[Cerpen] : Sederhana - [Jourans] Journey of Rhans

Minggu, 27 Januari 2019

[Cerpen] : Sederhana

andayanirhani.com - Di ruangan kedap suara dengan dinding yang dikelilingi kaca seorang pemuda tenggelam dalam lamunannya. Raganya terduduk di salah satu sudut ruangan. Pandangannya menatap dalam-dalam raga seorang gadis yang tengah menggerakan tubuhnya mengikuti alunan dendang yang berasal dari sumber suara yang diletakkan di keempat sudut ruangan. Tanpa sadar, mata tajam pemuda itu mengikuti setiap gerakan gadis penari. Tatkala gadis itu berduyun ke kanan dan ke kiri, menggerakan tangan dan hentak kaki ke sana-ke mari dengan gerakan selaras. Detik demi detik terlewati, setelah beberapa menit musik menggema di seluruh penjuru ruangan. Musik pengiring itu akhirnya berhenti.

Tetesan peluh terlihat membasahi dahi dan kaos putih polos yang dipakai gadis penari. Dengan langkah anggun ia menghampiri si pemuda. Rambut hitam legam panjangnya ia kucir kuda. Kulit kuning langsat tanpa ada satupun goresan make up yang menempel di wajahnya menggambarkan kepribadiannya yang sangat sederhana bagi seorang remaja. Jauh berbeda dengan gadis remaja sebayanya.

“Apa kau sudah mempersiapkan bakatmu?” gadis berparas ayu itu menjatuhkan dirinya dan duduk di hadapan si pemuda.

“Belum” jawab si pemuda sambil memalingkan pandangannya.

“Kenapa?” tanya si gadis, kali ini sambil mengusap peluh yang ada di dahi dan wajahnya dengan handuk putih kecil yang bertengger di leher.

Pemuda itu memandang ke depan, sekilas. Hanya sepersekian detik, saat menyadari gadis di depannya juga memandangnya. Dan pandangan mereka tak sengaja bertemu pemuda itu buru-buru memalingkan wajahnya kemudian berujar “Aku saja tidak tau apa bakatku.” katanya apa adanya seraya berusaha menutupi rasa gugup dalam dirinya.

Empat belas hari terasa sangat cepat berlalu. Bagai kerjapan roket yang meninggalkan bumi. Dalam batinnya pemuda itu merasa sanksi. Rasa kesal menyeruak dari dalam sanubari. Ia sangat ingin mengutuk teman-temannya yang telah lancang menyantumkan namanya dalam kontes duta tahunan sekolah ini. Tanpa sepengetahuan dirinya dan tanpa negosiasi, musyawarah ataupun aklamasi dulu sebelumya. Dan mirisnya, ia selalu lolos tes hingga menjadi finalis di babak final ini.

Setiap jam, menit, hingga detik hampir seluruhnya ia gunakan untuk memikirkan bakat apa yang sebenarnya ia miliki atau mungkin yang terpendam dalam dirinya selama ini. Namun satu yang pasti, pemikirannya nihil tanpa arti. Bukannya tidak mau mencoba, pemuda ini pun telah berusaha pada awalnya.

Saat pertama kali diberitakan lolos tes wawancara di semifinal. Seantero kelasnya riyuh tiada terkira. Hingga pada akhirnya diberitahukan kepada seluruh finalis untuk menampilkan bakat yang mereka miliki. Pemuda itu dilanda cemas tiada terkira. Bahkan ia sudah berniat untuk mengundurkan diri, namun teman-temannya menolak keras. Dengan iming-iming janji akan dibantu akhirnya pemuda itu –mau tidak mau- setuju. Lagipula ia tidak mau dianggap lagi sebagai pecundang yang dengan mudanya lari dari kenyataan.

Dan benar saja. Esoknya, semua teman-teman Angga menawarkan diri untuk membantunya. Mulai dari Franda si ratu drama, Udin si raja bucin, Mentari si penari hingga Esmeralda yang paling pandai membuat karya ilmiah remaja.

