Sebuah Arti - Andayani Rhani

Rabu, 02 Januari 2019

Sebuah Arti



Taman Bunga Celoasia (22/12)



 Masa remaja memang menjadi masa yang sangat berpengaruh dalam kehidupan seseorang. Banyak orang yang mengartikan masa remaja sebagai masa dimana seseorang menemukan jati dirinya. Aku sangat setuju dengan opini ini. Ya, memang harus diakui bahwa di masa remaja banyak hal baru yang hadir dalam kehidupan kita. Tantangan demi tantangan, masalah demi masalah yang hampir menghampiri setiap hari dari segala sisi hingga berbagai realita kehidupan yang tak selaras dengan ekspektasi karena terlalu tinggi. Sedih dan bahagia seolah menjadi dua sisi mata koin yang selalu berdampingan.

Aku merasa malu, sangat. Mengingat isi konten beberapa waktu yang lalu yang pernah aku tulis. Penuh dengan ke-bucin-an. Tak ada yang bermanfaat, tak berguna, tak ada isinya. Jika diandaikan sebuah benda, hanya akan seperti debu yang mengotori barang-barang berharga. Namun dibalik rasa malu itu, aku selalu mengingat bahwa pernah ada segurat senyum atau air mata yang menjadi teman setiaku saat aku menuliskan semua itu.

Tapi untuk saat ini aku bersyukur, semua itu tak berlanjut. Tuhan lebih tau apa yang terbaik untukku dan aku menyakini itu. Meski rasa ragu bisa saja tiba-tiba menghampiri setiap waktu. Sebuah hadits Kudsi selalu berhasil menenangkan jiwaku,

“Wahai anak adam, Aku telah ciptakan engkau untuk beribadah maka janganlah engkau main-main. Dan Aku tentukan rezekimu maka tidak perlu kamu lelah. Demi kemuliaanKu dan keagunganKu jika engkau ridho terhadap pemberianku maka Aku akan tenangkan jiwa dan ragamu dan engkau akan mulia di sisiKu, Tapi jika engkau tidak ridho dengan pemberianKu maka Aku akan mengejar dunia seperti hewan  buas yang sedang mengejar mangsanya di padang pasir. Kemudian tidak akan datang kepadamu kecuali yang sudah Aku takdirkan.”

Dalam hadits itu juga tertulis dengan jelas alasan Tuhan menciptakan kita. Hadits tersebut juga sekaligus menjadi jawaban atas pertanyaanku selama ini, pertanyaan tentang tujuan manusia dan seorang aku diciptakan.

Aku adalah orang yang cinderung memikirkan dan merasakan sesuatu  dengan perasaan dibandingkan dengan logika. Dan hal itulah yang menjadi mayoritas  masalahku, dulu. Kurangnya rasa syukur hingga berulang kali tersungkur, ekspektasi yang terlalu tinggi tanpa pernah mencoba berusaha sama sekali, terlalu bergantung dan berharap pada manusia dan sisi overthinking yang hampir membuatku sinting wkwkwk. Tapi sekarang Alhamdulillah, tidak lagi. Dalam menghadapi masalah, hinaan atau celaan orang misalnya. Terkadang masabodoh memang diperlukan, namun jangan sampai berujung kebablasan hingga membuat diri kita menjadi pribadi yang acuh dan selalu merasa benar sendiri. Ada kalanya semua penilaian orang itu kita tampung satu-persatu untuk diresapi dalam diri dan menjadi cambuk motivasi agar menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Karena sebagai manusia, kita jauh dari kata sempurna.

Dulu, aku kerap merasa kesal dan muak setiap kali apa yang kudapatkan tak berbanding lurus dengan apa yang aku harapkan dan aku usahakan. Tapi sekarang? Aku mensyukuri semua itu. Tuhan memang penuh kejutan. Ia lebih memilih memberikan apa yang kita butuhkan dibanding apa yang kita inginkan.

Untuk saat ini arti hidup bagiku adalah bukan tentang mencari sebuah arti, melainkan menjadi bagian dari arti itu sendiri. Oleh karena itu, aku ingin menjadi seseorang yang lebih berati dan bermanfaat bagi orang lain. Meski hanya dengan melalui media tulisan. Aku harap Tuhan meridhai apa yang aku kerjakan. Dan mulai saat ini hingga seterusnya, sudah aku putuskan untuk membagikan beberapa bagian dari perjalanan hidup yang mungkin pernah atau sedang kalian rasakan. Selamat membaca, terimakasih sudah membaca tulisan pengantarku yang satu ini.

Welcome back to Diary Rhani ❤

Tidak ada komentar:

@andayanirhani