dulu selalu memakai kain batik sebagai jarik atau kain penutup untuk menutupi kaki mereka. Dari kalangan bangsawan hingga rakyat biasapun memakainya. Dan hampir semua orang di dunia juga tahu kalau batik itu milik Indonesia. Bahkan UNESCO pun sudah mengakuinya, Kelani.”

Hei, asal kau tau je. Opah dan atuk-atukku juga selalu pakai kain batik tau! jadi jangan salahkan aku jika menganggap batik adalah warisan leluhurku. Ooo mungkin kau lupa, Malaysia juga dulu bagian dari Nusantara, tau. Jadi, mungkin saja batik itu berasal dari nenek moyangku-kan?”

“Tapi Kelani, setiap batik juga memiliki filosofinya masing-masing. Apa kau tau filosofi itu?”

Kelani diam seribu bahasa saat itu juga. 

“Terserah apa katamu, yang jelas batik itu warisan leluhurku. Titik.” pungkas gadis itu sebelum meninggalkan Angga sendiri.

ilustrasi Angga - Source : Pinterest 


Kalimat perdebatan terakhir mereka selalu menghantui  fikiran Angga setiap malam. Ibarat roh, permasalahan ini seperti orang yang menjadi korban tabrak lari hingga mati dan berujung menjadi arwah penasaran. Situasi ini seolah-olah menjadikan Angga sebagai pelaku tabrak larinya, ia juga sangat merasa bersalah. 

Tapi bagi Kelani, apakah ia pantas dianggap sebagai korban? Bukankah Angga yang menjadi korban sebab warisan leluhurnya dicap menjadi milik negara lain? Andai saja ia bukan keturunan langsung dari leluhur pulau Jawa tentu ia tidak akan mempermasalahkan hal sepele ini.

Sudah lebih dari empat puluh delapan jam Angga tidak bertatap muka dengan Kelani. Rasanya seperti ada kabut tebal yang menutup pelangi di hari-harinya. Saat ini, perlahan namun pasti. Angga mulai mengetahui bagaimana rasanya yang diciptakan oleh sebuah kata, rindu.

“Semua ini harus diakhiri.” tekad Angga.

*to be continued 
Jangan lupa comment dan share ✨
Selamat bertemu di Sabtu malam minggu depan

Tidak ada komentar:

@andayanirhani