“Kamu mau nampilin bakat apa? Tinggal pilih aja, kita siap bantu kamu” tanya Ardha, ketua kelasnya.

Dengan muka polosnya pemuda itu mengangkat bahu dan berujar, “Nggak tau.”

Sontak seluruh anggota kelasnya -kecuali Nay si pendiam- mengeluh panjang karena geram. Teman-teman pria sekelasnyapun segera menghampiri tempat dimana pemuda itu duduk. Setelah melalui berbagai pertimbangan dan diskusi panjang yang alot akhirnya pemuda itu  menyerah. Ia memilih Yudha sebagai coach-nya.

Hari itu juga dirinya berlatih di rumah Yudha. Mereka tidak bedua. Udin, Marion, Zula, dan beberapa teman yang lainnya ikut menemani. Lebih tepatnya ikut mengacak-acak studio musik pribadi milik Yudha. Sebagai seorang manusia, remaja pria ini tergolong seseorang yang multitalenta dalam bidang musik. Terbukti dari usianya yang tak seberapa ia sudah mahir memainkan berbagai alat musik. Dari alat musik tradisional hingga modern yang berskala internasional. Semua ingin dibabat habis olehnya. Terlebih lagi fasilitas yang diberikan oleh orang tuanya membuat mimpinya terasa lebih mudah untuk dicapai.

Pemuda itu mengamati Yudha yang tengah menjelaskan kunci sederhana dari alat musik gitar. Namun saat dirinya mencoba, ternyata tak semudah apa yang dilihatnya. Sampai-sampai Yudha harus mengarahkan jari pemuda itu berkali-kali dan menempatkannya di  tempat yang tepat.

Alasan pemuda itu memilih Yudha dibanding teman-teman yang lainnya, tidak lain tidak bukan karena Yudhalah teman terdekatnya saat ini. Tentu saja mereka dekat, toh mereka adalah teman sebangku. Tapi bagi pemuda itu, bukan hal yang mudah untuk dekat ataupun percaya kepada orang lain. Sedari kecil, kepribadian introvert sudah mulai terlihat dari dalam dirinya.

Tepat tujuh hari ia telah belajar bersama Yudha. Namun semuanya tak kunjung menghasilkan apa-apa. Pemuda itu angkat tangan. Ia tidak tega bila harus merusakan alat musik milik Yudha lagi. Melihat senar gitar dan stik drum yang patah berkali-kali, keyboard yang eror hingga busur biola yang patah membuat pemuda itu tak sampai hati. Ia menyelipkan seamplop uang dalam sela-sela buku lirik sebelum pamit undur diri. Meski Yudha telah menasehatinya untuk tidak menyerah. Pemuda itu tidak bisa menepiskan rasa lelah.

Sejak saat itu. Ia hanya bisa merenung sendiri dan memikirkan bakat apa yang sebenarnya ia miliki.

Hari ke empat belas, namun takdir sepertinya belum puas membuat hidupnya terasa melas. Pemuda itu meruntuki dirinya sendiri.

“Dasar pemuda payah!” batinnya dalam hati.

Berbeda dari pemuda sebayanya, bahkan ia tak pernah menyukai kegiatan olah raga. Baginya kegiatan itu hanya pekerjaan yang sia-sia dan membuang tenaga sekaligus membuat raganya lelah dan pegal-pegal. Ia masih ingat betul bagaimana nasibnya saat berada di sekolah dasar, sesaat setelah mengikuti ujian olah raga lari kakinya terkilir dan tidak ada satupun temannya yang mau menolongnya. Akhirnya ia tak bisa berjalan selama seminggu lebih. Dan setiap kali teman-temannya bermain bola atau  permainan lainnya ia hanya bisa memandang jauh dari balik jendela. Bukan tanpa alasan,

“Memangnya siapa yang mau main sama anak cupu?” kalimat itu seperti sebuah belati yang telah diasah berkali-kali. Tajam dan menusuk hati.

“Hei, bagaimana jika kita menari saja? Kita bisa tampilkan bakat bersamakan?” pertanyaan gadis penari membuat pemuda itu tersadar dari lamunan masalalu.

“Kita?”

“Iya, aku dan kamu kita menari bersama.”

“Menari?” tanya si pemuda lagi. Ia tak yakin dengan tawaran yang baru saja dikatakan oleh gadis bernama Kelani yang telah berdiri di hadapannya kini.

“Maaf bila kau tak suka. Aku hanya berniat membantu. Saat melihat kau yang selalu putus asa setiap hari seperti ini, rasanya usahaku juga tak akan pernah berarti.”

“Benarkah?” kata  si pemuda lirih.

“Jika memang seperti itu aku minta maaf…” katanya sambil berdiri. Menyeka jarak yang ada pada keduanya sedari tadi.

“Kata maaf tidak akan mengubah apapun, Angga.” tutur Kelani dengan lembut. Ia mendongak melihat wajah Angga yang jauh lebih tinggi daripada dirinya.

“Lalu aku harus bagaimana?” tanya pemuda yang bernama Angga ini.

Ia benci situasi saat ini. Yang ia tahu, 

“Cara menyelesaikan masalah paling ampuh dengan makhluk bernama perempuan adalah meminta maaf dan mengalah, sekalipun kau tidak bersalah.” kata-kata ibundanya mengalun dalam sanubari.


Sejak kecil ia selalu ditanamkan teori-teori yang menjunjung tinggi dan menghormati seorang perempuan dari ibunda dan neneknya. Dan sudah saatnya kini teori-teori itu untuk dilaksanakan. Namun kali ini prediksinya meleset, ia tak mengerti apa yang diharapkan seorang perempuan aneh seperti Kelani ini. Perempuan memang selalu saja membingungkan.

“Jom kita berlatih!” Kelani menarik tangan Angga secara tiba-tiba dan membawanya hingga ke tengah ruangan.

Kini ada dua raga yang tengah menatap lurus pada cerminan diri mereka sendiri. Kelani melirik Angga dari ekor matanya. Terlukis jelas raut wajah bimbang dan keraguan seorang Angga.

“Percayalah kau pasti bisa. Bisa tercipta kerena terbiasa.” Kata gadis yang baru saja pindah ke sekolahnya itu sebelum meninggalkan Angga sendiri di tengah ruangan dengan senyuman penuh tanda tanya.

Kelani menghampiri Angga kembali setelah menyalakan musik pengiring. Dengan lembut dan penuh pengertian ia menjelaskan dan mengarahkan Angga satu persatu gerakan yang kemudian akan ditirukan oleh Angga. Awalnya sangat terasa berat dan sulit bagi Angga, namun lama kelamaan ia mulai terbiasa hingga merasa nyaman dengan gerakan yang diperagakan oleh Kelani atau mungkin ia yang mulai merasa nyaman dengan kehadiran Kelani?

Angga tak tahu pasti. Pemuda yang hidupnya serba lurus itu tak memiliki banyak pengetahuan tentang perasaan dan pengalaman di dunia percintaan, terlebih lagi kedekatan dengan seorang perempuan. Bisa dibilang Kelani ini adalah perempuan asing yang kali pertama  masuk ke dalam hidupnya.



Bagaimana jadinya jika dua pemilik kepribadiaan yang saling bersebrangan dipertemukan oleh keadaan? Mampukah pria polos seperti Angga menghadapi seorang hawa yang sangat keras kepala? Akankah Angga mampu melanjutkan perasaannya yang telah terlanjur atau justru berbalik arah dan kabur? Sederhana, sama seperti judulnya. Cerita ini akan membawamu mengenal makna dari rasa dengan cara yang berbeda dan istimewa. Untuk melanjutkan kisah dari cerpen ini kamu bisa mengaksesnya melalui wattpad atau klik teks ini

salam literasi,

Tidak ada komentar:

@andayanirhani